• KANAL BERITA

Sugiyono, Penulis Buku Metode Penelitian Terlaris

Dua Kali Raih Rekor Muri

SM/Royce Wijaya SP - PENGHARGAAN MURI:Guru Besar UNY, Sugiyono (kiri) menerima penghargaan dari Senior Manager MURI, Sri Widayati (dua dari kiri) dan disaksikan Wakil Rektor I UPGRIS Sri Suciati di aula gedung Pascasarjana UPGRIS, Senin (13/1).(24)
SM/Royce Wijaya SP - PENGHARGAAN MURI:Guru Besar UNY, Sugiyono (kiri) menerima penghargaan dari Senior Manager MURI, Sri Widayati (dua dari kiri) dan disaksikan Wakil Rektor I UPGRIS Sri Suciati di aula gedung Pascasarjana UPGRIS, Senin (13/1).(24)

Sudah 16 buku metodologi penelitian karya Prof Dr Sugiyono MPd yang menghiasi toko buku di Indonesia. Buku itu kerap menjadi referensi mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 yang sedang melakukan penelitian tugas akhir. Delapan bukunya pun masuk menjadi best seller. Termasuk, salah satu buku yang terjual hingga 4 juta eksemplar.

SATU prestasi lagi diraih Sugiyono (77), Guru Besar Jurusan Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Saat mengisi kuliah umum di lantai lima Gedung Pascasarjana, Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Senin (13/1), dia dianugrahi penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). Ya, Sugiyono dinobatkan jadi penulis buku best sellerMetodologi Penelitian terbanyak.

Penghargaan itu diberikan Senior Manager Muri Sri Widayati. Delapan buku itu adalah Metode Penelitian Kualitatif, Metode Penelitian Kombinasi, Metode Penelitian Administrasi, Metode Penelitian Bisnis, Metode Penelitian Manajemen, Metode Penelitian Pendidikan, Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif dan R&D, serta Statistic Untuk Penelitian. Penghargaan Muri ini kali kedua dia terima.

Sebelumnya pada 2018 lalu, profesor kelahiran Klaten, 14 Desember 1953 itu meraih penghargaan Muri kategori Penulis Buku Metodologi Penelitian terbanyak. Total, ada 16 buku tentang metodologi penelitian yang di antaranya best seller.

''Profesor Sugiyono sebelumnya merupakan pencatat rekor Muri sebagai penulis Metodologi Penelitian terbanyak, 16 buku. Kali ini penghargaan Muri diberikan karena delapan buku di antaranya menjadi best seller, bahkan ada yang sampai terjual 4 juta eksemplar,'' ungkap Sri Widayati.

Muri mencatat Sugiyono sebagai pencetak rekor ke 9.401. Keberhasilan Sugiyono mencatat rekor Muri diharapkan mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi masyarakat Indonesia agar rajin menulis.

Kuliah umum profesor itu dibuka Wakil Rektor I UPGRIS Dr Sri Suciati MHum dengan moderator Dr Ngasbun Egar yang juga Direktur Program Pascasarjana UPGRIS. Peserta kuliah umum selain dari UPGRIS, juga datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Unnes, UNY Yogyakarta, Universitas Brawijaya Malang, IAIN Kudus, serta universitas di Palembang dan Banten.

Sri Suciati pun menegaskan, hampir seluruh buku Metodologi Penelitian karya Sugiyono jadi referensi bagi mahasiswa S-1, S-2, dan S-3, baik di Indonesia maupun luar negeri. Sugiyono diibaratkan Rene Wellek dan Austin Warren yang menulis buku Teori Kesusastraan.

Pihaknya mengakui, mahasiswanya beruntung bisa bertemu langsung dengan penulis buku sumber referensi penelitian itu. Ilmu yang diberikan diharapkan bisa menambah pengetahuan para peserta kuliah umum.

Sementara itu, Ngasbun menilai, penghargaan Muri itu sebagai bukti keberhasilan akademisi dalam menghasilkan karya tulis. Bukan hanya buku, Sugiyono juga menghasilkan artikel ilmiah yang bisa dimuat pada jurnal ilmiah secara daring maupun cetak. "Profesor Sugiyono sebagai penulis produktif, karyanya banyak dikutip dan dirujuk mahasiswa.

Ketika akan mengisi kuliah umum, kami menawarkan menjadi tempat untuk pemberian penghargaan dari Muri," tandasnya. Untuk diketahui, semua buku Sugiyono diterbitkan oleh Alfa Betha Bandung. Pada situs toko buku daring, belbuk.comitu terdapat sejumlah buku karangan Sugiyono. Buku-buku itu dijual mulai Rp 45.000 hingga Rp 157.500.

Dalam kuliah umum, Sugiyono mengingatkan, peneliti harus menguasai bidang yang diteliti. Selain itu memahami metode penelitian, serta bisa mempublikasikan karya di jurnal ilmiah. Penelitian yang baik itu baru dan orisinal, serta bermanfaat bagi masyarakat luas dan memiliki nilai ekonomi atau dapat dijual.

Selama ini, kata dia, banyak peneliti yang terjebak dengan mengangkat persoalan di tengah-tengah masyarakat. Namun, mereka belum dapat menemukan potensi yang bisa dijadikan materi penelitian. Di tingkat S-1, penelitian diarahkan supaya mampu mengamalkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada tingkatan S-2, penelitian diarahkan dapat mengamalkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. S-3, penelitian diarahkan untuk menemukan, menciptakan, atau memberikan kontribusi kepada pengembangan, serta pengamalan ilmu pengetahuan. (Royce Wijaya-41)


Berita Terkait
Komentar