Tren Rambut Warna Teh Susu

Fokus EM
Fokus EM

TONE hangat rambut yang terilhami dari aneka warna teh susu (milk tea) masih disukai pasar. Kreativitas para penata gaya rambut (hairstylist) menerapkan kepekatan warna menjadi kunci daya tarik kecenderungan atau tren pewarnaan bertanda pagar (tagar) #milkteahair itu.

Dengan tampilan warna lembut seperti susu dan sesekali di-ombre (membentuk gradasi warna dari terang menjadi lebih gelap) menghasilkan paduan warna yang tidak terlalu mencolok. Namun paduan warna itu masih cukup enak dinikmati.

Panata rambut dari Jepang dan Singapura semula terilhami model peawranaan rambut itu dari minuman boba ala teh susu yang menjamur dimana-mana. Mewarnai rambut pun kini seolah-olah sudah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidup Ravika Widyasari. Dialah pemilik Myvie Salon di Jalan Tegalsari Raya Kota Semarang.

Perempuan yang akrab disapa Vivi itu menuturkan mewarnai rambut mirip seperti saat menyoroti (highlight). Namun teknik balayage atau "menyapu", yang mengacu ke teknik pewarnaan rambut yang menciptakan garis warna yang perlahan- lahan menjadi terang di atas warna rambut dasar.

Teknik itu serupa dengan pewarnaan ombre, tetapi sedikit lebih lembut. Dengan lightening yang dirasa lebih ringan itu bisa memperoleh warna sesuai dengan keinginan. "Creamy lightening warnanya lebih warm bisa ke golden atau ash (abu) dan untuk tonewarna bisa disesuaikan," ujar Vivi, Sabtu (16/11).

Beberapa tema warna cukup disukai, seperti savana light blonde dan golden atau tobacco dark blonde. Lightening yang dimulai dari harga Rp 500.000 hingga jutaan itu sangat bergantung pada warna yang dipilih dan berapa kali tahapan pencampuran serta tentu saja bergantung pada panjang atau pendek rambut.

Banyak yang Meminta

Jika ingin harga lebih murah, mungkin bisa memilih cara bleaching. Namun kebanyakan konsumen agak khawatir atas pewarnaan bleaching karena membuat rambut mudah rapuh. Pewarnaan bleachingtidak akan selembut dan sehalus lightening.

Kendati banyak yang meminta konsep warna milk tea, Vivi selalu memberikan masukan saran yang sesuai dengan konsumen. "Saya pasti tanya kerja di mana? Apakah kantornya membolehkan? Jangan sampai atasan kaget atau begitu dia keluar salon kena matahari baru sadar ternyata rambutnya terang banget," ujar Vivi yang sudah Sembilan tahunan membuka usaha salon.

Dengan tone level lima, misalnya, warna yang dihasilkan lebih hangat dan tidak terlalu mencolok. Yang hendak mewarnai rambut juga perlu memastikan kondisi rambut bisa menerima. Pasalnya, jika kondisi rambut hancur atau rusak perlu treatment lebih dahulu dengan infus keratin agar kutikula rambut lebih terisi.

Rini, karyawan salah satu hotel di Surabaya, juga sering mewarnai rambutnya. Rambutnya yang cokelat sering beruban, sehingga dia harus sering mewarnai. "Biasanya warna seperti hazelnut atau brown karena dasarnya memang rambut saya sudah cokelat. Namun kalau tumbuh warnanya putih.

Jadi harus selalu colouring," kata penyuka anjing itu. Dia berpesan apa pun warna yang digunakan hendaknya disesuikan dengan warna kulit serta dikonsultasikan dengan sang piÒata rambut. Jangan sampai hanya mengikuti tren atau gaya rambut selebritas dan artis Korea, misalnya. Namun tidak cocok karena berbagai faktor. (Modesta Fiska-28)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar