Jangan Petentengan dalam Beragama

SAAT memberikan tausiyah pada haul ke-10 Gus Dur di Ciganjur (28/12), Gus Mus (KHA Mustofa Bisri) mengingatkan umat Islam untuk tidak petentengan dalam beragama.

”Segera hijrah. Cari kiai yang pernah ngaji (supaya terhindar dari cara beragama yang petentengan tersebut,” tegas Gus Mus. Peringatan ini menarik untuk dicermati lebih lanjut. Petentengan berasal dari Bahasa Jawa. Kata ini termasuk homograf, di mana tulisannya sama, namun pelafalan dan maknanya berbeda.

Dalam KBBI, petentengan (dengan È seperti pada teh) berarti sangat angkuh, berlagak angkuh atau belagu. Dalam bahasa Jawa, petentengan (dengan e seperti pada lembu) berarti ngotot, ngeyel, tidak selow (kalem), atau mempersulit diri (tasyaddud).

Petentengan (dalam makna pertama) dalam beragama berarti suatu sikap dan cara berpikir, bukan hanya tidak menghormati tetapi juga arogan (merasa paling sesuai dengan cara beragama Rasulullah Saw) dan memaksa orang lain agar sama dengan dirinya. Petentengan (dalam makna kedua) berarti beragama dengan ngotot, ngeyel, kaku, keras dan mempersulit diri.

Keduanya memiliki makna yang berbeda, tetapi sama asal dan ujungnya. Petentengan berasal dari hati yang tidak lembut dan berujung pada sikap yang intoleran dan tidak hormat kepada orang lain. Hasil akhirnya, mereka beragama tapi tidak bahagia akibat cara beragama yang kurang tepat.

Resolusi Diri

Sepanjang 2019, fenomena petentengan (dalam kedua makna di atas) beragama sangat dominan di Tanah Air. Momentum Pilpres 2019 membuat petentengan beragama makin menjadijadi. Seolah membela Capres-Cawapres ini berarti membela agama atau bahkan membela Allah Swt.

Jika tidak pasangan itu yang dipilih, berarti mengkhianati agama yang dianut. Bahkan, setelah kompetisi politik usai, yang pententengan masih belum move on, sementara yang dibela mati-matian sudah gamblokan dengan seteru politiknya.

Perlu dilakukan resolusi di awal tahun ini: tinggalkan beragama dengan cara petentengan, ganti beragama dengan cara yang selow atau woles. Suatu istilah milineal untuk menggambarkan jenis beragama yang sesuai dengan sisi kemanusian manusia.

Agama merupakan cara Allah Swt mendidik umatnya untuk berpikir, berucap dan bertindak, baik tentang dan kepada diri-Nya maupun tentang dan kepada sesama umat-Nya. Sebagai tarbiyah- Nya, agama diturunkan sesuai dengan kemanusiaan manusia.

Jika Allah Swt saja memperlakukan agama untuk manusia begitu sangat manusiawi, sudah semestinya manusia memperlakukan dirinya dan orang lain juga harus manusiawi. Salah satu ciri kemanusian manusia adalah suka yang mudah. Hidup yang mudah. Bekerja dan mencari rizki dengan mudah.

Mengabdi dan menyembah kepada-Nya dengan cara yang mudah. Berpolitik juga seharusnya tidak sulit, apalagi kalau hanya memilih dua atau tiga pasangan calon. Manusia sendiri yang sukanya mempersulit diri, lalu mengajak orang lain untuk hidup dan beragama menurut caranya yang sulit itu.

Semuanya haram dan diharamkan. Jika standar dan cara beragamanya tidak diikuti oleh orang lain, maka kata-kata bid'ah, kafir dan haram terus-menerus keluar dari lisannya. Seolah ia lupa bahwa yang dihadapi adalah manusia, bukan malaikat. Sebagai Pencipta-Nya, Allah Swt tahu persis apa yang diinginkan manusia dalam hidupnya.

Semua manusia ingin mudah. Yang dimau manusia dikabulkan oleh Allah Swt. Allah Swt menghendaki yang mudah dan tidak menghendaki yang sulit (yurid Allah bikum al-yusra, walayurid bikum al-ëusr/ QS, 2:185). Dua kalimat yang tegas dan diulang (mudah dan tidak sulit) untuk menghilangkan keraguan manusia akan kelemahannya.

Pada ayat lain, Allah Swt memastikan tidak akan membebani manusia melebihi kemampuannya (la yukallif Allah nafsan illawus’aha/ QS, 2:286). Dalam seluruh konteks kehidupan manusia, tidak ada beban yang dipikul oleh manusia melebih kemampuannya. Karena Allah Swt tahu persis bagaimana kemampuan ciptaan-Nya.

Dalam hal beragama, Rasulullah Saw menegaskan bahwa: ”Sungguh agama itu mudah. Orang yang memaksakan diri akan menemui kesulitan. Maka merapatlah, mendekatlah, berilah kabar gembira...” (inna al-din yusrun. Walan yusyadd al-dina ahadunillaghalabahu. Fasaddidu, faqaribu, waabsyiru.../ HR. Bukhari Muslim).

Jaminan Rasulullah Saw ini seharusnya membuat umat Islam bergembira dan suka cita dalam beragama. Umat Islam tidak perlu petentengan dan berlebih-lebihan (moderat) dalam beragama. Sikap suka menyalahkan dan mengaku paling benar sendiri harus dihilangkan.

Jika dalam beragama saja harus tawassuth (moderat), apalagi untuk urusan duniawiyah yang lain. Dalam masalah politik misalnya, sebagaimana beragama, juga tidak perlu berlebihan. Tidak perlu memolitisasi agama atau mengagamakan politik secara berlebihan karena itu melanggar fitrah politik yang profan.

Politik, sebagaimana semua orang tahu, adalah permainan untuk meraih kekuasaan. Jika mau melibatkan agama, maka agama digunakan semata-mata untuk menjaga agar politik tidak jatuh pada permainan kotor tanpa moral.

Bagaimana caranya agar umat Islam tidak petentengan dalam beragama? Mereka harus berilmu dan rasional dalam beragama. Tahun 2020 ini umat Islam harus lebih cerdas di dalam beragama. (Prof Dr H Abu Rokhmad Musaki MAg, pengurus MUI Jawa Tengah dan dosen FISIPUIN Walisongo).


Berita Terkait
Komentar