Keramahan Menjadi Kunci Penting

INDUSTRI pariwisata Jawa Tengah perlu berbenah diri, tak hanya berkutat pada produk destinasi, tetapi juga bagaimana hospitality atau keramahan sungguh-sungguh ditunjukkan. Keramahan menjadi kunci penting untuk bisa membawa wisatawan kembali datang berkunjung dan membelanjakan rupiah atas semua hal yang berkait erat dengan sektor pariwisata.

Kadin Jateng terus bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan dan pihak terkait lainnya dalam hal pengembangan kompetensi hospitality. Dari sisi sumber daya manusia (SDM), tak kurang-kurang aneka kegiatan inhouse training dilakukan dari internal, agar bisa terbentuk kesungguhan dalam melayani wisatawan. ‘’Bagi hotelier, ada kata haram untuk diucapkan, yakni ‘tidak tahu’.

Jangan sampai kata itu keluar dari mulut kita, kita harus berupaya bagaimana caranya memberikan kenyamanan terkait dengan informasi, misalnya; dan terlihat ada kesungguhan, itu yang pasti sulit dilupakan sehingga membuat mereka kembali lagi,’’ tutur Wakil Ketua Kadin Jateng Bidang Industri Tradisional Berbasis Budaya Heru Isnawan dalam dialog ‘’Jago Bisnis’’. Acara tersebut merupakan hasil kerja sama antara Kadin Jateng dan Suara Merdeka Network (SMN) yang disiarkan di Studio TVKu Semarang, kemarin.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Jateng Sinung Nugroho Rachmadi mengungkapkan edukasi mengenai hospitality bisa masuk semua kalangan, tidak hanya pelaku pariwisatanya, tetapi juga masyarakat atau komunitas yang sering berhubungan dengan sektor tersebut. Dalam konteks mengedukasi publik, hal itu dikhususkan segmentasi anak muda yang bisa membantu mempromosikan destinasi. Kesadaran bersikap ramah yang menjamin wisatawan akan kembali lagi menjadi hal yang sangat penting.

‘’Percuma destinasi bagus, merchandisemenarik, tetapi orangnya jutek dalam melayani; bikin mereka kapok untuk datang lagi,’’tegas Sinung. Tourism go to schooldan campusyang diinisiasi diharapkan bisa memperluas cakupan anak muda pelajar dan mahasiswa. Dengan kemasan menarik yang tidak membosankan tersebut, tujuan mempromosikan pariwisata bisa lebih tepat sasaran.

Pelibatan ibu-ibu lewat lomba tumpeng di setiap rute yang dilalui dalam menyambut Borobudur Marathon, misalnya, juga efektif menumbuhkan rasa memiliki terhadap sebuah event yang akan dihadiri banyak pelari dari dalam dan luar negeri. ‘’Rute melewati desa-desa akan membuat para ibu merasa memiliki event internasional tersebut, meski hanya sekadar tumpeng sederhana,’’ungkap Sinung.

Tujuan Wisata

Heru Isnawan juga memberikan gambaran betapa Jateng kini bukan sekadar tempat transit, tetapi menjadi tujuan para wisatawan. Meski belum semoncer Bali, provinsi ini akan bisa tumbuh dengan keramahtamahannya yang khas sebagai faktor pembeda. Berbeda dari Bali atau Yogyakarta, Semarang dan kota-kota lainnya di Jateng belum teredukasi secara penuh soal hospitality.

‘’Memberi insentif kepada tour leader yang membawa tamunya ke pusat oleh-oleh seharusnya menjadi hal biasa. Tapi hal itu sulit dilakukan karena pola pikir yang kaku; ah nggak usah ngasih insentif juga pusat oleh-oleh sudah laku. Dalam pariwisata ada satu lingkaran yang sama-sama saling memberikan keuntungan,’’ jelas Heru yang juga Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jateng itu dalam diskusi yang dipandu oleh moderator Myra Azzahra.

Sertifikasi bagi para tour guide dan semua hal yang terkait dengan sektor pariwisata terus dilakukan, bahkan ada batasan waktu untuk kembali meng-upgrade. Jika tidak dilakukan, sertifikat bisa dicabut. Hotel yang tumbuh pesat di Kota Semarang memberikan peluang turisme menjadi industri dengan melibatkan masyarakat.

Komitmen pemerintah mengawal proses dan membidik pasar-pasar baru yang kecil atau masih bertumbuh pun menjadi prioritas. ‘’Wisatawan yang berkunjung ke Jateng didominasi Eropa, Tiongkok, Jepang, Malaysia atau Asia Tenggara. Potensi Timur Tengah dan sekitarnya seharusnya digarap, contohnya dengan konsep wisata halal,’’tandas Sinung. (Modesta Fiska-18)