Dikembangkan, Korporasi Petani Model Koperasi

JAKARTA - Kementerian Koperasi dan UKM mengembangkan korporasi petani model koperasi untuk hilirisasi pertanian. Inti konsep itu adalah koperasi petani bisa mengembangkan industri sendiri untuk memberikan nilai tambah bagi produksinya.

‘’Dengan demikian, koperasi bisa berperan sebagai buffer atau penyangga, sehingga petani terlindungi dari permainan harga yang dapat menyebabkan kerugian pada mereka,’’ tutur Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof Rully Indrawan workshop ‘’Korporasi Petani Model Koperasi untuk Hilirisasi Pertanian’’, kemarin.

Ia sangat yakin, koperasi petani mampu mengembangkan konsep industrialisasi dalam menjalankan usahanya untuk kesejahteraan petani sebagai anggota koperasi. Presiden juga memberikan arahan agar petani masuk industri, karena di sanalah letak nilai tambah. “Konsep dasarnya sederhana, petani melalui koperasi memiliki industri sendiri, sehingga koperasi memberi nilai tambah yang signifikan atas produk petani.

Dengan demikian, koperasi bisa berperan sebagai buffer yang melindungi petani dari dampak langsung pasar bebas atau kemungkinan kerugian usaha,” jelas dia. Cara demikian, lanjut dia, menjadikan petani sebagai penikmat terbesar atas nilai tambah yang tercipta dari proses pengolahan komoditas menjadi produk jadi atau bahan baku setengah jadi. Upaya mendorong petani ke arah industri, kata dia, sudah banyak dilakukan.

Namun, keistimewaannya melalui koperasi sebagai entitas bisnis adalah kekuatan yang dapat yang mengikat petani dan koperasi. ‘’Korporasi petani model koperasi untuk hilirisasi pertanian mendorong petani melalui koperasi untuk melakukan investasi pada industri yang dikembangkan,’’ungkap Rully.

Pihaknya telah bekerja sama dengan Agriterra dari Belanda untuk mendampingi koperasi mengimplementasikan konsep tersebut. Diharapkan, kerja sama itu menjadi proyek percontohan untuk mengembangkan sektor pertanian di berbagai daerah di Indonesia yang memiliki potensi sangat besar.

Momen Baik

Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kemenkop dan UKM Victoria br Simanungkalit menyebutkan saat ini momen yang baik untuk mengajak berbagai pihak berkolaborasi. Ditegaskan paradigma koperasi adalah lembaga ekonomi berbadan hukum yang mampu mengangkat para petani untuk maju.

“Kami ingin mengembangkan industrialisasi mulai level pedesaan,” ujar Vicky, panggilan akrabnya. Ia juga berharap dengan konsep industrialisasi, produk yang dihasilkan koperasi berstandar global. Beras, misalnya, bukan sekedar beras, dan jagung pun bukan sekedar jagung. “Kualitasnya harus global, karena kita ingin menguasai pasar Indonesia yang penduduknya lebih dari 200 juta.

Dengan korporasi pertanian, produknya lebih banyak dan bisa ekspor, sehingga neraca perdagangan membaik. Produk-produk yang dihasilkan bisa masuk dalam rantai pasok global,” papar dia. Direktur Agriterra Belanda Ces van Riij merasa senang bisa berkolaborasi dengan Kementerian Koperasi dan UKM.

Momen itu diharapkan bisa menjadi langkah awal untuk berkolaborasi dan menjadi mitra di Indonesia. “Bagi saya, kolaborasi adalah esensi utama dalam koperasi. Dengan berkumpul, menjadi langkah kita untuk membuat lingkungan, terutama koperasi dalam pengembangan pertanian supaya pertani dapat berpikir dalam mengembangkan bisnisnya,” tutur Riij.

Untuk membuat perekonomian kuat suatu negara, menurut dia, sektor agrikultur atau pertanian harus kuat. Ia sangat bangga menjadi seorang petani dan ayahnya juga seorang petani di Belanda. Dengan agrikultur yang kuat, kata dia, perekonomian Belanda saat ini sangat kuat. Begitu pun jika Indonesia mengembangkan sektor agrikultur, negara ini akan menjadi kuat. (bn-18)