Kiprah FISIP UAJY

Kenalkan Gamelan sejak Usia Dini

SM/dok : BELAJAR GAMELAN : Anak-anak SD dari berbagai sekolah serius belajar gamelan dalam festival yang digelar SD Eksperimental Mangunan.(55)
SM/dok : BELAJAR GAMELAN : Anak-anak SD dari berbagai sekolah serius belajar gamelan dalam festival yang digelar SD Eksperimental Mangunan.(55)

Anak muda, konon dituding enggan bahkan tak mau melirik budaya lokal. Malah ada yang mengatakan mereka lebih tertarik dengan budaya pop hasil adopsi negara lain yang begitu masif menyebar ke segala penjuru negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, benarkah anak-anak muda negeri ini tak lagi melirik kebudayaannya?

JANGAN terlalu pesimistis memandang anakanak muda generasi bangsa. Masih ada yang mau belajar bahkan menekuni budaya tradisional meskipun memang tidak semasif generasi- generasi sebelumnya. Bahkan dalam pentas-pentas wayang kulit, beberapa dalang dibantu anak-anak yang fasih memainkan peralatan, kendang misalnya. Kemauan anak-anak muda untuk belajar mencintai budaya lokal memang perlu bimbingan, tidak serta merta. Dan ada berbagai pihak yang peduli pada anak-anak muda tersebut. Lihat saja Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya

Yogyakarta (FISIP UAJY) yang baru-baru ini menggelar lokakarya sekaligus festival gamelan untuk anak-anak. Kegiatan bertajuk ‘’Peran Tokoh dan Warisan Karya Kreatif sebagai Pembentuk Identitas Kota Yogyakarta’’ tersebut berlangsung di SD Eksperimental Mangunan. Banyak sekolah yang mengirimkan siswa didiknya mengikuti lokakarya dan juga festival. Tercatat ada siswa SD dan SMP serta komunitas yang antuasias mengikuti kegiatan. ‘’Kami mendatangkan tiga pembicara dan sembilan komunitas gamelan yang ada di DIY. Acara ini berkaitan dengan riset yang kami lakukan,’’ ungkap Dekan FISIP, FX Bambang Kusumo Prihandono MA yang selama tiga tahun ini meneliti kebudayaan lokal bersama F Anita Herawati MSi.

Kreativitas Humanisme

Menurutnya, ini sebagai bentuk implementasi temuan dalam rangka proses pewarisan dari tokoh-tokoh kreatif yang diteliti salah satunya yakni YB Mangunwijaya yang terkenal dengan sebutan Rama Mangun.

Pejuangan kemanusiaan itu sangat dekat dengan kebudayaan Jawa. Ia memprakarsai kreativitas humanisme yang dipandang sebagai percampuran tradisi, kontekstual, nilai-nilai baru yang bermuara pada penghargaan martabat manusia yang terpinggirkan. Dirinya menilai, salah satu hasil penelitian yakni kreativitas selalu memiliki akar dan dasar yang kerap dikenal sebagai tradisi.

Kekuatan kebudayaan lokal salah satunya gamelan. Karena itu Bambang mencoba mengeksplorasi dan mengembangkan sebagai suatu kreativitas melalui festival. Pastor Kepala Yayasan Dinamika Edukasi Kreatif, Basilius Edy Pr yang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut merasakan kegembiraan yang perlu dirayakan bersama terlebih karena kreativitas peserta yang tampil.

Dia berharap ide membawa gamelan kepada anak-anak usia dini tidak hanya berhenti di festival tetapi bisa berlanjut ke cakupan yang lebih luas. Mereka yang di sekolahnya ada kegiatan budaya tradisional seperti SD Eksperimental Mangunan, Berbah, SD Kanisius Totogan, Madurejo,SD Kanisius Sengkan Kaliurang, SD Kanisius Condongcatur, SD Kanisius Babadan, SD Kanisius Pondok, SD Kanisius Kalasan dan SMP Eksperimental Mangunan, Berbah, perlu mendapat apresiasi. (Agung PW-64)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar