Kadin Beri Catatan soal Pariwisata dan Pelabuhan Tanjung Emas

SM/Maulana M Fahmi  -  SEMINAR NASIONAL : Ketua Kadin Jateng Kukrit SW (kanan ) bersama Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng, Iss Savitri (dua dari kanan) dan anggota DPD RI Abdul Kholik (dua dari kiri) menyampaikan paparannnya dalam Seminar Nasional di kantor DPD Jateng Jl Imam Bonjol Semarang, kemarin. (24)
SM/Maulana M Fahmi - SEMINAR NASIONAL : Ketua Kadin Jateng Kukrit SW (kanan ) bersama Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng, Iss Savitri (dua dari kanan) dan anggota DPD RI Abdul Kholik (dua dari kiri) menyampaikan paparannnya dalam Seminar Nasional di kantor DPD Jateng Jl Imam Bonjol Semarang, kemarin. (24)

SEMARANG - Laju perekonomian tak begitu menggairahkan dalam pencapaian target tujuh persen pertumbuhan ekonomi bagi Jateng pada 2023. Bersama Jatim, Jateng menjadi tumpuan perekonomian Indonesia.

Sejumlah regulasi dan kebijakan memang telah memihak, namun jika tak berdampak secara riil dan tak berkelanjutan maka target tersebut bisa saja akan menjadi musibah.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Tengah, Kukrit Suryo Wicaksono memaparkan semua potensi ekonomi dan industri besar ada di Jateng. Mulai dari tekstil terbesar di Asia tenggara, percetakan, pabrik rokok, hingga batik.

Jumlah UMKM aktif di Jateng juga luar biasa, 3,2 juta. Namun ia menggarisbawahi bahwa pada saat ini terjadi perlambatan ekonomi sehingga berimbas pada industri yang sepi.

Namun, ia memberikan catatan pada industri pariwisata. Geliatnya begitu luar biasa. ”Saat perlambatan ekonomi, industri sepi, yang tidak sepi apa? Orang dolan, hotel penuh.

Jawa Tengah mendapatkan berkah dari sisi industri pariwisata,” kata Kukrit dalam seminar nasional ”Peran serta DPD RI dalam Pembangunan Jateng,” di Kantor Perwakilan DPD RI Jateng di Kota Semarang, Selasa (10/12). Diskusi terbagi menjadi dua sesi.

Pada sesi yang kedua, selain Kukrit tampil sebagai narasumber lainnya anggota DPD RI, Abdul Kholik, Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng, Iss Savitri dan Kepala Kantor DPD RI Jateng, Marfungi. Dalam diskusi hadir pula Ketua Apindo Jateng, Frans Kongi dan Ketua Gapensi Jawa Tengah, Mulyono Hadi.

Untuk itu, Kukrit meminta pada DPD RI menjadi jembatan para pengusaha Jateng dalam membenahi beberapa hal penting. Pertama adalah menarik eveneven skala nasional atau internasional ke Jateng. Ia mengalkulasi, tumbuhnya pariwisata akan berimbas pada perdagangan.

Perdagangan akan memicu lonjakan investasi. Dan Investasi tentu akan menambah jumlah lowongan kerja. Rantai industri pariwisata akan bermuara pada penurunan angka kemiskinan di Jateng.

Selanjutnya, Kukrit juga sedikit menyindir Pelabuhan Tanjung Emas. ”Walau disebut emas, yang mestinya nomor satu, kenyataanya kalah dengan Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya) dan Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta),” kata CEO Suara Merdeka Network ini.

”Kami minta DPD bisa ikut menaikkan kelas Pelabuhan Tanjung Emas menjadi pelabuhan tingkat satu,” ucapnya. Ketiga, untuk meningkatkan SDM Jateng maka mesti tersertifkasi.

Kukrit meminta DPD bisa merealisasikan pilot project sekolah yang langsung terkoneksi dengan industri. Artinya, setiap lulusan akan langsung diserap perusahaan karena kemampuan yang dimiliki siswa sesuai kebutuhan dunia industri.

Industri yang ia maksud juga termasuk industri kreatif. Adapun yang keempat adalah membuka peluang pengiriman tenaga kerja industri ke negara-negara maju.

Hal itu akan meningkatkan skill dan kualitas SDM. Ia mencontohkan, saat ini Kadin secara rutin (per empat bulan) mengirim tenaga kerja magang ke Jepang. Jumlahnya 400 orang. Mereka bekerja dua tahun di sana dan saat kembali menjadi rebutan dunia industri di Indonesia.

Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng, Iss Savitri mengatakan, untuk mengembangkan industri maka setidaknya ada tiga pendekatan, yakni kualitas produk, mendorong regulasi dan promosi.

Dari kajian yang dilakukan maka perusahaan masih membutuhkan insentif pajak untuk mendorong produktivitas dan inovasi industri pengolahan. Anggota DPD RI, Abdul Kholik mengatakan, Jateng saat ini memiliki sekitar 34 juta penduduk. Artinya, ada pasar yang menggiurkan bagi produk-produk yang dihasilkan oleh industri di Jateng sendiri. (H81-64)


Berita Terkait
Komentar