Khawatir Kretek Terancam, Petani Tembakau Demo

SM/Raditia Yoni Ariya : AKSI DEMONSTRASI : Para petani tembakau menggelar aksi demonstrasi di halaman Kantor Bupati Temanggung, Senin (2/12).(36)
SM/Raditia Yoni Ariya : AKSI DEMONSTRASI : Para petani tembakau menggelar aksi demonstrasi di halaman Kantor Bupati Temanggung, Senin (2/12).(36)

TEMANGGUNG - Para petani tembakau di Kabupaten Temanggung menyambut tim dari Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) ke Setda Temanggung dengan berunjuk rasa. Mereka khawatir, upaya Kemenko PMK yang menginisiasi revisi PPNo 109 Tahun 2012, bakal menghasilkan aturan yang melarang penggunaan rempah-rempah dalam industri rokok sehingga mematikan petani. Mereka berunjuk rasa di halaman kompleks Setda yang juga Kantor Bupati

Temanggung dengan orasi dan membentangkan poster bernada protes, Senin (2/12). Sebelumnya, para petani berkumpul di Alun-alun Temanggung dan jalan kaki 2 km menuju Kantor Setda di Jalan AYani. Mereka tiba di Setda pukul 11.00 saat kunjungan perwakilan dari Kemenko PMK.

Wasekjend Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Nasional Agus Setiawan mengatakan, sebenarnya ada seribu petani dari lereng Gunung Prau, Sindoro, dan Sumbing yang berunjuk rasa. Sejumlah poster pun dibentangkan, antara lain bertuliskan ”Tolak Perda KTR”, ”Tolak Impor Tembakau Harga Mati”, dan ”Tolak PP No 109 Tahun 2012”. ”Kemenko PMK sebagai pihak yang menginisiasi perubahan PP Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Produk Tembakau Bagi Kesehatan dan mendorong terwujudnya Peraturan Daerah (Perda) kawasan tanpa rokok (KTR). Kami datang untuk menyambut mereka.

Sebab ini terkait PP 109 Tahun 2012 yang akan dikembalikan lagi revisinya padahal sudah kita tolak,”ujarnya. Dia mencurigai, isi krusial revisi PP akan mengatur perihal rokok yang tidak boleh mengandung bahan rempah, termasuk cengkih. Jika hal ini diatur, maka kiamat bagi petani tembakau Temanggung. Sebab tembakau Temanggung digunakan sebagai bahan pembuat rokok kretek. ”Jika PP dikembalikan lagi rokok tanpa rempah dalam hal ini cengkih, berarti rokok kretek Indonesia akan mati. Ini tidak prorakyat. Kami juga menolak perda kawasan tanpa rokok. Tanpa kawasan tanpa rokok, Temanggung aman-aman saja. Kami juga menuntut pembatasan impor tembakau. Rumah sakit juga KTR-nya jangan besar-besar karena RSUD Temanggung dibangun dari hasil cukai tembakau,” katanya.

Kecewa

Sutopo, perwakilan petani lainnya mengungkapkan kekecewaannya. Sebab dalam beberapa tahun terakhir, petani tembakau terus disudutkan dengan berbagai dalih, seperti berkedok kesehatan. Padahal di balik itu, sesungguhnya ada perang dagang dengan industri rokok asing dan ada skenario besar. Ironisnya pemerintah seperti tak berdaya terhadap tekanan asing dan seolah tak mampu melindungi rakyatnya. ”Kami kecewa bertahun-tahun berjuang tapi tidak dihiraukan pemerintah. Maka kedatangan kami ini mewakili petani tembakau seluruh Indonesia,” katanya. Bupati Temanggung Muhammad Al Khadziq menemui petani dan menjamin tidak akan membuat atau mengesahkan Perda KTR di Kabupaten Temanggung. Dia mengaku mendukung petani tembakau. Sebab wilayahnya memang sentra penghasil tembakau sebagai soko guru perekonomian utama. Apalagi selama ini petani tembakau didera berbagai masalah, seperti UU Kesehatan, kenaikan cukai rokok, dan tembakau impor yang berdatangan dan merugikan petani. ”Hanya kawasan-kawasan tertentu seperti rumah sakit dan sekolah yang tidak boleh merokok. Meski demikian, akan kami siapkan ruang untuk merokok,” katanya.

Kepala Bidang Penyakit Tidak Menular Kemenko PMK Rama Fauzi menuturkan, soal KTR diserahkan kepada daerah (Pemkab Temanggung). Hanya saja, dia memberikan pengertian bahwa kawasan yang ada larangan merokok adalah rumah sakit dan sekolah. ”Kami merevisi PP 109, masih dalam pembahasan. Kami meminta tidak merokok di sekolah, di rumah sakit, dan melarang anak-anak merokok. Jadi yang mau diperangi itu merokok bagi anak. Jika ada aturan tambahan, bukan berarti kretek dilarang. Bahan tambahan yang dimaksud itu, seperti perasa, jadi bukan cengkih,” katanya. (K41-36)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar