Mbah Mansyur Popongan Jadi Kuli Panggul

‘’POPONGAN dengan cepat menjadi salah satu pusat utama Naqsyabandiyah di Jawa Tengah. Di sinilah Kiai Arwani dari Kudus yang terkenal itu merampungkan pelajarannya dalam tarekat dan menerima ijazah untuk mengajar,’’demikian tulis Martin van Bruinessen dalam bukunya Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia(1994:163). Menyebut nama Popongan kurang lengkap jika tak membahas sosok KH M Mansyur, guru (mursyid) tarekat Naqsyabandiyah sekaligus pendiri Pondok Pesantren Al-Mansyur Popongan, Klaten. Keberadaan Pesantren Al-Mansyur sebagai pesantren syariat sekaligus pesantren tarekat tak lepas dari latar belakang sang tokoh pendiri. Perjalanan hidup KH M Mansyur, atau akrab disapa Mbah Mansyur, terbilang penuh romantika. Setelah menempuh perjalanan panjang mencari ilmu di sejumlah pesantren, akhirnya beliau menetap di Popongan sejak tahun 1918 hingga akhir hayat.

Nama aslinya Abdul Fatah, putra KH Abdul Hadi dari Girikusumo, Mranggen, Demak. Di kemudian hari, sosok Abdul Fatah lebih dikenal sebagai Mbah Mansyur Popongan. Bagaimana kisah perjalanan hidupnya? Awal mulanya, pemuda Abdul Fatah meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu agama. Tujuan utama adalah Pondok Pesantren Mojosari Nganjuk, Jawa Timur, waktu itu di bawah asuhan KH Zainuddin. Di pesantren inilah Abdul Fatah bertemu pemuda bernama Mansyur dari Tulungagung. Untuk menjalin tali persahabatan, keduanya sepakat untuk saling bertukar nama. ‘’Abdul Fatah berganti nama Mansyur, sebaliknya Mansyur memakai nama Abdul Fatah,’’tutur KH Djablawi, menantu Mbah Mansyur. Setelah beberapa lama nyantridi Mojosari, pemuda Mansyur yang bernama asli Abdul Fatah ini melanjutkan belajar di Pesantren Jamsaren, Solo. Ketika itu Pondok Jamsaren di bawah asuhan AlmaghfurlahKH Idris. Selama di Jamsaren, Mansyur muda tak membawa bekal sama sekali, dan tidak pula minta kiriman dari orang tua.

Hilangkan Jejak

Konon, pergantian nama yang dilakukannya itu, untuk menghilangkan jejak selepas dirinya nyantri di Mojosari. Pemuda Mansyur bertekad untuk belajar hidup mandiri dan memulai kehidupan dari nol. Bahkan, bekal yang dia bawa hanyalah pakaian yang melekat pada tubuhnya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, santri yang satu ini bekerja pada seorang juragan batik di daerah Kauman. Seusai mengaji di pagi hari, pemuda Mansyur menyamar dan bekerja sebagai kuli panggul. Tugasnya adalah memikul dagangan batik milik sang juragan ke tujuan Pasar Slompretan (kini Pasar Klewer).

Sewaktu nyantri di Jamsaren, pemuda Mansyur termasuk santri kinasih yang menjadi kepercayaan KH Idris. Singkat kisah, pada tahun 1918, ia mendapat mandat dari sang guru untuk mengembangkan syiar Islam di wilayah Popongan, Klaten. Sebelum Mbah Mansyur babad keislaman, Popongan jauh dari syiar Islam dan dikenal wingit alias angker. Berkat keuletan dan kesungguhan beliau dalam berdakwah, syiar Islam akhirnya menggema di sana. AlmaghfurlahMbah Mansyur berdakwah di Popongan tidak kurang dari 37 tahun. Beliau berpulang ke hadirat Ilahi pada 16 Oktober 1955. Kini pesantren yang dirintisnya terus bertumbuh. Lembaga pendidikan formal yang dikelola ada madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah. Keduanya bernaung di bawah Yayasan Al-Mansyur. (Akhmad Saefudin, Penulis Buku 17 Ulama Banyumas-54)


Berita Terkait
Komentar