Bamsoet Mundur, Airlangga Melenggang

JAKARTA - Airlangga Hartarto diprediksi melenggang mulus untuk kembali memimpin Partai Golkar lima tahun ke depan, menyusul mundurnya pesaing terkuat, Bambang Soesatyo (Bamsoet).

Pernyataan mundur Bamsoet disampaikannya seusai bertemu Airlangga serta plitikus senior Golkar Luhut Binsar Pandjaitan dan Aburizal Bakrie. "Dengan semangat rekonsiliasi yang telah disepakati bersama, maka demi menjaga keutuhan Partai Golkar, saya menyatakan tidak meneruskan pencalonan sebagai ketua Partai Golkar 2019- 2024,'' ujar Bamsoet kepada wartawan seusai pertemuan di kantor Kemenko Maritim, Jakarta, Selasa (3/12) sore. Selain Bamsoet, dua pendukungn y a yang turut maju ke pencalonan, Indra Bambang Utoyo dan Agun Gunandjar, juga mundur.

Calon lain di luar Airlangga yang masih bertahan adalah Achmad Annama, Derek Lopatty, dan Aris Mandji. Menurut Bamsoet, keputusan pengunduran diri itu diambil setelah dia berdiskusi dengan tokoh-tokoh senior Golkar, seperti Luhut, Aburizal, dan juga Agung Laksono.

"Situasi nasional politik yang kondusif guna menjaga harapan, (harus) kita perjuangkan," katanya ketika ditanya soal alasan utama pengunduran diri. Bamsoet juga membantah pengunduran dirinya karena intervensi Presiden Joko Widodo.

"Ini cara Golkar selesaikan masalah. Kami yang muda patuh. Ini cara kami Partai Golkar selesaikan persoalan," imbuhnya. Seusai pengunduran itu, dia berharap Golkar semakin solid. "Semangat rekonsiliasi telah kita sepakati bersama. Nanti enggak ada lagi pro- Bamsoet dan pro-AH (Airlangga Hartarto).

Adanya pro-Golkar dan pro- Indonesia maju." Bamsoet juga berharap agar kader Golkar tetap kompak, terutama untuk menghadapi Pemilu 2024. Sementara itu Indra Bambang Utoyo dan Agun Gunandjar menyatakan, langkah mereka mengundurkan diri itu mengikuti sikap Bambang Soesatyo yang berekonsiliasi dengan pesaingnya, Airlangga Hartarto.

Rekonsiliasi, kata Indra, dilakukan bagi kepentingan partai agar tidak terpecah. Hal tersebut juga mengacu pada hasil pemilihan umum (pemilu) yang selalu memperlihatkan kemunduran Golkar.

"Tadinya kami berdua (Indra dan Agun) marah, tapi kami melihat konsekuensi hal itu kita bisa (membuat) pecah," jelas dia. Adapun Agun Gunandjar mengatakan, dia mundur agar memiliki suara dalam munas. "Saya bukan pengurus, bukan pimpinan fraksi, cuma anggota (partai) yang kebetulan (duduk di) DPR, masuk munas tidak bisa apa-apa.

Dengan jadi calon setidaknya saya bisa bicara," ujar Agun. Ia ingin mengkritisi kepemimpinan Airlangga beberapa tahun ini yang dinilai tidak demokratis. Namun, setelah melakukan mediasi dengan sejumlah pihak, ia mendapat jaminan dari Airlangga akan menjadi pemimpin yang lebih demokratis nantinya. "Saya dapatkan jaminan itu dari Airlangga," ujar dia.

Aklamasi

Sementara itu, kubu Airlangga membuka kemungkinan pemilihan ketua umum Partai Golkar periode 2019-2024 dilakukan dengan sistem aklamasi. Pernyataan ini disampaikan loyalis Airlangga, Ace Hasan Syadzily, menanggapi langkah Bamsoet mundur. "Kemungkinan besar arahnya kepada aklamasi," kata Ace.

Namun begitu, menurutnya, seluruh rangkaian dalam pemilihan ketua umum sebagaimana tertuang di dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) harus dilalui lebih dahulu.

Ketua Pelaksana Munas Golkar Ades Kadir menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu kepastian terkait pengunduran diri sejumlah bakal caketum yang telah dinyatakan memenuhi syarat untuk menentukan apakah proses pemilihan dapat dilakukan dengan sistem aklamasi. Menurutnya, dua kandidat yang dinyatakan Komite Pemilihan memenuhi syarat yaitu Ali Yahya dan Ridwan Hisjam juga telah menyatakan pengunduran diri.

Munas Golkar digelar Selasa (3/12) hingga Jumat (6/12). Kemarin munas dibuka oleh Presiden Joko Widodo di Hotel Ritz-Carlton, Kuningan, Jakarta. Dalam sambutannya, Jokowi mengatakan, meski mengklaim tak melakukan intervensi, dia tak ingin melihat Partai Golkar panas dan terpecah menjadi partai baru akibat perebutan kursi pemimpin.

Pasalnya, hal itu akan membuat politik nasional ikut panas. Hal ini dikatakannya saat menyinggung persaingan antara Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo. "Kalau Golkar panas, perpolitikan nasional ikut panas. Sebetulnya juga enggak apa-apa, tapi kalau ada jalan persaudaraan, kerukunan, mengapa pilih yang panas-panas?" ucapnya.

"Kalau Golkar pecah, jadi partai baru lagi. Itu kekhawatiran saya. Golkar partai besar, jadi aset besar negara Indonesia," ia melanjutkan. Menurut Jokowi, negara saat ini butuh stabilitas politik, terutama untuk menjaga perekonomian. Ia pun tak ingin Indonesia menjadi Hong Kong atau Chile yang ekonominya bergejolak akibat politiknya tak stabil. "Kalau stabilitas politik goyang sedikit, sangat berbahaya. Nggak ada investasi kalau stabilitas politik nggak baik," imbuhnya. (cnn-19)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar