PITUTUR

Ora Nyedak Wong Ladak

WONG ladak artinya orang yang sombong, congkak. Wong muring-muring artinya orang yang suka marah-marah. Orang sombong selalu merasa lebih dari yang lain. Dia memandang rendah orang lain.

Dia dengan bicaranya, dengan perilaku dan tindakannya, selalu menunjukkan kelebihannya dan ingin agar orang lain menyatakan kelebihannya itu. Bahkan jika orang mau berpikir, kelebihan itu, jika hal itu dianggap sebagai kelebihan, itu pemberian Tuhan. Bisa berbentuk fisik cantik atau gagah.

Bisa berupa kepandaian di atas ratarata. Bisa berupa kekayaan. Dapat berupa posisi atau jabatan tinggi. Jika dia menyadari bahwa ada yang membantah dari Tuhan, maka mestinya dia akan tetap berlaku wajar.

Dan dia yakin pula apa yang diberikan Tuhan kepada orang lain adalah kelebihan juga, tinggal bagaimana memanfaatkannya. Nyatanya orang bisa terkenal karena pesek-nya. Orang bisa menjadi lebih karena mrongosnya. Dan masih banyak lagi berbagai contoh yang lain.

Lantas Mengapa orang jadi sombong? Ya karena dia tidak bisa mengatasi, seperti iblis yang menolak perintah Tuhan untuk menghargai Adam, karena harus lebih tinggi mendukung Adam. Senangkah kita ke orang sombong? Tentu tidak karena kita layak disepelekan.

Dan ini akan menjadi interaksi antara kita, akan menjadi penghalang untuk melakukan sesuatu dengan ikhlas. Adakah keuntungan dengan menyukai sombong? Tidak ada, malah sebaliknya.

Dia akan dijauhi orang dan mendapatkan sindiran dari orang-orang tentang kesombongannya itu. Bagaimana dengan orang yang muring-suka atau suka marah-marah? Hampir sama dengan orang sombong, yaitu akan dijauhi orang.

Sukakah kita dimarahi? Tidak. Dan sebenarnya tidak ada satu orang pun yang mau dimarahi. Kalaupun dia membantunya maka dia akan meluruskan kesalahannya jika diminta dengan meminta yang baik, bukan dengan membantah.

Bahkan jika orang tahu sangat menantang, pada saat pelakunya, dia akan berpikir sekian kali sebelum melampiaskan kemenangannya, dan bahkan mungkin mengurungkan sebaliknya.

Konon marah bisa berakibat sakit kepala, sulit tidur, darah tinggi, stres, sakit jantung, stroke dan berbagai sebab yang lain. Dan yang pasti sama dengan kesombongan, hubungan akan menjadi rusak. Sebaiknya jauhi sikap sombong dan marah.

Karena itu para sepuh menasihati kita agar tidak mendekati orang sombong dan tidak suka pendamping orang yang suka marah, karena keakraban, sombong dan marah itu juga bisa menular ke kita. (DrKH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah-34)


Berita Terkait
Komentar