Dari Haul ke-6 KH M Ahmad Sahal Mahfudh

Salah Satu Ulama Nusantara Terproduktif

SM/Agus Fathuddin - HAUL KE-6 : Pengasuh Ponpse Maslakul Huda (PPMH) Kajen, Margoyoso Pati, KH Abdul Ghofar Rozin (Gus Rozin) memimpin doa di makam KHMA Sahal Mahfudh dalam rangka haul ke-6, Sabtu lalu. Makam Mbah Sahal dalam satu kompleks dengan makam Mbah Mutamakin. (24)
SM/Agus Fathuddin - HAUL KE-6 : Pengasuh Ponpse Maslakul Huda (PPMH) Kajen, Margoyoso Pati, KH Abdul Ghofar Rozin (Gus Rozin) memimpin doa di makam KHMA Sahal Mahfudh dalam rangka haul ke-6, Sabtu lalu. Makam Mbah Sahal dalam satu kompleks dengan makam Mbah Mutamakin. (24)

Bicara tentang kealiman dan kehebatan almaghfurlah KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh seakan tak ada habisnya. Gus Baha juga tak henti-hentinya memuji kehebatan Mbah Sahal.

MENURUT Gus Baha, salah satunya kitab ushul fiqh yang sangat fenomenal adalah ”Thariqat al- Hushul ”ala Ghayatil Wushul”. Haul ke-6 berarti upacara memperingati enam tahun wafatnya Kiai Sahal. Banyak manfaat yang bisa diangkat dari upacara haul tersebut.

Bagi para kiai dan alim ulama menjadi momentum berharga saling bertemu dan bersilaturahmi. Bagi santri kesempatan mengingat-ingat kebaikan dan jasa-jasa selama almaghfurlah memimpin umat baik di lingkungan pondok pesantren Maslakul Huda (PPMH), Majelis Ulama Indonesia (MUI) maupun Nahdlatul Ulama (NU).

Sementara bagi kalangan gus-gus dan kiai muda, berkesempatan belajar ekonomi berbasis pesantren yang pernah dirintis almaghfurlah seperti lembaga ekonomi, perbankan, pertanian dan lain-lain. Kiai Sahal lahir di Kajen, Margoyoso, Pati 17 Desember 1937 dan wafat juga di Pati, 24 Januari 2014 pada usia 76 tahun.

Menurut Gus Baha, saat nyantri di Sarang (mengaji kepada KH Zubair ayah kandung Mbah Maimoen), Kiai Sahal sudah terkenal alim. Dia usia yang sangat muda, Sahal sudah berkorespondensi dengan Syeh Muhammad Yasin Al Fadani di Tanah Suci Makkah.

”Surat menyuratnya menggunakan bahasa Arab yang sangat indah menurut Syeh Yasin,” kata Wakhrodi, mantan ajudan Kiai Sahal yang kini menjadi mudir atau Direktur Maíhad Aly Pondok Pesantren Maslakul Huda (PPMH) Kajen, Margoyoso, Pati. Mbah Sahal berguru kepada Syeh Yasin ketika masih nyantri di Sarang dengan membaca karya karya Syeh Yasin dan melalui korespondensi.

”Saat masih di Sarang juga beliau mendapatkan sanad mutlaq dari Syeh Yasin yang dititipkan kepada Kiai Baidhowi Lasem saat melaksanakan ibadah haji. Kiai Sahal baru bertetemu dengan Syeh Yasin ketika naik haji,” tutut Wakhrodi.

Pada masa haji itu Mbah Sahal ngaji langsung, tetapi menurut penuturan Kiai Sahal sebagai disampaikan Wakhrodi saat di Kota Suci Makkah, Kiai Sahal lebih banyak diminta menjawab pertanyaannya para tamu atau ulama yang bertanya kepada Syeh Yasin. ”Setelah Kiai Sahal menjawab, Syaikh Yasin biasanya mengatakan shoh, shoh yang artinya benar, benar,” tuturnya.

”Sanad yang dititipkan ke Kiai Baidhowi Lasem itu pada tahun 1959, sedangkan masa bertemu Syeh Yasin itu pada 1962. Beliau belajar kurang lebih selama satu bulan itu pun hanya beberapa kali sowan di sela sela ibadah haji,” tambah Wakhrodi. Selama belajar langsung dengan Syeh Yasin, Mbah Sahal hanya diminta membaca kitab kitab tertentu.

Keutamaan Ushul Fiqh Kealiman Kiai Sahal dalam ilmu Ushul Fiqh menurut Gus Baha, harus diwarisi oleh generasi penerus dan santri-santrinya. Mengapa harus Ushul Fiqh, sebab menutu Gus Baha bisa digunakan untuk mengupas kitab suci Alquran secara baik dan benar. Atas kelebihan itulah pada 2003 UIN Syarif Hidayatullah menganugerahi Kiai Sahal Doktor Honoris Causa.

Menurut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Kiai Sahal Mahfudh termasuk sedikit dari ulama Nusantara yang produktif di dunia penulisan. Mbah Sahal mewariskan setidaknya sepuluh karya kitab, yang seluruhnya berbahasa Arab kecuali satu karya terjemahan yang ditulis dengan bahasa Jawa (Pegon). ”Karya-karya tersebut, katanya, membuat Kiai Sahal istimewa di antara ulama-ulama lain.

Kealiman beliau itu luar biasa. Susah menemukan kiai seperti beliau. Sepuluh kitab Kiai Sahal tersebut mayoritas ditulis ketika masih berstatus santri Pesantren Sarang dalam usia yang relatif muda, yakni 24-25 tahun,” katanya. Kitab ”Thariqat al-Hushul ëala Ghayatil Wushul” menurut Wakhrodi diselesaikan pada 15 Ramadan 1380 H (3 Maret 1961).

”Kitab ini berisi taíliqat (penjelas) atas Ghayatul Wushul yang merupakan syarah (penjelasan) atas Lubbul Ushul (kedua kitab terakhir adalah karya Zakaria al-Anshari). Kitab Lubbul Ushul masuk kategori usul fiqih dan dikenal sebagai kitab yang sulit dipahami para santri karena kalimatnya sangat padat dan mengandung makna yang dalam,” ucapnya.

Kitab lainya karya Mbah Sahal yaitu ëíats- Tsamarat al-Hajayniyahíí yang selesai ditulis pada 15 Rabií al-Tsani 1381 (26 September 1961). Kitab ini termasuk salah satu karya orisinal Kiai Sahal, alias bukan syarah atau hasyiah terhadap karya ulama lain.

Ditulis dalam bentuk nadhamdan dilengkapi penjelasan di bawahnya, kitab ini menerangkan makna dari istilah-istilah yang sering dipakai dalam kitab-kitab fiqih. Misalnya, ketika disebutkan al-imam dalam fiqih, tanpa nama seseorang di belakangnya, maka ia merujuk pada Imam al- Kharamayn Abd al-Malik ibn Abi Muhammad Abdullah al-Juwaini (419-478 H/1028-1085 M).

Jika kata yang sama muncul dalam usul fiqih dan mantiq, maka itu merujuk pada Fakhr al-Din Muhammad al-Razi (543-606 H/1149- 1210 M). Sementara itu, kalau disebutkan kata al-syaykh dalam fiqih, itu berarti Abu Ishaq Ibrahim ibn Ali al-Syairazi (393-476 H/1003- 1083).

Kitab ëíal-Fawaíid al-Najibahíí menurut Wakhrodi selesai ditulis pada 8 Jumadil Ula 1381 (18 Oktober 1961), kitab ini merupakan syarah atas matan yang ditulis sendiri oleh Kiai Sahal, yakni al-Faraid al-Ajibah fi Bayan Iírab al-Kalimat al-Gharibah.

”Dengan demikian, kitab ini juga termasuk dalam kategori karya orisinal. Matan yang disusun dalam bentuk nadham ini terdiri dari 89 bait dan, sebagaimana terbaca dari judulnya, menjelaskan iírab (tata bahasa) kata-kata dalam bahasa Arab yang dianggap aneh,” ucapnya.

Dari sekian kata-kata yang secara ilmu nahwu aneh, Kiai Sahal membahas 34 kata, seperti kata aidlan dan ashlan yang selalu dibaca nasab, baik dalam bentuknya sebagai masdar maupun hal. Yang cukup populer Kitab ëíal-Bayanul Malmaí an Alfadhil Lumaíí.

Dari judulnya, dapat dipahami bahwa ini adalah penjelas atas kitab al-Lumaí fi Ushulil Fiqh karya Abu Ishaq Ibrahim al-Syairazi. Kitab ini sebetulnya telah rampung ditulis dalam bentuk taíliqat di kitab al-Lumaí pada Jumadil Ula 1381 H (Oktober 1961), tapi baru disalin secara terpisah pada 28 Rabiíul Awal 1418 H (18 Oktober 1997). (Agus Fathuddin Yusuf-64)

 

 


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar