Waspadai Hasrat Belanja Berleb

Oleh :Sofie Dwi Rifayani

Hasrat berulang-ulang (kecanduan) untuk belanja apa pun, baik barang maupun jasa, diistilahkan sebagai Compulsive Buying Disorder (CBD). Oleh World Psychiatric Association, CBD diartikan sebagai kondisi psikologi kronik.

Co-founder Tallent Consultant Pundani Eki Pratiwi MPsi Psikolog menjelaskan, pada dasarnya belanja adalah kegiatan yang normal dilakukan sehari-hari. Kegiatan itu menjadi tidak normal jika menimbulkan tekanan secara psikologis dan ekonomi. "Seseorang belanja atau melakukan pembelian kan untuk memenuhi kebutuhan, baik fisik maupun psikologis. Sementara CBD ada banyak faktor yang melatarbelakangi.

Mulai dari situasi politik dan ekonomi di tempat tinggalnya, adanya media sosial, bisa pula karena mindset gaya hidup yang mulai memengaruhi seseorang untuk menunjukkan status sosial. Kemudahan dalam berbelanja, misal semakin banyaknya online shop ataupun pusat perbelanjaan yang menawarkan diskon, promo, atau layanan kartu kredit juga bisa memunculkan CBD," tutur Pundani. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rata-rata CBD dimulai dari rentang usia 20-30 tahun.

Saat itu mereka dinilai mampu mandiri secara finansial. Dari sisi psikologi, ada beberapa individu yang menjadikan kegiatan belanja sebagai bentuk mengatasi masalah (coping stress). Mereka merasa bahagia setelah melakukan pembelian, padahal sebenarnya perasaan itu hanya dirasakan sementara.

Lalu, apa tanda-tanda CBD? Pundani mengatakan, ada beberapa tanda yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi pasien CBD. Pertama, ia punya dorongan kuat untuk belanja, meskipun barang itu mungkin tidak masuk akal, tidak akan digunakan, dan dibeli tanpa perencanaan.

Kedua, jika orang itu menganggap belanja adalah kegiatan yang menyenangkan dan dapat membantu mengalihkan perasaan yang kurang menyenangkan. Selain itu, ia konstan terobsesi untuk belanja dan merasa tidak puas sepanjang waktu. Jika ingin menghentikan kegiatan tersebut, yang ada justru muncul dampak fisik atau psikologis, seperti cemas dan perasaan terganggu.

"Tanda lainnya, seseorang itu terlalu sibuk dengan proses belanja hingga akhirnya menghabiskan waktu, mengganggu fungsi sosial atau pekerjaan, bahkan sampai mengakibatkan masalah keuangan.

Orang yang mengalami CBD terkadang juga merasa bersalah setelah berbelanja. Hal itu karena ia menyadari bahwa barang yang dibeli ternyata tidak terlalu dibutuhkan," ujar Pundani. Jika tanda-tanda tersebut terus dialami dan akhirnya mengganggu kehidupan, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan pihak-pihak yang dapat membantu, sebutlah ke psikolog atau psikiater.

Menurut Pundani, sudah saatnya masyarakat lebih peduli dan peka terhadap permasalahan yang dimiliki agar timbul kesadaran untuk melakukan proses perbaikan. Pasalnya, proses konsultasi ke psikolog tidak dapat berjalan dengan baik jika dorongan tersebut tidak muncul dari diri sendiri.

Penanganan

Pada pasien yang terdiagnosis CBD biasanya psikolog atau psikiater akan melakukan terapi, yaitu cognitive behavioral therapy dan treatment pharmacological. Namun, pertama- tama seseorang dapat mengenali secara sederhana atas gangguan CBD yang dimilikinya dengan mencari tahu alasan yang melatarbelakangi hasrat belanja tersebut. Dengan melacak pemicunya, solusi akan lebih mudah dicari. "Misal pemicunya emosi negatif karena masalah keluarga, kecemasan, merasa kurang berharga, atau kesepian.

Maka tanamkan pada diri bahwa barang atau jasa material hanya memberikan kesenangan yang bersifat sementara. Anda menemukan apa yang menjadi pemicu dan sadar bahwa perilaku belanja berlebihan hanyalah cara Anda untuk menghindari hal-hal yang membuat Anda terganggu, maka mulailah dengan membuat pengaturan diri dan melakukan kontrol diri.

Contohnya dengan menghentikan penggunaan kartu kredit, membuat daftar belanja sesuai kebutuhan atau bisa pula dengan melakukan kegiatan sosial atau keagamaan yang dapat membuat jiwa lebih tenang," saran Pundani.

Berbahaya

Kecanduan belanja dapat menimbulkan kecemasan dan berujung pada rasa bersalah pada diri sendiri. Akibatnya, seseorang bisa mengalami depresi. Kecuali itu, perilaku itu juga bisa memengaruhi kemampuan ekonomi, misalnya terlilit hutang kartu kredit atau bahkan bangkrut.

Lagi-lagi, kondisi itu bisa menimbulkan tekanan yang berakibat pada stres dan depresi. Mengingat dampak yang kurang baik tersebut, kecanduan belanja dapat dikatakan berba haya. "Tapi jangan khawatir karena sejatinya CBD bisa dihindari. Caranya dengan memiliki mekanisme pengaturan diri (self-regulatory mechanism) dan pengendalian diri (self control) yang baik.

Memiliki kedua hal tersebut dan memahami indikator yang mendekati CBD bisa mencegah seseorang mengalami CBD," ungkap Pundani. Menurutnya, ihwal itu penting, terutama bagi orangorang yang memiliki kebiasaan konsumtif yang cukup tinggi. Pundani merincikan, ada beberapa langkah yang patut dijajal.

Misalnya melakukan pengaturan keuangan dengan mengikuti pelatihan atau membaca buku bagaimana mengatur keuangan, serta memiliki skala prioritas atas kebutuhan dan daftar belanja yang akan dibeli setiap kali akan berbelanja. Tak lupa, usahakan pelajari sistem kerja belanja, termasuk soal diskon, kartu kredit, dan penawaran cicilan lainnya.

Membatasi diri dalam melihat online shop dapat juga diterapkan agar tidak terstimulus oleh iklan dan promo yang ada. "Seseorang harus mampu mengenali diri, kebutuhan dan kemampuannya, sehingga dalam melakukan suatu tindakan ia memiliki kesadaran penuh akan tujuan dari tindakan yang dilakukannya.

Jika tindakan sudah tidak sesuai dengan tujuan awal yang akan dilakukan, maka ini merupakan peringatan kepada diri untuk berhenti sejenak dan melakukan perbaikan," tutup Pundani.(49)


Berita Terkait
Komentar