Pemerintah Dukung Hilirisasi Riset OMAI

CIKARANG - Pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendukung adanya hilirisasi riset Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) atau fitofarmaka. Oleh sebab itu, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) yang juga Kepala BRIN Bambang PS Brodjonegoro mengapresiasi produsen obat yang berhasil membuat produk OMAI yang dihasilkan dari bahan baku dalam negeri. "Langkah ini merupakan wujud hilirisasi industri seperti yang diharapkan oleh pemerintah. Saya apresiasi Dexa Group yang telah menghasilkan produk riset dan teknologi yang inovatif berbahan baku keanekaragaman sumber daya biodiversitas asli Indonesia," ujar Bambang PS Brodjonegoro di Cikarang. Tentunya, lanjut Bambang, ini menjadi peran pemerintah untuk membantu hilirisasi industri agar semakin banyak dikonsumsi. "Dalam hal ini kami akan mengusulkan penggunaan obat-obatan fitofarmaka di program kesehatan pemerintah," jelasnya.

Bambang menyampaikan arahan khusus terkait pengembangan obat fitofarmaka di industri farmasi Indonesia. Salah satunya fokus dalam pengembangan obat fitofarmaka pada penyakit yang banyak ada di Indonesia. Dengan adanya pengelompokan penyakit bisa difokuskan kebutuhan riset obat yang dibutuhkan. Direktur Eksekutif DLBS Raymond Tjandrawinata mengatakan sebagai organiasi riset bahan alam, saat ini DLBS sudah menghasilkan 18 produk berizin edar fitofarmaka dari 26 produk fitofarmaka di Indonesia. "Di tingkat hilir, inovasi pengembangan dari DLBS ini menghasilkan 18 produk berizin edar fitofarmaka dari 26 produk berizin edar Fitofarmaka di Indonesia," kata Raymond.

Nilai Tambah

Upaya itu merupakan langkah mendorong kemandirian bahan baku obat nasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia. "Melalui DLBS, Dexa Group melakukan kegiatan riset di tingkat hulu dengan mengembangkan ketersediaan farmasi dan memproduksi Active Pharmaceutical Ingredients (API) yang berasal dari makhluk hidup," tuturnya. Saat ini, DBLS telah menghasilkan OMAI di antaranya Inlacin yakni produk obat diabetes fitofarmaka berbahan baku bungur dan kayu manis yang telah diekspor ke Kamboja dan Filipina. Selain itu, produk fitofarmaka lainnya adalah Redacid berbahan baku kayu manis yang bermanfaat untuk mengatasi gangguan lambung. Bambang menyampaikan peran penting Research and Development (R&D) dalam pengembangan usaha perusahaan swasta. Bambang berharap R&D di perusahaan swasta dapat menjadi teknologi tepat guna dan bernilai tambah menjawab kebutuhan masyarakat. (nya-23)


Berita Terkait
Komentar