TAJUK RENCANA

Ajar Ngaji Kaum Milenial

Kaum milenial bukanlah sosoksosok yang hanya bisa dikaitkan dengan budaya populer. Mereka bisa juga dihubungkan dengan tindakan-tindakan yang subtil dan sublimatif semacam mengaji, membahas bagaimana berbusana sesuai syariat, dan lain-lain. Hal itu terlihat dari bagaimana para remaja dari Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Agung Jawa Tengah, dan Masjid Agung Semarang memelopori kegiatan “Ajar Ngaji” dan “Kajian Muslimah” untuk kaum milenial pada 1 Desember di Semarang. Apa yang hendak dicapai oleh para remaja masjid ini? Mereka mengajak kaum milenial untuk menemukan masalah dan kemudian berusaha mencari solusi dari para ustaz-ustaz muda. Apa hasilnya?

Dalam kegiatan “Ajar Ngaji” di depan Masjid Baiturrahman, misalnya, ada remaja-remaja, bahkan di antaranya ada anak-anak, yang mencoba meminta diajari membaca Alqur’an. Ada pula yang minta solusi mengatasi depresi sesuai syariat. Ini berarti gerakan remaja dari tiga masjid yang didukang Suara Merdeka Network menemukan respons tepat.

Tentu tidak mudah mengajak kaum milenial memasuki dunia “kajimengaji”. Dibutuhkan ustaz-ustaz istimewa yang tak menggunakan metode zadul untuk menarik kaum milenial ke kegiatan-kegiatan berkonotasi kereligiositasan. Misalnya saja para ustaz, antara lain KH Multazam, terjun langsung ke jalan menawarkan pemecahan segala masalah berbasis Al-qur’an dan Hadis kepada kaum milenial atau siapa pun yang menikmati car free day (CFD). Hasilnya cukup efektif.

Banyak kaum milenial yang merubung acara “Ajar Ngaji”. Tema-tema yang harus digunakan untuk menarik kaum milenial untuk mengaji tak boleh sembarangan.

Kajian-kajian yang membosankan dan tidak kekinian akan ditampik oleh para remaja. Karena itulah sangat tepat ketika remaja tiga masjid mengundang desainer busana muslimah Ina Priyono dan Dr H In’amuzahidin (Gus In’am) untuk mengaji “muslimah yang fashionable “ di Masjid Agung Jawa Tengah.

Hasilnya memang ada pelajaran mengenai busana muslimah yang bisa disyiarkan, dikenakan, dan diperdagangkan. Apakah respons dari kaum milenial terhadap upaya-upaya yang dilakukan remaja tiga masjid cukup positif? Dari sisi jumlah masih belum sesuai yang diharapkan. Kaum milenial ternyata masih pilih-pilih ustaz. Begitu ustaznya tidak gaul, mereka tak akan mendatangi pengajian itu. Kaum milenial juga memilih tema yang relevan bagi diri mereka. Jika tak berguna untuk kekinian, mereka juga tak akan mendatangi pengajian tersebut. Jadi, memang diperlukan kiat-kiat baru untuk menarik kaum milenial ke dalam aneka pengajian. Karena mereka masuk dalam era digital, ya penyajian yang melibatkan hal-hal yang digital perlu dicoba dalam ceramah para uztaz. Karena mereka lebih sainstis, ya para ustaz mesti mengaitkan sains dengan Al-qur’an dan Hadis ke dalam ceramah-ceramah untuk kaum milenial. Karena mereka hidup dalam budaya populer, ya para ustaz menghubungkan budaya populer dengan kesyariatan. Inilah tantangan yang harus diatasi ketika para ustaz berelasi dengan kaum milenial. Tak gampang tetapi tak mustahil untuk diwujudkan.


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar