Zero Waste Solusi Sampah Plastik

SEMARANG - Dr Paull Connett PhD, ahli toksikologi yang menetap di Amerika Serikat mengungkapkan bila partikel beracun sampah plastik tidak lagi berbentuk mikro, melainkan nano. Hal itu dikemukakan dalam diskusi publik bersama aktivis lingkungan, akademisi Unika Soegijapranata, dan kalangan pemerintah di Warung Penang, Semarang, Minggu (12/1).

Lulusan Universitas Cambridge itu mengemukakan penemuan yang tidak menggembirakan pada 2000 lalu. Saat itu ditemukan partikel-partikel berukuran nano yang memiliki kandungan logam berat.

Partikel-partikel nano tersebut sisa dari pembakaran sampah yang disebut sebagai solusi. ”Masalahnya, di negara-negara di dunia ini belum ada regulasi terkait pengelolaan sampah berukuran nano ini.

Standarnya masih mikro,” kata Paul yang pernah memaparkan dua presentasi mengenai zero waste kepada Komisi PBB untuk pembangunan berkelanjutan pada 2010 lalu. Partikel nano tersebut memunculkan banyak masalah kesehatan. Partikel sisa pembakaran sampah itu amat sangat kecil dilihat dari sudut pandang manusia.

Karena kecilnya ukuran itu, partikel bisa masuk dalam tubuh, jaringan darah, melalui sel-sel tubuh. ”Konsekuensinya pada 18 Desember 2019 ada riset, partikel nano itu masuk lewat pernafasan. Berakibat pada pembengkakan otak, kerusakan jaringan syaraf, kanker otak, hingga gangguan mental,” bebernya.

Zero Waste

Paul juga mengatakan, alat-alat pembakaran tercanggih sekalipun bukanlah solusi jangka panjang mengatasi permasalahan sampah. Pembakaran sampah meninggalkan abu yang beracun.

Alatnya pun sangat mahal. Negara maju di dunia pun punya masalah dengan ini. Pada 2013 Paul menerbitkan buku The Zero Waste Solution: Untrashing the Planet One Community at a Time.

Zero waste kini menjelma sebagai sebuah gerakan untuk menuju nol sampah. ”Pada abad 21 ini, manusia tidak seharusnya menciptakan alat pembakaran sampah yang canggih. Sekarang kita bicara untuk tidak memproduksi calon sampah. Kita singkirkan apa-apa (penggunaan plastik) yang tidak perlu,” lanjut Paul.

Pada kesempatan itu, pakar lingkungan Unika Soegijapranata Prof Budi Widianarko menambahkan, pemerintah perlu melihat apa yang dilakukan negara-negara lain. Contohnya Taiwan, yang tidak menyediakan tempat-tempat sampah di ruang publik.

Hanya truk pengangkut sampah yang hanya lewat dalam waktu-waktu tertentu. ”Masyarakat di sana harus benar-benar menunggu truk itu lewat agar bisa menenteng sampahnya.” (daz-56)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar