Kreativitas Siswa SLBN Batang

Ciptakan Batik Ciprat Sak Karepe

SM/dtc  -  MEMBATIK : Ratusan siswa SLB Negeri Batang membatik sak karepe dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional, Rabu (4/12). (55)
SM/dtc - MEMBATIK : Ratusan siswa SLB Negeri Batang membatik sak karepe dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional, Rabu (4/12). (55)

Banyak hal yang bisa dilakukan meskipun menjadi penyandang disabilitas. Ratusan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Batang misalnya, mampu menciptakan batik ciprat Sak Karepe.

SIANG itu ratusan siswa SLBN Batang terlihat antusias. Tangan-tangan mereka menggenggam erat kuas yang biasanya dipakai untuk mengecat. Namun hari itu berbeda. Kuas-kuas itu mereka celupkan ke wadah lilin batik yang tengah dipanaskan agar mencairkan.

Setelah itu, dengan bersemangat mereka mencipratkan lilin cair yang menempel di kuas tersebut ke kain sepanjang 120 meter yang dibentangkan. Lama-lama cipratan lilin dari kuas para murid SLB itu pun membentuk pola batik yang cukup menawan.

Kreativitas itu mereka tuangkan dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional. ”Harusnya kemarin, tapi kemarin kita masih melakukan ujian semesteran baru bisa dilakukan hari ini,” kata Kepala SLBN Batang Sujarwo, Rabu (4/12).

Sekolah yang dipimpinnya memiliki 215 siswa yang terdiri atas siswa tingkat sekolah dasar hingga SMA. Rencananya, batik Ciprat Sak Karape ini akan digunakan sebagai seragam batik para siswa ini. Sujarwo menjelaskan, motif batik ciprat berupa cipratan malam atau lilin batik.

Cara ini berbeda dari cara membatik menggunakan canting. ”Jadi kita pakainya kuas. Setelah lilin dipanaskan dan mencair, anak-anak akan memasukkan kuas kecil kemudian mengekspresikan seninya dengan cara mencipratkan ke media kain yang kami sediakan,” jelas Jarwo.

Batik Ciprat ini di Batang dan Pekalongan tengah populer dan digandrungi banyak penggemar batik. Dengan cipratan ini akan keluar motif yang tidak beraturan, namun mempunyai nilai tersendiri. ”Ya karena dicipratkan semaunya akhirnya dikenal degan batik Cipratan Sak Karepe,” jelasnya.

Semua siswa SLBN Batang ini ikut menngikuti seluruh proses pembutan batik tersebut, mulai dengan proses ciprat, pewarnaan, hingga pencucian. ”Semua dilakukan dengan senang hati. Apalagi mereka habis ujian. Anak-anak memilih warna biru sebagai dasarnya,” kata Jarwo. Membatik memang tidak lagi asing bagi anakanak tersebut.

”Kami memiliki jam pelajaran membatik dan menjahit. Hasilnya kami pasarkan juga,” katanya. Salah seorang siswa, Agung Setyabudi mengaku senang dengan kegiatan tersebut. Apalagi hasil karyanya nantinya akan digunakan untuk seragam sekolah.

”Membuat batik sendiri untuk seragam. Ya senang sekali bisa dipakai,” kata siswa kelas 9 SLB N Batang ini. Sujarwo menambahkan, di sekolah ini terdapat enam kelas di tingkat sekolah dasar, tiga kelas di tingkat SMP dan SLTA.

”Untuk tingkat SMP dan SLTA nya kita lebih fokuskan ke ketrampilannya agar selesai sekolah dari sini bisa langsung kerja, sebagaimana lulusan sebelumnya,” kata Sujarwo. Para lulusan SLB ini, kata Sujarwo, dibekali keterampilan membatik dan menjahit.

Sehingga tidak sedikit lulusan sekolah setempat langsung dapat bekerja. ”Kami sudah kerja sama dengan industri-industri batik maupun pakaian. Banyak lulusan kita yang direkrut untuk kerja,” tandasnya. (dtc-41)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar