PENCAK SILAT

Berkontribusi Besar bagi Kemanusiaan

SM/Antara  -  WARISAN BUDAYA : Dua murid perguruan silat Betawi ‘Sepak Goreng Asem’ berlatih di Tugu, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Jumat (13/12). (55)
SM/Antara - WARISAN BUDAYA : Dua murid perguruan silat Betawi ‘Sepak Goreng Asem’ berlatih di Tugu, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Jumat (13/12). (55)

JAKARTA - Nilai kemanusiaan yang dikandung dari tradisi pencak silat membuat tradisi seni bela diri itu ditetapkan sebagai warisan takbenda dunia oleh UNESCO.

Penetapan itu dilakukan dalam sidang ke-14 di Kolombia, Kamis (12/12). ‘’UNESCO telah memberitahukan kepada dunia bahwa ada seni bela diri yang tidak hanya olahraga, tetapi juga dapat membentuk karakter manusia.

UNESCO menganggap hal itu penting untuk dikembangkan,’’ kata Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Arief Rachman di Jakarta, Jumat (14/12). Ada beberapa nilai kemanusiaan yang dimiliki oleh seni bela diri pencak silat, di antaranya bersifat inklusif. Pencak silat dapat dipelajari oleh siapa pun.

Kemudian, pencak silat berkontribusi terhadap kerukunan dalam masyarakat dan mendorong terbentuknya identitas untuk menjadi sebuah komunitas, serta ada pewarisan tradisi ke generasi selanjutnya.

Arief mengatakan, penetapan ini harus ditindaklanjuti dengan program kerja yang baik dan pencak silat harus disosialisasikan kepada seluruh masyarakat Indonesia dan dunia.

‘’Dunia saat ini sudah ada yang menganggap pencak silat, tetapi mereka lebih melihat pencak silat sebagai olahraga. Tugas Indonesia harus lebih memunculkan karakter kemanusiaannya dan kekuatan masyarakatnya,’’ kata dia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, sesuai konvensi UNESCO 2003, daftar warisan takbenda kemanusiaan itu memang fokus melihat praktik dalam masyarakat yang dapat berkontribusi terhadap kemanusiaan.

‘’Jumlah warisan budaya banyak sekali, tetapi yang dapat menyumbang perdamaian, stabilitas, pembangunan dan pada akhirnya kepada kemanusiaan itu dapat dipilih, Makanya masuknya daftar representatif,’’ kata Hilmar.

Nilai kemanusiaan yang ada di dalam pencak silat ada tentang pengendalian diri, yakni bukan tentang bisa membalas serangan lawan tetapi tentang menahan diri agar tidak terpancing amarah. ‘’Pencak silat adalah salah satu tradisi yang membuat orang dan masyarakat bisa mengendalikan segala macam impulsnya dengan baik.

Pencak silat dapat menata agar semua orang dapat berhubungan baik,’’ kata dia. Hilmar pun menambahkan, tradisi pencak silat menjadi daftar representatif warisan takbenda kemanusiaan UNESCO juga dapat meningkatkan Indeks Pembangunan Kebudayaan.

Indeks ini memiliki tujuh dimensi, salah satunya ketahanan sosial budaya. Nilai-nilai yang ada di dalam pencak silat sangat berkontribusi terhadap ketahanan budaya, termasuk toleransi dan saling memahami.

Selain dimensi ketahanan budaya, diharapkan pengakuan UNESCO tersebut juga dapat berkontribusi pada dimensi ekonomi. Menurut dia dengan pengakuan UNESCO itu, tradisi pencak silat telah diantar ke pentas dunia.

‘’Secara sporadis sebenarnya sudah terjadi, kita dapat menemukan pencak silat di mana-mana, hanya saja dengan pengakuan ini pasarnya menjadi lebih luas,’’ kata dia. Dia berharap, dengan pengakuan itu, akan ada kebudayaan populer berbasis tradisi pencak silat yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat dunia melalui tarian dan film.

‘’Tari berbasis tradisi pencak silat itu banyak sekali dan sudah terbukti menarik perhatian. Kini pencak silat juga semakin berkembang dan mewarnai dunia film. Dengan ini, maka akan semakin banyak pegiat pencak silat menampilkan tradisi tersebut dalam kebudayaan populer,’’ ujarnya.

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Nadjamuddin Ramly mengingatkan, perlu lima rencana aksi pengelolaan pencak silat, yaitu memasukkannya dalam muatan lokal, pendukungan festival baik di tingkat lokal maupun internasional, mengadakan pelatihan untuk peningkatan sumber daya manusia, penerbitan buku terkait pencak silat, serta melanjutkan upaya inventarisasi dan dokumentasi.

Menurut dia, dibutuhkan kerja sama di antara pemangku kepentingan pencak silat, seperti aliran, perguruan, komunitas, akademisi, pemerintah, dan para pemerhati pencak silat. ‘’Penetapan pencak Silat dalam daftar ICH UNESCO tersebut bukan tujuan akhir, tetapi menjadi langkah awal bagi kita untuk memberikan perhatian lebih bagi pelestarian dan pengembangan pencak silat,’’ ujar dia. (ant-41)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar