Inovasi BBKB Yogyakarta

Ciptakan Mesin Batik bagi Milenial

SM/Gading Persada : MESIN CAP BATIK : Pegawai BBKB Yogyakarta mengecek kesiapan pengoperasian mesin Cap Batik Otomatis. (55)
SM/Gading Persada : MESIN CAP BATIK : Pegawai BBKB Yogyakarta mengecek kesiapan pengoperasian mesin Cap Batik Otomatis. (55)

Regenarasi pembatik yang semakin memprihatinkan dan kesulitan para perajin memenuhi pesanan, membuat Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta berinovasi membuat mesin batik tercanggih yang bakal menarik kaum milenial untuk mengoperasikannya.

SULIT saat ini untuk menemukan generasi muda yang mau menjadi perajin batik. Akibatnya, para perajin kekurangan tanaga kerja sehingga acap kali kewalahan dalam memenuhi pesanan. Sebab pesanan yang melimpah itu, tak diimbangi dengan peralatan serta jumlah perajin. Prihatin atas kondisi tersebut, sejumlah peneliti di Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta berupaya keras menghasilkan inovasi untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.

Akhirnya tiga peneliti dan sejumlah anggota timnya sukses menciptakan mesin cap batik canggih berbasis programmable logic controller (PLC) Demas Yogo, termasuk didalamnya. Peneliti utama di BBKB Yogyakarta itu mengaku miris pada nasib para pelaku industri kecil dan menenengah batik cap dalam memenuhi pesanan. ''Kebanyakan para pekerja mereka sudah sepuhsepuh. Memang ada anak mudanya, tapi bisa dihitung dengan jari. Regenerasi tak berjalan lancar. Karena itu, kami ciptakan mesin ini. Harapannya, anak-anak milenial tertarik mengoperasikannya,'' papar Demas di bengkel kerjanya di Gedung BBKB Yogyakarta, Selasa (19/11). Sebelum 2018, riset sudah dilakukan dan hasilnya tahun ini tercipta mesin batik cap otomatis berbasis PLC. Mesin hidrolik otomatis itu mampu menghasilkan batik cap yang lebih banyak. Alat ini membuat canting cap dan kain digerakkan secara bergantian menggunakan pneumatik berbasis kontrol PLC. Mesin ini menjadi teknologi andal dan memiliki ketahanan yang tinggi untuk produksi batik cap skala massal.

Lebih Cepat

Dalam uji coba, menurut Demas, pihaknya pernah mengecap batik di atas kain sepanjang 20 m x 1,15 m kurang dari satu jam. Meski terotomatisasi, unsur unsur keaslian masih tetap dipertahankan, seperti malam (lilin batik) yang tetap dipanaskan dengan kompor. ''Intinya menggantikan kerja manusia dengan mesin yang telah terkomputerisasi. Mesin ini bisa diaplikasikan industri batik menengah ke atas,'' tutur dia. Alat ini akan meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi batik cap. "Diharapkan pelaku IKM dapat berkolaborasi dan bekerja sama dengan kami untuk dapat meningkatkan kapasitas produksinya. Pada akhirnya, hal itu akan meningkatkan daya saing IKM batik,'' tutur Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik Titik Purwati Widowati. Kepala Puslitbang Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika, Kementerian Perindustrian Sony Sulaksono menambahkan, era Revolusi Industri 4.0 tidak hanya membawa perubahan bagi sektor industri, tapi juga dalam kehidupan pada umumnya.

Tingginya permintaan batik akhir-akhir ini, di satu sisi membuat industri batik bergeliat lagi. Namu hal ini juga menimbulkan permasalahan tersendiri terkait peningkatan kapasitas produksi batik. ''Kendala tersebut tak lepas dari proses pembuatan batik yang panjang dan rumit serta peralatan terbatas, baik secara teknologi maupun kemampuannya. Terutama, peralatan produksi batik cap yang saat ini masih mengandalkan tenaga manusia dalam proses pengecapan. Kondisi ini menyebabkan perajin batik cap kesulitan memenuhi permintaan pasar yang meningkat,'' ujarnya. Melihat masalah tersebut, inovasi tim peneliti Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta akan memberi sumbangan besar bagi perkembangan industri batik cap. (Gading Persada-41)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar