WIKA Garap Proyek Prestisius di Senegal

JAKARTA - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) akan mengerjakan proyek Goree Tower tahap 1 di Senegal. Kerja sama itu ditandai dengan penandatangan kontrak antara WIKA dan L’Agence De Gestion Du Patrimoine Bati De L’Etat (AGPBE).

Direktur Operasi III WIKA, Destiawan Soewardjono menjelaskan, proyek prestisius Goree Tower di Senegal itu memiliki nilai kontrak tahap 1 sebesar 50 juta euro atau setara Rp 782 miliar dengan kurs Rp 15.640 per 1 euro yang menjadi bagian dari kesepakatan total sebesar 250 juta euro.

Proyek ini, kata Destiawan, merupakan tindak lanjut konkret business deals antara Pemerintah Senegal dengan WIKAdan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank pada acara ”Indonesia- Africa Infrastructure Dialogue (IAID)” di Bali pada Agustus 2019 lalu.

”Kerja sama yang akan direalisasikan ini merupakan salah satu milestone kiprah BUMN karya Indonesia di Afrika Barat, di mana WIKAmemang mampu mengerjakan proyek mulai dari social housing di Afrika sampai proyek besar dan prestisius seperti Goree Tower Project ini,” kata Destiawan melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (3/12). Dia mengungkapkan, pasar luar negeri adalah potensi yang harus diimplementasi.

Menurut dia, masuknya WIKA di pasar infrastruktur dan gedung Afrika sesuai dengan strategi bisnis WIKAyang menyasar negaranegara berkembang dengan kebutuhan infrastruktur yang tinggi.

Penandatangan kontrak proyek Goree Tower tahap 1 di Senegal itu dilakukan pada Senin (2/12) oleh AGPBE yang diwakili Direktur Operasi Yaya Abdoul Kane dan WIKA diwakili oleh Direktur Operasi III yang membawahi Divisi Luar Negeri Destiawan Soewardjono. Turut hadir menyaksikan antara lain Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dan Menteri Bappenas Senegal Cheikh Kante.

Perluas Ekspor

Lebih lanjut Destiawan menjelaskan, proyek prestisius Kawasan Mixed-Used Building dengan tipe proyek full design and build itu dikerjakan oleh WIKA selaku kontraktor utama dengan masa pelaksanaan 24 bulan. Adapun cakupan pekerjaan perseroan meliputi pembangunan hotel bintang lima dengan 33 lantai, sky dining, gedung perkantoran, convention center, dan residential apartment.

Untuk pelaksanaan proyek, WIKA mendapat fasilitas pembiayaan National Interest Account (NIA) dengan skema buyer’s credit melalui LPEI. Destiawan menjelaskan, penyaluran fasilitas itu sejalan dengan strategi pemerintah untuk memperluas ekspor Indonesia ke negara nontradisional termasuk Afrika. Buyer’s credit merupakan fasilitas yang hanya dapat disediakan oleh LPEI.

”Dengan tujuan untuk meningkatkan ekspor Indonesia dari sisi pembeli atau demand side, skema ini merupakan bentuk nyata dari peran LPEI sebagai fill the market gap,” ungkapnya Dia menambahkan, tantangan ke depan adalah bagaimana sinergi yang telah terjalin baik dengan LPEI dapat memfasilitasi WIKAdan perusahaan Indonesia lainnya untuk dapat memenuhi kapasitas pembiayaan infrastruktur negara-negara Afrika yang trennya semakin naik dari tahun ke tahun.

Terutama dengan adanya kepercayaan dari beberapa negara di Afrika untuk menjadikan BUMN Indonesia sebagai mitra strategis mereka. ”Apabila itu dapat terealisasi, maka akan meningkatkan peluang untuk membuka pasar lebih luas lagi bagi WIKAdan perusahaan Indonesia lainnya dalam melakukan ekspansi ke sejumlah negara, khususnya di Wilayah Afrika,” jelas Destiawan. (sb,dtc-46)


Tirto.ID
Loading...
Komentar