Ada Wadah Kaum Difabel di Jepara

SM/dok  -  PELAYANAN DIFABEL : Diskopukmnakertrans saat memberikan pelayanan informasi kerja bagi penyandang disabilitas di Jepara. (23)
SM/dok - PELAYANAN DIFABEL : Diskopukmnakertrans saat memberikan pelayanan informasi kerja bagi penyandang disabilitas di Jepara. (23)

UNDANG-UNDANG (UU) Nomor 8 Tahun 2016 tentang Disabilitas membuat pandangan terhadap penyandang disabilitas berubah. Melalui Pasal 53, pemerintah secara tegas memberikan kesempatan kerja dengan porsi yang luas bagi para penyandang disabilitas.

Di Jepara, UU ini tampaknya menjadi perhatian serius bagi pemerintah kabupaten (Pemkab). Melalui Dinas Koperasi, UMKM, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Diskopukmnakertrans), sosialisasi terhadap perusahaan digencarkan. Bahkan, dinas ini secara khusus membuka wadah bagi penyandang disabilitas yang ingin bekerja di sektor formal maupun nonformal.

”Sejak UU Disablitas diundangkan, kami langsung bergerak, kami membuka konsultasi bagi penyandang disabilitas yang ingin kerja dan kami fasilitasi penyalurannya,” ungkap Kasi Penempatan Perluasan Kesempatan Kerja Pelatihan dan Produktifitas pada Diskopukmnakertrans Jepara.

Melalui petugas pengantar kerja, para penyandang disabilitas yang datang ke Diskopukmnakertrans diberikan pengetahuan mengenai berbagai macam kesempatan kerja di Jepara. Selanjutnya, mereka bisa memilih tempat kerja yang diinginkan sesuai dengan skill dan kemampuan yang dimiliki. Dinas kemudian bersurat ke sejumlah perusahaan yang dituju untuk memberikan rekomendasi bagi penyandang disabilitas yang ingin kerja.

”Kami berupaya memfasilitasi mereka. Tetapi perusahaan tetap bisa melakukan seleksi sesuai prosedur,” katanya. Menurutnya, sesuai amanat UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Disabilitas, pemerintah wajib menjamin proses rekrutmen, penerimaan, pelatihan kerja, penempatan dan pengembangan karier yang adil tanpa diskriminasi kepada penyandang disabilitas.

Dapat Penghargaan

Bahkan, dalam Pasal 53, diatur dengan tegas pemerintah, BUMN, dan BUMD wajib mempekerjakan dua persen dan perusahaan swasta satu persen jumlah pegawainya dari penyandang disabilitas.

”Kami gencarkan bagi perusahaan di Jepara agar mereka mematuhi aturan tersebut, yaitu dengan mempekerjakan kelompok disabilitas ini,” katanya. Melalui upaya ini, serta dengan komitmen perusahaan, pada 2018, dua perusahaan swasta di Jepara, yaitu PT Samwon Busana Indonesia dan PT Kanindo Makmur Jaya mendapatkan penghargaan dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, atas upaya penghormatan, pemajuan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas di tempat kerja mereka.

”Sebenarnya tahun lalu, kami mengajukan tiga perusahaan, tapi karena yang satu terkendala status karyawan yang masih kontrak, jadi hanya dua yang lolos dalam anugerah dari Kemenaker,” tuturnya. Beberapa perusahaan besar di Jepara saat ini sudah memekerjakan disabilitas, misalnya PT SAMI JF sebanyak 1,1 % atau 61 pekerja disabilitas, PT Kanindo 1,8 % atau 112 pekerja, PT Samwon sebanyak 1 % atau 18 pekerja, PT Jialie sebanyak 0,2 % atau delapan pekerja, dan PT Parkland seanyak 0,01% atau 3 pekerja disabilitas.

”Sebenarnya masih banyak perusahaan di Jepara yang belum menaati peraturan ini, makanya kami masih butuh sosialisasi intens kepada perusahaan agar pengelola perusahaan paham dan para penyandang disabilitas dapat bekerja sesuai kemampuannya,” ungkapnya.

Manajer HRD PT Kanindo Makmur Jaya Jepara Pungkas Hermanto menyampaikan, sejak 2017, perusahannya telah mengakomodir pekerja dari penyandang disabilitas. Mereka umumnya masuk sebagai pelamar umum atau direkomendasikan oleh Diskopukmnakertrans. Semua pekerja melalui tahap tes kesehatan yang dilakukan oleh dokter yang telah bekerja sama dengan perusahaan.

”Beberapa pelamar yang disabilitas ada catatan dari dokter, yang kemudian kami sesuaikan penempatannya jika memang lolos seleksi,” terangnya. Saat ini, jumlah pekerja disabilitas di PT Kanindo sudah lebih dari 100 pekerja. Mereka tersebar di berbagai posisi, mulai dari produksi, mekanik, hingga staf administrasi.

Para pekerja disabilitas tetap memperoleh jaminan jenjang karir sesuai dengan kinerja dengan tahapannya masing-masing. Menurutnya, perusahaan selalu memfasilitasi pelatihan dan penyesuaian sebelum bekerja, sehingga tidak ada kendala berarti selama para pekerja disabilitas ini menjalankan tugasnya di perusahaan.

Para pekerja disabilitas juga dikenalkan dengan atasan dan rekan kerjanya secara khusus, sehingga tidak menimbulkan kesalahan persepsi dan mempermudah membangun komunikasi.

Wanto (25), seorang penyandang disabilitas yang kini bekerja di salah satu perusahaan besar di Jepara mengaku memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya setelah melalui seleksi. Laki-laki yang menderita cacat pada kaki tersebut mendapatkan posisi di bagian produksi sesuai dengan kemampuannya. ”Saya senang bisa bekerja sebagaimana pekerja lain. Kami diterima baik dengan hak dan kewajiban yang sama sebagai pekerja,” terangnya. (Septina Nafiyanti-23)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar