BUDI DAYA

Ayam KUB Berpotensi Besar Dikembangkan

UNGARAN - Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) berpotensi besar untuk dikembangkan. Pernyataan itu disampaikan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo ketika mengunjungi Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) Ayam KUB Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah (Jateng) di Sidomulyo, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Selasa (19/11).

Mentan menegaskan, kalau ayam KUB betul-betul serius dikelola menjadi usaha, bisa membuat masyarakat Indonesia sehat karena cukup asupan protein.

”Di sini sudah menghasilkan ayam dengan umur di bawah 10 hari dengan varietas yang unggul. Sudah bisa beradaptasi dengan musim, punya daya tahan, dan bisa bertelur hingga 180 butir dalam setahun,” kata Syahrul.

Dalam kesempatan itu, dia menerangkan, baru-baru ini dirinya sudah bertemu dengan kelompok dan peternak. Setiap kelompoknya beranggotakan 5- 10 orang, kemudian per kelompoknya mengaku membutuhkan kredit usaha rakyat (KUR) sekitar Rp 500 juta.

Menindaklanjuti wacana itu, dirinya hendak berkoordinasi dengan para gubernur dan dinas pertanian di kabupaten/ kota. ”Kami hendak memberikan peluang bagi rakyat yang memang mau berusaha di bidang perunggasan, harus ada permodalan. Kalau tidak nanti susah lagi menghitungnya, saya kira dana KUR itu harus dijematani,” terang dia.

Bisa Ekspor

Syahrul menambahkan, peluang dan potensi pengembangan budi daya ayam KUB sangat besar serta masih terbuka. Mengingat, daging ayam dan telur ayam terus dibutuhkan sehari-hari.

Maka Kementerian Pertanian (Kementan) berharap, nantinya tidak hanya berbicara untuk mencukupi kebutuhan nasional saja. ”Mungkin suatu saat kita bisa kembangkan lagi, ataupun kita bisa ekspor ke luar negeri,” imbuh Syahrul.

Kepala BPTP Jateng, Joko Pramono menambahkan, produksi ayam KUB di UPBS Ayam KUB BPTP Jateng dinilai baru sebagian kecil. Artinya, potensi pengembangannya masih terbilang besar karena belum semua permintaannya terlayani.

”Dalam sepekan, kita baru memproduksi 12.000 ekor ayam dengan umur di bawah 10 hari dengan varietas yang unggul. Untuk itu, kita mendorong asosiasi binaan agar bisa memproduksi dan menyediakan kebutuhan ayam,” paparnya.

Menurut dia, ada pula kelompok yang sudah difasilitasi untuk program mandiri pakan. Sehingga, mereka tidak bergantung dengan pakan pabrikan. ”Sudah diberikan formulasi pakan, jadi mereka bisa membuat pakan sendiri yang kualitasnya setara pakan pabrikan,” kata Joko. (H86-46)