Satu Kebaikan Buka Kebaikan Lain

SUATU malam di pertengahan Desember lalu, 20-an anak muda menembus kegelapan menuju kawasan Tambakrejo, Semarang. Tidak bertangan kosong, mereka datang membawa 100 nasi bungkus bagi warga di sana.

Pemilihan Tambakrejo sebagai lokasi berbagi nasi tak lepas dari peristiwa yang terjadi pada Mei 2019 silam. Saat itu, Pemerintah Kota Semarang melakukan penggusuran demi menertibkan hunian liar di daerah itu.

Setelah penggusuran, warga setempat direlokasi ke Hunian Sementara. "Kami sempat dilema karena hanya membawa 100 bungkus nasi, sementara di sana ada 119 kepala keluarga.

Tapi kemudian ketua RT Tambakrejo meyakinkan kami. Beliau berkata bahwa membantu semampunya pun tidak masalah, tidak perlu dipaksakan," ujar Ketua Forum Bidikmisi Sultan Agung (Forbisa), Edi Sutrisno.

Kegiatan berbagi nasi tersebut sejatinya adalah hajat Keluh Kesah Community (Keluhkesah.co). Dengan tajuk "Memaknai Kekurangan", mula-mula Keluhkesah.co membuka kesempatan bagi siapapun untuk berdonasi, baik berupa uang maupun makanan dan minuman.

Selanjutnya, donasi yang terkumpul dialokasikan untuk pembelian 700 pak nasi, yang mana dibagikan ke tujuh kota di tiga pulau berbeda di Indonesia. Pembagian nasi dilakukan serentak pada Sabtu (21/12/2019). Adapun ketujuh kota yang terlibat ialah Yogyakarta, Palu, Malang, Bogor, Makassar, Banjarmasin, dan Semarang.

Tiap-tiap kota mengeksekusi aksi ini dengan konsep berbeda-beda. Yogyakarta sebagai pusat kegiatan ini, misalnya, berhasil membagikan 175 nasi dengan dua cara. Pertama, digabungkan dengan kegiatan edukasi bagi anak-anak pinggiran Kali Code.

Kedua, disalurkan langsung ke orang-orang yang membutuhkan dengan cara berkeliling Yogyakarta. Yang menarik, dari tujuh kota lokasi berbagi nasi tersebut Keluhkesah.co mengajak kolaborasi komunitas dan organisasi setempat.

Di Bogor, acara ini bekerja sama dengan Komunitas Lemari Buku-Buku, sedangkan di Malang, Keluhkesah.co berduet dengan Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Sulawesi Tengah (IPPMST) Malang.

Di Semarang, kegiatan ini dijalankan oleh Forum Bidik Misi Sultan Agung (Forbisa) dan Keluarga Mahasiswa Nahdatul Ulama Universitas Islam Sultan Agung (KMNU Unissula), serta Persatuan Mahasiswa dan Alumni Bidik Misi Nasional Wilayah V(Permadani Semarang).

Donasi

Anggota Forbisa sekaligus koordinator Memaknai Kekurangan, Erriqa Khikmatunnida Fasikha mengisahkan, Keluhkesah.co lahir saat membantu donasi untuk bencana alam Palu, 2018 lalu. Pasca Palu, Reza Malik Akbar selaku pendiri Keluhkesah.co memutar otak agar komunitas ini bisa tetap bermanfaat bagi masyarakat.

Hasilnya, hingga kini Keluhkesah.co memilih bergerak di bidang sosial dan pendidikan. Menyoal acara Memaknai Kekurangan, Erriqa mengaku penyelenggara chapter Semarang hanya menyiapkan tetek-bengeknya kurang dari seminggu.

"Sebelumnya Forbisa sedang mengerjakan program kerja lainnya, yakni Matadiksi. Untungnya dengan waktu yang terbatas tersebut kami tetap bisa menyelesaikan persiapan Memaknai Kekurangan," tutur Erriqa Di balik persiapan itu, semula anggaran untuk Semarang hanya bisa untuk membeli 50 bungkus nasi.

Karena merasa jumlah itu terlalu sedikit, panitia mencari cara supaya jumlahnya bisa bertambah. Akhirnya, dari yang awalnya anggaran Rp 15.000 per bungkus diubah menjadi Rp 6.000 per bungkus.

Meski harganya menyusut, namun Edi memastikan bahwa nasi bungkus tersebut layak didonasikan ke warga Tambakrejo. "Dengan harga itu kami sudah bisa mendapatkan nasi, telur, dan sayur," jelas Edi. Edi berharap program Memaknai Kekurangan tak berhenti di acara kemarin saja.

Lebih dari itu, ia berkeinginan agar komunitas dan organisasi lain bisa tergerak untuk membantu langsung masyarakat yang membutuhkan. Khususnya daerah Tambakrejo, Edi mengatakan tidak hanya butuh bantuan material, tapi juga nonmaterial, misalnya tenaga guru mengaji. (Sofie Dwi Rifayani-53)


Komentar