9 Tersangka Teroris Ditangkap di Jateng

Pemprov Lakukan Komunikasi Intensif

SM/rep detik.com - BARANG BUKTI: Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo memberi keterangan kepada pers terkait bon bunuh diri di Mabes Polri, Jakarta, Senin (18/11). Polisi menetapkan puluhan tersangka dan mengamankan barang bukti terkait bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan.(24)
SM/rep detik.com - BARANG BUKTI: Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo memberi keterangan kepada pers terkait bon bunuh diri di Mabes Polri, Jakarta, Senin (18/11). Polisi menetapkan puluhan tersangka dan mengamankan barang bukti terkait bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan.(24)

JAKARTA- Detasemen Khusus 88/Antiteror Polri meringkus sembilan orang tersangka teroris di wilayah Jawa Tengah. Mereka ditangkap di sejumlah wilayah diantaranya Solo, Sukoharjo, Boyolali dan Cilacap.

Hingga Senin (18/11), Polri berhasil mengamankan total 46 tersangka aksi terorisme dari sejumlah provinsi pasca ledakan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan. Di Sukoharjo, Tim Desus 88 melakukan penggeledahan rumah di Dukuh Gondang RT 01 RW 01 Desa Siwal Kecamatan Baki, Senin (18/11) sore.

Rumah tersebut ditempati oleh terduga teroris atas nama BK (30) yang ditangkap oleh Tim Desus 88 di depan SD Desa Manang Kecamatan Grogol, Senin (18/11) sekitar pukul 06.00 WIB. Saat penggeledahan, Tim Desus 88 mengajak Ketua RW 01, Sunarno, dan Ketua RT 01 RW 01, Mulyono untuk menyaksikan prosesnya.

Untuk proses penggeledahan sendiri berlangsung kurang 15 menit mulai pukul 16.00 WIB. Tim Desus 88 membawa dua unit HP mati beserta dosboxnya, Kartu Kelurga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP). ”Tadi pagi saya dikabari oleh petugas jika akan melakukan penggeledahan.

Saya hanya menyaksikan saja proses penggeledahannya,” ujar Ketua RT01 RW 01 Dukuh Gondang Desa Siwal, Mulyono, kemarin. Dirinya mengaku kaget ada warga Dukuh Gondang yang tertangkap petugas terduga teroris.

Tertangkapnya itu bukan disini tapi di Desa Manang Kecamatan Grogol tepatnya di depan SD Manang sekitar pukul 06.00 WIB. ”Saya dikasih tahu ada penangkapan itu sekitar pukul 08.00 WIB. Penangkapannya itu bukan disini tapi di Desa Manang pas di jalan.

Bukan warga disini asli tapi ngontrak, yang laki-laki dari Solo sedangkan istrinya dari Sumatera dan punya anak satu masih kecil,” ungkap dia. Menurutnya, yang bersangkutan berprofesi sebagai pedagang keliling. Untuk kesehariannya itu tidak pernah berbaur dengan warga sekitar atau ikut pertemuan warga. Mereka tinggal disini sudah 1,5 tahun terakhir ini. ”Kalau orangnya ramah dan baik.

Tapi tidak pernah datang ke pertemuan RT. Tinggal disini melapor ke RT dengan mengumpulkan identitas diri dan tadi sudah dibawa petugas,” paparnya. Kapolsek Baki, AKP Dhani Herlambang mengatakan, penangkapan dan penggeledahan merupakan kewenangan Densus 88. ”Kami tidak tahu apa-apa. Itu semua kewenangan Densus 88,” terangnya.

Sebelumnya Densus 88 juga sudah menangkap terduga teroris di Dusun Jatiarum RT 02 RW11 Desa Mranggen Kecamatan Polokarto, Minggu (17/11) malam. Sehari sebelumnya, masih di wilayah Sukoharjo, Tim Densus 88 juga menangkap terduga teroris, Imam (35) di rumah kontrakannya di RT 2 /11 Jatiarum, Desa Mranggen,Kecamatan Polokarto.

Imam merupakan pedagang online yang tinggal bersama istri dan empat orang anaknya sejak satu tahun lalu. Warga asli Jombor, Sukoharjo ini kabarnya kerap menjadi khotib di masjid yang tak jauh dari rumah kontrakan tersebut. ”Dia orangnya baik, ramah orangnya.

Selalu salatnya lima waktu berjamaah di masjid,” kata Ketua RT2, Ahmad Sutrisna. Selama bergaul dengan tetangga, Imam juga tak pernah menunjukkan sikap berbeda. Termasuk saat berdiskusi masalah agama tidak pernah melenceng dari ajaran Islam.

Karena itu warga kaget saat tim Densus menangkap yang bersangkutan seusai shalat Isya pada Minggu (17/11) malam. Imam sendiri bersama keluarganya menempati rumah kontrakan milik kakak Ahmad Sutrisna sejak 1 tahun lalu. Rumah kakaknya itu kosong karena pemilik sudah meninggal dunia.

”Katanya biaya sewanya Rp satu juta pertahun.” Sejak Imam ditangkap Densus, pihak keluarga membawa istri dan keempatnya tinggal di daerah Tawangsari, Sukoharjo. Sutrasna, warga lainnya mengaku tak menyangka tetangga sebelah rumahnya ditangkap Densus 88. Sebab selama ini Imam dikenal baik dan ramah dengan tetangga.

”Baik sekali orangnya. Ramah. Tidak aneh-aneh. Jadi kaget waktu ditangkap terus rumahnya digeledah ada pak polisi dan tentara,” katanya. Di Solo, korps berlogo Burung Hantu ini menangkap tiga orang terduga teroris, Senin (18/11). Tiga terduga teroris yang ditangkap diantaranya berinisial J yang merupakan warga Sidodadi RT 5 RW 1, Pajang, Laweyan.

Kemudian F yang merupakan warga Kauman RT 03 RW05, Pasar Kliwon dan seorang warga Nayu Timur RT 04 RW18, Nusukan, Banjarsari berinisial J. Setelah melakukan penangkapan ketiga terduga, Densus juga melakukan penggeledahan di tempat ketiganya di Pajang, Nusukan dan Kauman. Dari tiga lokasi tersebut Densus tidak menemukan adanya barang berbahaya seperti bahan peledak dan lainnya.

Melainkan hanya membawa laptop, telepon genggam, buku dan sejumlah dokumen. Ketua RW 1 Pajang, Danang Prawironoto mengatakan, penangkapan terhadap salah satu warganya dilakukan pagi hari. Menurut informasi yang didapatkannya, penangkapan dilakukan saat subuh. ”Informasinya ustaz J ini ditangkap saat hendak berangkat ke masjid untuk salat subuh.

Saya tidak menyangka ustaz J ditangkap oleh Densus. Selama ini tidak ada hal aneh, orangnya baik termasuk dalam bersosialisasi juga baik,” ucapnya. Danang menambahkan, J diketahui sebagai seorang penceramah.

Dia sudah sering memberikan ceramah ke beberapa masjid, bahkan di masjid di kampungnya J juga sering mengadakan kajian. ”Kajiannya setiap Selasa, kajiannya sama. Wong saya juga jamaahnya. Tadi yang dibawa pas penggeledahan buku dan laptop. Lebih kurang enam buku,” urainya. Sementara itu, Ketua RT04, Bambang Sujono membenarkan bahwa salah satu warganya juga ditangkap Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

Akan tetapi, dirinya tidak mengetahui secara pasti kapan penangkapan dilakukan. ”Tadi saya cuma diminta untuk menyaksikan penggeledahan. Yang ditemukan tadi handphone dan buku. Tidak ada bahan peledak,” ucapnya. Terpisah, Kapolresta Surakarta, AKBP Andy Rifai membenarkan adanya penangkapan terduga teroris di Solo.

Dirinya juga sudah dihubungi dari Densus untuk membackup dan menerjunkan tim Inafis. ”Kami diminta untuk menerjunkan tim Inafis dalam membantu penggeledahan. Setidaknya ada tiga tempat yang digeledah. Diantaranya di Pajang, Nusukan dan di Kauman. Yang diamankan diantaranya laptop, handphone, buku dan dokumen,” tegas Kapolresta.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, penangkapan 46 tersangka dilakukan di Sumatera Utara, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Kalimantan Timur. ”Upaya penegakan hukum yang dilakukan Densus 88 dan jajaran Polda sudah mengamankan atau menetapkan tersangka sejumlah 46 orang, seluruhnya ya,” kata Dedi di Mabes Polri, Senin (18/11).

Dari 46 orang itu, kata dia, 23 orang di antaranya ditangkap di wilayah Sumatera Utara dan Aceh. Mereka merupakan bagian dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Medan dengan amirnya yang berinisial Y. Kemudian, empat orang ditangkap di Banten, tiga orang ditangkap di Jakarta, sembilan orang di Jawa Tengah, enam orang di Jawa Barat, serta satu orang ditangkap di Kalimantan Timur. Dedi menyebut jaringannya masih didalami oleh Densus 88.

Kendati demikian, mereka tetap memiliki potensi untuk melakukan aksi teror di berbagai wilayah.”Mereka berpotensi melakukan teror di berbagai daerah dengan sasaran utamanya aparat kepolisian,” ujar Dedi.

Komunikasi Intensif

Untuk mengantisipasi terjadinya aksi terorisme, Penmprov Jateng terus melakukan komunikasi secara intensif dengan sejumlah pihak. ”Pertemuan intensif masih dilakukan dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah. Meski demikian, bukan berarti Pemprov mengawasi setiap orang,” kata Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin di Jakarta, Senin (18/11).

Menurutnya, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Badan Intelijen Negara (BIN) tentunya sudah berkoordinasi dan memiliki jajaran hingga ke daerah. Sementara itu, pihaknya juga sering melakukan pertemuan membahas kebangsaan di sejumlah pondok pesantren. ”Saat ini di ponpes sudah mulai clear dan kemudian kami melakukan hal yang sama di berbagai perguruan tinggi.

Pihak perguruan tinggi banyak memberikan masukan, dimana mereka ikut membuat survei kepada mahasiswa baru. Sehingga, dapat diketahui berapa banyak yang telah terpapar paham radikal,” ujarnya. Selain itu, pihaknya juga mengajak badan eksekutif mahasiswa, lembaga dakwah kampus untuk melakukan diskusi. Sehingga, intoleransi dan radikalisme di Jateng bisa dicegah.

”Ada juga program ‘Gubernur Mengajar’ di sekolah-sekolah. Program tersebut berisi materi anti korupsi dan integritas serta kejujuran yang muncul di sekolah. Sebab dengan adanya integritas, maka intoleransi dan radikalisme akan bisa dihilangkan,” tandasnya.

Terpisah, analis intelijen Ridlwan Habib mengingatkan agar kewasapadaan nasional perlu ditingkatkan. Apalagi, bulan Desember menjadi siklus serangan teror di negara-negara barat. ”Karena pergantian tahun menjadi momentum yang efektif untuk menyebarkan propaganda teroris. Terutama menimbulkan ketakutan.

Karena di internal mereka sudah beredar seruan untuk melakukan Christmast bombing,” ungkapnya. Hal itu harus diantisipasi oleh aparat keamanan Indonesia tanpa kepanikan. Apalagi, Densus 88 Anti Teror Polri sudah memiliki peta jaringannya.

”Tinggal keberanian dari Kapolri untuk menangkapi para terduga teroris,” ucapnya. Karena, penangkapan itu akan menimbulkan perdebatan cukup tidaknya bukti yang dimiliki oleh polisi. Namun, waktu yang tersedia bagi polisi tinggal dua minggu lagi menjelang Desember. ”Bisa saja terduga teroris ditangkap di minggu-minggu pertama Desember.

Sehingga pada saat Natal dan Tahun Baru menjadi lebih aman dan dapat dilewati tanpa gangguan. Hal ini jauh lebih baik daripada polisi mengambil resiko,” tuturnya. Karena, bila ada indikasi keterlibatan, tidak ada salahnya ditangkap terlebih dahulu. Lalu bila tidak ditemukan cukup bukti, maka menurutnya polisi bisa melepaskannya. (wel,Apl, H46,H28, J22,ant-64)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar