TAJUK RENCANA

Hukum Berat Pencemar Bengawan Solo

Pencemaran air sungai Bengawan Solo perlu segera ditangani. Pemerintah didorong untuk mengambil tindakan tegas terhadap pihak-pihak, baik perorangan maupun korporasi, yang diduga membuang limbah ke sungai terpanjang di Pulau Jawa itu. Pelakunya tidak bisa dibiarkan.

Mereka harus diberi sanksi tegas agar perbuatannya tidak terus menerus terulang. Tindakan tegas itu sebagai wujud penegakan hukum, sekaligus kepedulian lingkungan, dan menjaga kelestarian sungai Bengawan Solo. Pencemaran air bengawan sejatinya telah dikeluhkan sejak lama, setidaknya empat tahun ini. Menjelang kongres Sungai 2015, pakar lingkungan Undip Prof Sudharto P Hadi menyebut 136 sungai di Jateng, termasuk Bengawan Solo tercemar. Sungai tersebut tercemar sampah domestik majpun industri. Polusi itu sangat membahayakan manusia. Apabila air sungai yang tercemar itu dikonsumsi, masyarakat bisa terganggu kesehatan. Karena itulah dibutuhkan langkah dan kebijakan serius. Air Bengawan Solo, seperti disampaikan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jateng, tercemar limbah industri kecil, kotoran ternak babi, dan limbah alkohol.

Warna air berubah menjadi kehitam-hitaman, berbusa, dan berbau tidak sedap. Industri besar diduga turut memperparah pencemaran sungai yang membentang dari Jateng hingga Jatim itu. Seharusnya industri kecil maupun besar serta peternakan memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Baik pengolahan limbah milik individu/korporat maupun komunal. Hanya saja implementasi bahwa setiap industri wajib memiliki IPAL senyatanya tidak bisa berjalan maksimal.

Pemprov bersama dengan Pemkab Sukoharjo, Kota Solo, Karanganyar, Blora, dan Wonogiri kini mengumpulkan dan meneliti sampel air.

Dari sampel tersebut diharapkan bisa diketahui sumber limbah industri yang mencemari. Apakah dari limbah industri kecil, kerajinan batik, kotoran ternak, rumah tangga, atau pengolahan alkohol yang tumbuh subur di pinggiran Bengawan Solo. Kita kerap melihat sungai tak lagi menjadi sumber bahan baku air untuk konsumsi. Mengapa? Ibarat kata, Anda ingin mencari apapun, silakan pergi ke sungai. Di sanalah tempat pembuangan aneka sampah. Mulai dari plastik, alat rumah tangga, perkakas, kasur, alat elektronik, termasuk kulkas pun ada. Ini menunjukkan buruknya perilaku masyarakat untuk menjaga kelestarian sungai. Membuang sampah tidak pada tempatnya dapat dikenai sanksi, apalagi membuang limbah sembarangan. Pencemaran Bengawan Solo menjadi renungan bersama.

Akankah kita membiarkan anak-anak kita menderita kelainan fisik akibat mengonsumsi air sungai yang tercemar? Relakah ekosistem sungai tak lagi menjadi sumber kehidupan bersama? Pemerintah diminta tidak ragu-ragu untuk memproses hukum pihak-pihak diindikasikan sebagai pencemar sungai. Bila terjadi pembiaran, bengawan akan semakin menjadi bak sampah raksasa. Kita tak ingin aliran air Bengawan Solo tercemar semakin jauh.


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar