TAJUK RENCANA

Bisa Setara, Maju Bersama

Peringatan Hari Disabilitas Internasional setiap 3 Desember diharapkan semakin menumbuhkan kesadaran masyarakat akan kehadiran disabilitas. Yakni kesadaran untuk menghilangkan penilaian negatif terhadap penyandang disabilitas. Juga memberikan dukungan riil untuk memajukan kiprah, kemampuan, dan bermuara pada kesejahteraan. Untuk merealisasikan harapan itu perlu upaya nyata dari pemerintah dan masyarakat luas memperhatikan kebutuhan, terutama aksesibilitas yang setara dengan nondisabilitas.

Kita menaruh apresiasi ketika Presiden Joko Widodo mengangkat Wamen Agraria dan Tata Ruang Surya Tjandra dan staf khusus Angkie Yudistia. Pengangkatan keduanya di antara orang-orang dekat Presiden menunjukkan kepercayaan diri. Semua warga negara tidak ada pembedaan dalam memperoleh kedudukan, bahkan di posisi strategis di pemerintahan. Kita berharap pengangkatan dua pembantu Presiden itu memberi efek domino bagi tenaga kerja inklusi dalam mendapatkan pekerjaan layak.

Di dunia seni kita juga memberi hormat kepada orang-orang yang menggandeng kalangan disabilitas, berkolaborasi membentuk keindahan paduan. Penyanyi Yura Yunita, misalnya, membuka ruang-ruang untuk berlatih musik bersama mereka. Banyak pula seniman visual yang bekerja bersama mereka di bidang fotografi dan videografi membuat karya besar. Kita juga mengenal seorang pemilik butik batik di Semarang, Dea Valencia, yang merengkuh 60 persen pegawai dari kalangan disabilitas.

Begitu pula di dunia olahraga. Panggung paralimpiade menjadi ajang pembuktian betapa mereka memiliki prestasi moncer untuk menunjukkan prestasi. Bahkan mampu mengibarkan bendera kebangsaan di ajang internasional. Pendek kata, mereka memiliki hak sama untuk bisa mengembangkan bakat, berkiprah, dan bekerja sesuai bidang ketertarikannya. Kita akui hal itu belum banyak tumbuh. Namun kesadaran untuk setara setidaknya telah membuka fasilitas ataupun ruang ekspresi bagi mereka.

Amanat Undang-Undang No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menyatakan adanya layanan publik yang ramah terhadap masyarakat dengan kemampuan berbeda. Namun praktik di lapangan kita masih menjumpai adanya diskriminasi. Belum semua perguruan tinggi memberi akses bagi mereka, misalnya untuk bisa naik ke gedung bertingkat. Fasilitas umum seperti trotoar belum sepenuhnya memperhatikan hak-hak mereka yang menggunakan kursi roda dan penyandang tunanetra.

Untuk itulah kiranya pemangku kebijakan di berbagai bidang perlu bersepakat untuk menekan diskriminasi layanan. Kita perlu memberi perlindungan, penghormatan, dan penyetaraan terhadap tenaga kerja inklusi ataupun kelompok rentan. Satu hal mendasar untuk menekan perbedaan perlakuan itu adalah tidak memperlakukan disabilitas bersandar pada rasa belas kasihan (charity based), tetapi kesamaaan sebagai warga negara. Ini sebagai komitmen untuk bisa maju bersama karena semua setara.


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar