Memunculkan Kampung Lele

Lurah Meteseh

SM/Eko Edi : SM/dok : Waluyo Joko Irianto : GUYUB WARGA : Dalam berbagai kesempatan, Lurah Meteseh Waluyo Joko Irianto akrab dengan warganya.(22)
SM/Eko Edi : SM/dok : Waluyo Joko Irianto : GUYUB WARGA : Dalam berbagai kesempatan, Lurah Meteseh Waluyo Joko Irianto akrab dengan warganya.(22)

Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, termasuk kawasan pinggiran Kota Semarang. Kelurahan ini tergolong padat, karena wilayah seluas 96 hektare ini didiami 22.000-an jiwa. Penduduknya heterogen. Namun, memiliki kehidupan religi yang kuat. ''Mayoritas Islam, hampir tiap RWada pondoknya. Yang terbesar Al Fitroh,'' ujar Lurah Meteseh, Waluyo Joko Irianto. Sektor ekonomi pun menggeliat dengan keberadaan UMKM. Di RW26, ada ''RW Guyup Rukun'' yang mayoritas warganya membudidayakan ikan lele. Setiap warga, setidaknya memiliki 2-4 kotak kolam lele. ''Ada lahan yang dikelola warga untuk ternak lele. Wah kalau pagi di sana ramai banget, warga kasih makan lele. Mereka dapat bimbingan dari Undip,'' ujar lurah dari 31 RWdan 190 RTitu. Di luar itu, ada ''Kampung Batik'' di RW5 yang dulunya binaan Batik 16. Kelompok PKK ini menamakan Batik Tapak Dara. ''Dulu bernama Batik Kelurahan Meteseh. Tapi tidak boleh karena menggunakan nama wilayah, akhirnya ganti Batik Tapak Dara.

Administrasinya juga dapat binaan dari Undip,'' jelasnya. Setiap Minggu pagi, Meteseh juga menggelar car free day. Acara ini tidak hanya mengumpulkan 200-an UMKM dengan aneka produknya dari kuliner hingga fashion, tetapi juga penampilan kesenian, dan olahraga. ''Setiap Minggu pagi hidup sekali di sini, ada lomba tari, lomba gambar, hingga tari Gambang Semarang.

Jadi sarana rekreasi warga,'' ujar pria asal Banjarnegara ini yang juga membina rumah pintar dengan produksinya aneka kerajinan, seperti tas rajut, kopiah rajut, dan sebagainya. Pada musim kemarau, Meteseh seperti gadis yang sedang mekar. Tetapi jika musim hujan tiba, ia seperti gadis pemurung. Sebagai Lurah, Waluyo Joko Irianto pun waswas. Pria yang lama bekerja di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil itu bersama warga harus bersiaga menghadapi banjir. Ancaman banjir ini terutama berada di RW26. ''Wilayah itu sebetulnya bukan permukiman. Itu kawasan limpasan air, tetapi oleh pengembang dibuat perumahan yang dijual murah. Kalau hujan, banjir terus. Kawasan ini yang kami sulap menjadi tempat budidaya lele. Biar ingatan orang berubah dari banjir ke lele..hahaha..,'' ujar suami dari Rubiyati itu.

Sebagai antisipasi, ayah dari dua gadis, Titik dan Dewi, bersama warga dan bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana membuat sistem peringatan banjir yang dipasang di sungai. Di tiap-tiap rumah ada handy talky. ''Kalau banjir ada peringatan dini dari alat tersebut,'' terang dia. Lelaki yang ditugaskan sebagai Lurah Meteseh sejak September 2017 itu menyatakan wilayahnya sangatlah unik. Kalau boleh memilih, dia sejujurnya memilih tugas di tempat lain. ''Tapi saya ditugaskan di sini, saya terima, pada akhirnya saya didukung warga. Saya senang, bisa diterima dan membuat senang warga,'' ujar dia yang dalam minggu pertamanya sebagai lurah di Meteseh dituntut melakukan gebrakan baru itu. Ia bersyukur, nasib baik berpihak padanya. Ia bisa memenuhi keinginan warga.(Eko Edi Nuryanto-22)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar