BACA BUKU

Beragama dengan Cinta

PADA abad XIV Hijriah atau abad XX Masehi kegairahan kesadaran tentang pluralisme umat Islam makin menyebar. Setiap kelompok saling memahami atau menghargai kelompok lain. Pada abad itu intensitas persatuan umat Islam terasa di Indonesia, bahkan di seluruh dunia.

Kesadaran itu mengukuhkan lapisan umat manusia tentang perbedaan pemahaman dan keyakinan. Secara praktis juga timbul rasa empati terhadap kasus-kasus bom bunuh diri atas agama, mengafirkan sesama, bahkan ke caci-maki antarpemeluk agama dan umat manusia. Dari problem itulah prinsip Islam mengalami keterbukaan atau keuniversalan.

Bahkan, pada 4 Februari 2019, Al-Azhar dan Vatikan menandatangani dokumen persaudaraan umat manusia di Abu Dhabi, yang kemudian disebut Deklarasi Abu Dhabi. Penandatanganan dua komunitas besar itu diharapkan dapat mendamaikan dan merajut niat bekerja sama mengatasi tantangan kemanusiaan, termasuk musuh umat manusia berupa terorisme (Kompas, 6 Februari 2019).

Namun tak bisa dimungkiri pada senjakala abad modern kini, esensi Islam mulai terabaikan, bahkan mengalami kekacauan. Disadari atau tidak, dimensi agama meluap tetapi jauh dari laku kesalehan. Ritus dakwah agama Islam tampak membuncah, tetapi lupa pada derma Islam, yang sejatinya mengajarkan welas asih yang menjadi tetirah antarkelompok, agama, sesama.

Seperti yang disimbolkan oleh tokoh Zarathustra, Nietzsche, ”Agama sudah mati!” Realitas yang terjadi akhirakhir ini, Islam santun menjadi Islam keras lewat keterpautan paham-paham ekstrem yang lemah akan sejarah Islam dan lemah diperihal ajaran furu Islam. Di sini, pendekatan- pendekatan Islam jauh dari kedermawanan dan hanya berkelindan di tengah krisis akhlak manusia yang devisit spritualisme, sehingga penganut agama menjadi gamang.

Haidar Bagir dalam buku versi terbaru Islam Tuhan Islam Manusia: Agmana dan Spritualitas di Zaman Kacau menyebut ikhwal itu dengan ”dunia kita sedang meluruh dan zaman kacau” yang merindukan nilai spirit spritualisme dan Islam cinta. Falsafah kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama, yang memuat nilai filosofis dan ideologis tak menuai perubahan dan masih membekam dalam sikap persial.

Bergerak menjadi sentrifugal atau seperti kata Haidar Baqir, ”Inilah zaman keberlimpahan kegalauan, negeri tunabudaya, yang puncaknya penganut agama berada di zaman kacau hingga terpapar ideologi radikalisme-takfiri.” Menurut Haidar Bagir, kemerebakan sikap takfirisme yang lahir dari kelompok ektremisme keagamaan juga dipantik oleh ketimpangan ekonomi sosial, kekacauan politik, sistem pendidikan yang rapuh.

Kendati itu yang memperparah keadaan umat Islam mutakhir (meski tak semua), inilah kelemahan peradaban Islam yang berkait dengan hakikat agama itu yang perlu diatasi dan dipulihkan demi persatuan umat beragama, baik Islam maupun umat yang lain sehingga tak timbul kecemburuan sosial. Oleh karena itu, Haidar Bagir memberi resep mengatasi konflikkonflik yang makin terbuka di beberapa sekte atau mazhab itu dengan menyodorkan asas cinta spritualitas Islam.

Itu sejatinya menyadarkan kita bahwa hubungan manusia dan manusia lain disandarkan pada asas cinta kasih dan menolak kemungkaran (nahi mungkar). Menolak kemungkaran harus dijauhkan dari sikap represif, kasar, pembunuhan, dan lebih mengutamakan cara-cara persuasif dan kebijaksanaan dalam mengambil upaya penyadaran atau tindakan.

Bahkan, menurut Haidar Bagir, amar makruf nahi mungkar selalu dan harus memiliki kesadaran budaya, kemasyarakatan, dan historisitas (kondisi) sosial sebagai bekal upaya yang dijalankan, melalui penjangkaran sikap-sikap budi luhur agung, hati lapang, sabar, dan lakon kebaikan, seperti dalam ayat (Alquran Surah Al-Taubah [9]:112). Dan menurutnya, itu yang ajarkan dalam beragama.

Dakwah Beragama

Mengenai posisi umat manusia dalam beragama dan posisi agama di antara umat ada di dua katub: agama Tuhan (hanya Tuhan yang tahu) dan agama manusia (Tuhan dan manusia yang tahu). Agama Tuhan yang diturunkan atau berasal dari Tuhan yang berpindah ke wilayah manusia harus ditafsirkan dalam konteks manusia.

Sebab, seperti kata Haidar Bagir, manusia tidak akan pernah bisa bicara tentang agama, kecuali dalam konteks manusia. Agama yang dikhususkan untuk manusia selaiknya tak (boleh) dilepaskan dari unsur-unsur atau kebutuhan manusia. Begitu juga negara tak boleh lepas dari unsur kemanusiaan, kesejahteraan, berkeadilan. Itulah cara beragama dan bernegara kita yang diperoleh dari tuntunan Pancasila.

Poin paling penting, menurut Haidar Bagir, pada zaman kacau ini adalah dakwah keagamaan harus selalu mempromosikan wacana toleransi nan santun yang berorentasi pada prinsip dasar Islam cinta dan menegakkan wasathiyya atau umat yang moderat seperti yang digambarkan dalam (Alquran Surah Al- Baqarah [2]: 143). Dengan demikian, etika dakwah Islam harus didasarkan pada prinsip moderasi, keadilan, dan bersifat rasional. Bukan semata-mata yang hedonistik, utilitarianistik, dan deontologis.

Etika dakwah semata-mata harus mendasar ke ragawi yang sejalan dengan prinsip Islam dalam Surah Al-Rahman: 7 ”meletakkan neraca keadilan”, sehingga, pemangku agama merasai surga yang dicitacitakan tercipta di dunia, kebahagiaan, kenyamanan, keasyikan, dan kesejahteraan. Sementara itu, kita harus terus membangun paradigma demi mengupayakan rekonsilasi perdamaian keagamaan dan persatuan sesama umat manusia, yang hidup di alam semesta yang sama.

Supaya cita-cita Islam, ”menjunjung tinggi rasa kemanusiaan menjadi nyata”. Dan kita tahu, cita-cita Islam itu yang menjadi laku-sabda napas berkehidupan kita di dunia adalah khazanah kedamaian: ber-tawassut, ber-tawassun, i’tidal, dan ber-tasamuh dalam asas cinta. Kiranya, dengan berislam berbasis cinta yang bersumber dari spritualitas, menjadi kunci keberlimpahan berkah bagi sesama.

Maka, seperti kata Haidar Bagir, sudah waktunya rukun Islam dan rukun Iman dikembalikan kepada puncaknya, yakni rukun Ihsan pilar cinta agama. Kendati, seperti sabda Nabi, ”cinta adalah asasku” yang menjadi alasan kita menjejaki agama Islam di semesta ini. Cinta sebagai asas manusia beragama untuk mencintai semua. (28)

- Agus Wedi, mahasiswa Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Surakarta, pengelola komunitas Serambi Kata

Judul: Islam Tuhan, Islam Manusia: Agama dan Spritualitas di Zaman Kacau

Penulis: Haidar Bagir
Penerbit: Mizan
Cetakan: Kedua, Juli 2019
Tebal: 314 Halaman
ISBN: 978-602-441-108-4


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar