Jateng Ekspor Porang ke Tiongkok

SEMARANG -Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melepas sekitar 60 ton porang (Amorphophallus muelleri) senilai Rp 1,2 miliar produksi petani Jateng untuk diekspor ke Tiongkok.

”Umbi ini menjadi komoditas ekspor baru. Tumbuhan ini mudah dibudidayakan di mana saja,” tutur Menteri di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, kemarin. Porang diekspor dalam bentuk potongan atau setengah jadi, dan di negara tujuan dijadikan bahan baku makanan, antara lain tepung. Porang termasuk komoditas baru.

Data Badan Karantina Pertanian menunjukkan, Januari-November 2019 sebanyak 509 ton dilepas ke pasar luar negeri. Di samping Tiongkok, komoditas itu diminati sembilan negara lain, terutama Vietnam, Jepang, Thailand, Hong Kong, dan Pakistan. ”Pasarnya bagus. Tinggal digalakkan produksinya agar lebih banyak. Kalau sudah dapat pasar, komoditas apa yang bisa dikejar,” kata Syahrul.

Ia meminta semua unit kerja di bawah Kementerian Pertanian khususnya, berpikir akseleratif untuk meningkatkan ekspor menjadi tiga kali lipat. ”Tidak hanya Jateng, kami berharap provinsi lain punya kesempatan yang sama,” imbuh dia.

Barang Jadi

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyebutkan ada kesempatan mengekspor komoditas dalam bentuk jadi atau siap olah. ”Sampaikan kepada para pengusaha- pengusaha itu, ini ada porang. Mau tidak kamu (pengusaha) mengolah di sini jadi tepung, misalnya. Lalu, ekspor dalam bentuk jadi. Lihat pasarnya juga, apakah diterima. Kalau diterima, tinggal dikejar, nanti siapa (pengusaha) yang mau bikin industrinya,” ungkap Gubernur. Menurut dia, pasar ekspor komoditas lain asal provinsi ini juga tinggi. Tidak hanya porang yang selama ini tumbuh liar di ladang dan hutan, tetapi sekarang telah mulai dibudidayakan; ada pula kedelai dan bunga melati. ”Tugas saya menyampaikan kepada kepala daerah dan petani. Eh di tempatmu itu punya komoditas ini dan ini yang bisa diekspor. Kalau barang sudah ada, tinggal nanti dibantu menerapkan standar ekspornya,” kata Ganjar.

Pada saat bersamaan komoditas pertanian lainnya juga dilepas untuk ekspot. Banyak yang merupakan komoditas lama, contohnya bungkil kapuk, minyak bungkil kapuk, cengkih, jambu biji, biji pinang, kopi, sarang burung walet, dan ubi jalar. (daz-18)


Tirto.ID
Loading...
Komentar