Tokoh Lintas Agama Serukan Pentingnya Toleransi

SM/Antara - BERGANDENG TANGAN: Pemuka agama yang tergabung dalam Inter Religious Council (IRC) Indonesia bergandeng tangan bersama seusai memberikan keterangan pers dalam rangka Hari Toleransi Internasional di Kantor CDCC, Jakarta, Senin (18/11).(24)
SM/Antara - BERGANDENG TANGAN: Pemuka agama yang tergabung dalam Inter Religious Council (IRC) Indonesia bergandeng tangan bersama seusai memberikan keterangan pers dalam rangka Hari Toleransi Internasional di Kantor CDCC, Jakarta, Senin (18/11).(24)

JAKARTA - Ketua Kehormatan Presidium Inter Religious Center (IRC) Indonesia, Din Syamsuddin bersama sejumlah tokoh lintas agama menyerukan pesan toleransi. Pesan itu disampaikan dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional yang jatuh pada 16 November.

Pertemuan lintas agama ini digelar di kantor Center for Dialogue and Cooperation Among Civilization (CDCC), Jalan Warung Jati Timur, Jakarta, Senin (18/11). Acara ini dihadiri oleh Pendeta Jacky Manuputty, Pendeta Jimmy Sorbin, Romo Heri Wibowo, Bhikkhu Indamedho, dan juga Wenshi Rudi Gunawijaya yang mewakili umat Konghucu.

Pada acara tersebut, Din mengingatkan agar umat antaragama bisa menjaga silaturahmi di tengah-tengah upaya perpecahan.

Dia meminta masyarakat mengikuti jalan tengah di masing-masing agama, yang artinya bersikap netral dan menjaga toleransi. ”Alhamdulillah Indonesia dapat kuat yang menjelma dalam bentuk kerukunan.

Bahwa ada, kami sebut gejala nyata artinya gejala tapi nggak tentang intoleransi. Oleh karena itu, kita harus hadapi secara bersama-sama dengan pendekatan agama jalan tengah, mengajak kepada anak-anak bangsa yang menampilkan pikiran intoleran bisa kembali ke jalur jalan tengah yang diajarkan agamaagama,” kata Din dalam konferensi pers.

Unsur jalan tengah yang dimaksud pengertiannya sama dengan agama lain. Toleransi lebih kepada menerima perbedaan, bahkan dianggap sebagai sunatullah hukum, kemajemukan. Din mengatakan, dalam Islam ada konsep ‘lakum dinukum waliyadin’.

Menurutnya, petikan ayat Alquran itu perlu dipahami secara aktif. ”Dalam Islam ada ungkapan ‘lakum dinukum waliyadin’. Tapi itu sering dipahami secara pasif, bagimu agamamu, bagiku agamaku. Kalau pemahaman aktif, (maknanya) kalaupun kita beda, namun harus sama-sama kita hargai, kita samasama makhluk ciptaan Tuhan,”ujar Din.

Bhikkhu Indamedho juga meminta agar masyarakat Buddha di Indonesia terus menjaga toleransi. ”Tentu sebagai agama Budha kami selalu mengingatkan masyarakat toleransi, sehingga menimbulkan keakraban di mana pun berada,” kata Bhikkhu. Wenshi Rudi Gunawijaya yang mewakili umat Konghuchu berharap, Hari Toleransi Internasional dapat menumbuhkan sifat toleransi di Indonesia.

Dia juga meminta agar kata ‘toleransi’ tidak hanya menjadi simbol atau slogan saja. ”Toleransi jangan jadi slogan, harus kita wujudkan dengan semua perbuatan kita. Jangan sebagai slogan harus samasama kita wujudkan,” jelasnya.

Romo Heri Wibowo perwakilan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) mengimbau agar semua masyarakat Indonesia bisa saling menghargai dan mengasihi satu sama lain. Dia menyebut toleransi bisa mempererat persaudaraan sesama manusia.

”Dengan demikian, toleransi menghayati, menghormati agama dan inklusif tanpa kehilangan identitas, justru semakin membangun persaudaraan sebagaimana wujud nyata penghargaan terhadap harkat martabat manusia,” tuturnya. (ant,dtc-64)


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar