Ingin Membuat Kampung UMKM

Lurah Cangkiran

SM/Moh Khabib Zamzami : SM/dok : Edy Siswoyo : MENJAHIT: Lurah Cangkiran, Edy Siswoyo melihat proses pembuatan tas dan kerudung milik Indah dan Nuning, warga RT 4 RW 8, Kelurahan Cangkiran. (22)
SM/Moh Khabib Zamzami : SM/dok : Edy Siswoyo : MENJAHIT: Lurah Cangkiran, Edy Siswoyo melihat proses pembuatan tas dan kerudung milik Indah dan Nuning, warga RT 4 RW 8, Kelurahan Cangkiran. (22)

KELURAHAN Cangkiran telah memiliki Kampung Tematik Sayur di RW1. Dengan memanfaatkan lahan seluas 6x30 meter milik Dinas Pertanian Kota Semarang, ditanam aneka sayuran, seperti tomat, cabai, sawi, kenikir, hingga kacang panjang ditanam. Lurah Cangkiran, Edy Siswoyo, juga mewajibkan setiap warga agar memiliki lima pot tanaman sayur di rumahnya. Di teras rumah yang rata-rata seluas 1-2 meter itu warga menanam sayur-sayuran. Ada yang menanam menggunakan media pot, ada pula yang menggunakan plastik polibag. Tujuannya sederhana, selain bisa dijual, hasil panen sayuran juga bisa dikonsumsi sendiri. "Kebetulan masyarakat suka menanam. Jadi, meski memiliki lahan sempit warga tetap bisa menanam," ujar Edy, baru-baru ini. Tidak seperti kampung tematik lain yang seringkali mengkhususkan satu jenis sayuran.

Di Kampung Sayur ini, warga menanam berbagai jenis sayuran. Lurah kelahiran Semarang, 28 Januari 1965 itu, menilai berbagai sayuran itu ada yang cocok ditanam saat musim hujan dan ada yang cocok saat musim kemarau. Dengan demikina, dengan tidak mengkhususkan satu jenis tanaman, warga tetap bisa panen pada musim apa pun. Berbicara Kampung Sayur tak melulu soal aneka sayuran yang ditanam warga atau edukasi tentang kiat menanam sayuran. Namun, di sana juga terdapat tempat istirahat, setidaknya ada lima buah gazebo yang disediakan. "Di sana juga ada spot foto berlatar belakang Gunung Ungaran. Pengunjung bisa mengabadikan momen di tempat tersebut," imbuhnya.

Kembangkan Ekonomi

Setelah berhasil mengembangkan Kampung Sayur di RW1, ayah empat anak itu berencana memaksimalkan potensi yang ada di RW8. Dia melihat, mayoritas warga RW8 memiliki kegiatan usaha yang cukup baik. Para pengusaha di RW8 memang lebih banyak dibandingkan RW lain. Ada yang memiliki usaha produksi makanan seperti telur asin, roti, keripik singkong, dan lain-lain. Ada juga yang memproduksi kerudung, godibag, hingga pernakpernik yang terbuat dari kulit. Selama ini mereka menjual dengan caranya masing-masing. Rata-rata menjual secara konvensional, namun ada pula yang telah memanfaatkan media sosial. Lulusan Fakultas Hukum Untag itu lantas berpikir, kenapa tidak diakomodasi saja? "Saya melihat kegiatan usaha di wilayah ini mulai tumbuh. Di sini memang banyak profesinya, maka kami coba dorong mereka agar lebih berkembang dan maju," tuturnya. Edy lantas mengumpulkan warga. Mereka diajak untuk memberikan masukan terkait potensi yang mereka miliki.

Harapannya, di RW8 itu bisa dibentuk menjadi Kampung UMKM. Setelah sepakat, nanti akan diajukan ke Bappeda. "Dengan demikian, setelah disurvei bisa dimasukkan anggaran," imbuhnya. (Mohammad Khabib Zamzami- 22)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar