Pencemar Bengawan Solo Wajib Benahi IPAL

Perusahaan Ditenggat 12 Bulan

SM/Abdul Muiz - HITAM PEKAT : Air Bengawan Solo di kawasan Kracakan Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Blora, beberapa waktu lalu berubah warna nyaris hitam pekat. Diduga air tercemar limbah pabrik dari wilayah hulu. (24)
SM/Abdul Muiz - HITAM PEKAT : Air Bengawan Solo di kawasan Kracakan Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Blora, beberapa waktu lalu berubah warna nyaris hitam pekat. Diduga air tercemar limbah pabrik dari wilayah hulu. (24)

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memanggil sejumlah perusahaan yang terindikasi melakukan pencemaran di Bengawan Solo, Selasa (3/12). Ganjar meminta agar perusahaan- perusahaan tersebut menghentikan pembuangan limbah ke Bengawan Solo saat itu juga.

Lima belas perusahaan besar diundang dalam rapat yang digelar di Kantor Gubernur Jateng itu. Selain perusahaan besar, perwakilan industri skala sedang, pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) dan peternakan juga hadir. Ditemui seusai rapat, Ganjar menjelaskan, ada sejumlah kesepakatan yang diambil untuk menanggulangi pencemaran Bengawan Solo.

Di antaranya, dia memberi waktu 12 bulan kepada sejumlah perusahaan tersebut untuk memperbaiki sistem pengelolaan atau instalasi pengolah air limbah (IPAL). "Selama kurun waktu itu juga, aktivitas pembuangan limbah ke sungai harus dihentikan. Jika masih melanggar, saya akan minta aparat penegak hukum turun tangan," tegasnya.

Perusahaan-perusahaan yang hadir, lanjut Ganjar, menyepakati hal itu dan meneken kontrak. Dalam pelaksanaan, Ganjar akan menerjunkan tim khusus untuk melakukan pengawasan. "Jika tidak cukup waktu, misalnya perbaikan sistem pengolah limbah tidak cukup setahun, maka harus izin khusus ke saya, nanti akan kami pantau perkembangannya.

Namun kalau selama setahun tidak ada perbaikan pengelolaan limbah dan tetap membuang ke sungai, silakan aparat penegak hukum bertindak," paparnya. Menurut Ganjar, peran industri besar dalam pencemaran Bengawan Solo signifikan.

Sebab, mulai hulu sampai hilir, sejumlah industri besar berdiri di hampir semua titik lokasi yang dilewati Bengawan Solo. "Ada banyak perusahaan besar, mulai Wonogiri, Sragen, Sukoharjo, Klaten, Karanganyar, Solo, Boyolali sampai Blora.

Ada ratusan, belum termasuk perusahaan menengah, kecil, dan peternakan," ujarnya. Dia menilai perusahaan besar tidak akan menghadapi kendala yang terlalu sulit dalam pengelolaan limbah karena memiliki keuangan yang cukup. Berbeda halnya dengan perusahaan sedang dan UKM.

"Industri batik, tahu, ciu itu yang cukup sulit, karena mereka industri kecil. Karena itu, saya tawarkan untuk memberi IPAL. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga mendukung untuk memfasilitasi," tambahnya.

Terkait persoalan berhentinya pengelolaan air bersih oleh PDAM Blora, Ganjar meminta PDAM melakukan sejumlah aksi nyata. Selama air Bengawan Solo belum bisa dimanfaatkan, maka berbagai upaya harus dilakukan untuk melayani masyarakat. "Saya minta PDAM Blora pinjam air dulu atau utang air agar masyarakat tetap mendapat pasokan air bersih."

Sebagaimana diketahui, Bengawan Solo mengalami pencemaran serius. Pencemaran dari limbah pabrik tersebut membuat air sungai hitam, ikan-ikan mati dan tidak dapat dikonsumsi. (H81-19)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar