Istri Pelaku Rencanakan Teror di Bali

SM/Antara : RUMAH TERDUGA: Polisi berjaga di depan rumah keluarga terduga pelaku aksi bom bunuh diri Mapolrestabes Medan, di Jalan Jangka, Gang Tenteram, Medan, Sumatera Utara, Rabu (13/11).(24)
SM/Antara : RUMAH TERDUGA: Polisi berjaga di depan rumah keluarga terduga pelaku aksi bom bunuh diri Mapolrestabes Medan, di Jalan Jangka, Gang Tenteram, Medan, Sumatera Utara, Rabu (13/11).(24)

JAKARTA- Polri menyatakan istri Rabbial Muslim Nasution (24), pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, sering menemui napi teroris di LP Tanjung Gusta, Medan. Istri Rabbial yang berinisial DA tersebut berkomunikasi dengan napi itu soal rencana melakukan teror di Bali. DA juga diduga memengaruhi suaminya itu sehingga terpapar paham radikal. DAtelah diamankan tim Densus 88 Antiteror.

”Istri pelaku diduga terpapar (radikalisme) lebih dahulu dibandingkan suaminya,” ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Kamis (14/11). Dedi menerangkan, dari hasil penelusuran tim Densus dan Direktorat Siber Bareskrim, DA juga terbilang cukup aktif di media sosial. Dia kerap berkomunikasi dengan napi teroris berinisial IPS lewat Facebook. ”Dalam komunikasi itu, mereka merencanakan aksi terorisme di Bali. Itu sedang didalami,” imbuhnya.

Menurut dia, Densus juga tengah mendalami apakah Rabbial dan istrinya terkait jaringan tertentu atau tidak. Kepala LPTanjung Gusta Surta Duma Sihombing membenarkan ada napi teroris yang menghuni lapas tersebut berinisial IPS alias I alias TS alias SBS (38). ”Memang ada orangnya. Tapi kami nggak boleh ngomong atau infokan apa pun. Harus Densus,” kata Surta. IPS dipenjara setelah divonis terkait rencana bom bunuh diri di Istana Negara pada 2016. Dia juga disebut-sebut sudah disiapkan sebagai calon eksekutor atau ‘’pengantin’’ dalam rencana bom bunuh diri di Bali. Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur pada 2017 menghukum IPS dengan pidana penjara selama empat tahun dan denda Rp 50 juta subsider dua bulan kurungan. IPS lalu dipindahkan dari Rutan Mako Brimob ke LPTanjung Gusta. Sementara itu, polisi mengamankan sejumlah peluru saat memeriksa sepeda motor milik Rabbial. Wakapolda Sumut Brigjen Mardiaz Kusin Dwihananto mengatakan, pemeriksaan dilakukan oleh tim Penjinak Bom (Jibom) Polda Sumut pada Rabu (13/11) sore. ”Ditemukan beberapa barang, juga dua peluru kaliber 22,” ujar Mardiaz.

Sebelumnya, sepanjang Rabu siang hingga sore polisi menggeledah rumah pelaku. Ditemukan busur panah dari besi serta sejumlah barang lain. Densus juga masih mengejar sosok lain yang diduga terkait bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan. Kepolisian menyebut sosok itu sebagai imam atau pimpinan Rabbial. ”Saat ini kami masih mengejar sosok yang disebut imamnya. Kami sudah mengantongi identitasnya,” jelas Mardiaz. Seperti diberitakan, aksi bom bunuh diri itu terjadi Rabu (13/11) pagi. Pelaku tewas. Ada enam korban luka yang terdiri atas polisi, seorang pegawai lepas, dan seorang warga sipil. Menyusul kejadian itu, kemarin Densus 88 menangkap 10 terduga teroris di sejumlah daerah. Seorang di antaranya ditangkap di Jawa Tengah. Tiga orang ditangkap di Banten dan diduga terkait dengan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Mereka pernah mengikuti latihan militer dan perang di Suriah. Kemarin polisi juga menggagalkan pengiriman bahan peledak yang akan dikirim ke Pulau Bali dan Banyuwangi. Polisi mengamankan seorang pelaku. Bahan peledak tersebut berupa 100 detonator siap ledak beserta 5 sak potasium klorat atau serbuk bahan peledak seberat 25 kilogram. Penangkapan dilakukan di kawasan hutan Baluran di jalan raya Situbondo- Banyuwangi, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Kamis (14/11). Di tempat itu polisi menghentikan mobil Toyota Fortuner warna putih bernopol N- 1892-RQ yang dikendarai Ahmad Fauzi (42), warga Kampung Kenanga, Kelurahan Kayuputih, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo. ”Saat menggeledah, kami mengamankan sejumlah barang bukti di dalam mobil yang dikemudikan pelaku, yakni 100 batang detonator siap ledak dan 5 sak potasium klorat seberat 25 kilogram di bagasi belakang,” ujar Kasat Polairud Polres Banyuwangi AKPSubandi.

Belum diketahui secara pasti apakah barang-barang berbahaya itu akan digunakan untuk aksi terorisme atau tidak. Menurut Subandi, penangkapan itu dilakukan setelah pihaknya mendapat laporan dari masyarakat. Polisi pun membuntuti dan sengaja menangkap di area hutan Baluran yang jauh dari permukiman guna mengantisipasi apabila detonator tersebut meledak. (cnn,viva,dtc-19)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar