Suku Bunga Tergantung pada Biaya Dana

JAKARTA - Presiden Joko Widodo melontarkan sindiran kepada perbankan nasional mengenai suku bunga kredit yang tak kunjung turun meskipun suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sudah turun berkali-kali. Beberapa bank pun menjawab sindiran itu. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), misalnya, menyatakan tak berani menurunkan suku bunga jika biaya dana masih tinggi. “Yang penting cost of fund-nya turun, baru berani turun.

Kalau cost of fundbelum turun, ya tidak beranilah. Nanti, kalau kami makin kecil, dimarahi investor,” tutur Direktur Keuangan BNI Ario Bimo di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan, kemarin. Intinya, lanjut dia, BNI mendengarkan permintaan Presiden, namun tak bisa langsung direalisasikan apabila biaya dana belum turun. “Kami sekarang turun dulu pelan-pelan, kan kemarin 3,2%. Pelanpelan, kalau cost of fundturun, baru berani menurunkan,” jelas dia. Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Panji Irawan juga mengemukakan hal senada.

Meski masih ada ruang menurunkan suku bunga, biaya dana dan persaingan pasar juga menjadi pertimbangan. “Ada (ruang penurunan suku bunga kredit), karena kami menurunkan cost of fund juga, pasti terus melihat persaingan pasar. Dua-duanya bagian dari industri. Jadi, pastilah kami respons, tidak mungkin tak merespons,” tegas dia. Menurut dia, jika biaya dana turun, risiko bank juga akan turun. Kalau risiko turun, perbankan tidak akan khawatir menurunkan suku bunga.

Selain bank yang belum menurunkan suku bunga kredit, Presiden menyindir bank yang masih nyaman memberikan pembiayaan kepada nasabah besar dan melupakan nasabah kecil yang seharusnya banyak dibantu. Hal itu diungkapkan di depan para bankir saat membuka acara ‘’Indonesia Banking Expo 2019’’ di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan. “Saya mengajak bapak dan ibu semua jangan hanya membiayai yang besarbesar,” pinta Presiden.

Tren Menurun

Saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, kemarin, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) LPS Halim Alamsyah mendapatkan pertanyaan mengenai perang suku bunga pada perbankan nasional Halim mengungkapkan saat ini perbankan sudah dalam tren penurunan suku bunga seiring dengan penurunan suku bunga acuan bank sentral.

“Sekarang kan sudah turun, baik bank sentral maupun perbankan. Perbankan memang butuh waktu untuk menurunkan, karena tidak bisa langsung turun saat bunga acuan turun,” jelas dia di Gedung DPR, Jakarta. Biasanya, kata dia, akan terjadi lebih dulu penurunan suku bunga simpanan, kemudian baru diikuti oleh suku bunga kredit. Menurut dia, penurunan suku bunga perbankan diharapkan bisa mendorong permintaan kredit dan menggerakkan perekonomian nasional.

Biaya dana yang dikeluarkan bank, ujar dia, akan memengaruhi perhitungan suku bunga kredit. “Kredit tergantung pada demand. Pertumbuhan ekonomi membaik ya akan baik, tantangannya akan besar juga,” papar Halim. Berdasarkan data uang beredar BI, suku bunga kredit pada Juli 2019 turun 1 basis poin, yakni 10,72%, dibandingkan dengan bulan sebelumnya 10,73%. (B6,dtc-18)