Banjirkanal Barat Terancam Sedimen

Setahun 1,5 Meter

SM/ Maulana M Fahmi  -  SEDIMEN LUMPUR : Sungai Banjirkanal Barat dipenuhi sedimen lumpur, Selasa (14/1). Untuk itu diperlukan pengerukan sedimen secara rutin . (22)
SM/ Maulana M Fahmi - SEDIMEN LUMPUR : Sungai Banjirkanal Barat dipenuhi sedimen lumpur, Selasa (14/1). Untuk itu diperlukan pengerukan sedimen secara rutin . (22)

SEMARANG - Sedimentasi di Banjirkanal Barat tinggi. Hal ini diakui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), BBWS Pemali-Juana, Dani Prasetyo.

Karenanya, pengerukan sungai yang selesai dinormalisasi pada 2013 lalu, terus dilakukan tiap tahun agar tak terjadi pendangkalan. Menurutnya, dalam rangka memelihara sungai, idealnya dilakukan pengerukan setiap 1 tahun sekali.

Adapun endapan tanah di Banjirkanal Barat dalam satu tahun mencapai 1,5 meter. Endapan tanah tersebut juga terjadi di bendung karet, yang baru saja selesai dibangun pada akhir Desember 2019 lalu.

”Pengerukan endapan tanah di bendung karet masih menjadi tanggung jawab penyedia jasa, karena masih masa pemeliharaan. Jadi selama satu tahun, bendung karet masih ada masa pemeliharaan.

Terutama melakukan pengerukan endapan tanah. Sementara di luar area bendung karet, rencana juga akan dilakukan pengerukan,” imbuhnya.

Adapun bendung karet itu dibangun dengan anggaran sekitar Rp 148 miliar. Bandung karet itu panjangnya 150 meter dan tinggi 3 meter. Fungsinya untuk menahan air di Banjirkanal Barat hingga ketinggian tertentu.

Air yang tertahan itu bisa difungsikan sebagai sumber air di Air Mancur Menari di Jembatan Banjirkanal dan menjadikan Banjirkanal Barat sebagai destinasi wisata air.

Namun, kendala yang dihadapi, yakni sedimentasi yang tinggi. Butuh pengerukan secara rutin agar bendung itu bisa berfungsi dengan baik. Bendung itu berkembang untuk menahan air sungai dan menyusut untuk mengalirkannya, saat debit air sungai tinggi.

”Agar fungsi bendung karet berjalan baik, dilakukan pengerukan secara berkala. Harapannya, kedalam air bisa terjaga, dan bisa difungsikan dengan baik,” imbuh Dani.

Penataan

Sementara itu, Pakar Hidrologi Undip, Dr Ir Nelwan Kusnomo Dipl HE menyampaikan, pemerintah jangan hanya fokus pada normalisasi sungai.

Namun juga memperhatikan penataan di daerah tangkap hujan atau penyangga. Alih fungsi lahan yang tidak diperhitungkan dengan baik menyebabkan tanah ikut aliran air ke sungai saat musim hujan.

Lahan di perbukitan yang dulu merupakan hutan, kini berubah menjadi perumahan dan kawasan industri. Pembangunan jalan tol juga berkontribusi dalam alih fungsi lahan.

Pohon-pohon yang dulu bisa menahan air dan tanah, kini sudah banyak berkurang. Hal itu menyebabkan terjadinya erosi yang akhirnya masuk ke sungai.

”Aliran air di Banjirkanal Barat seperti kopi susu. Begitu juga dengan Banjirkanal Timur. Airnya punya kandungan lumpur yang tinggi. Sebaiknya pemerintah perlu mengecek kandungan lumpur di sana. Jangan lebih dari ketentuan, yakni 1.000 ppm.

Saya rasa, saat ini sudah melebihi,” imbuh Nelwan. Ke depan, pemerintah perlu menyiapkan strategi manajemen erosi. Tujuannya, agar tidak banyak sedimen yang masuk ke sungai dan membuat anggaran perawan membengkak.

Hal itu di antaranya bisa dengan membuat terasering dan memperbanyak tumbuhan di daerah hulu. Di Tembalang misalnya, kecepatan air di jalan dan permukiman warga saat hujan tak terkendali.

Dirinya memperkirakan bisa mencapai 10 kilometer/jam. Kecepatan air yang tinggi ini bisa mengikis tanah dan menyebabkan erosi. Sedimen itu pun lari ke sungai. ”Percepatan pembangunan itu baik.

Namun juga harus memperhatikan lingkungan. Pemerintah perlu memberikan sanksi tegas kepada para pengembang perumahan yang tidak menyediakan ruang terbuka. Ini penting sebagai daerah resapan air,” imbuhnya. (kas,K18-22)


Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar