Tingkat Inflasi Jateng Membaik

Purwokerto, Cilacap, dan Semarang Deflasi

SEMARANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng mengumumkan tingkat inflasi yang cenderung membaik. Oktober 2017, angkanya 3,47 persen, lalu Oktober 2018 menurun menjadi 3,15 persen, dan Oktober 2019 kemarin tuturn lagi menjadi 2,84 persen.

Kepala BPS Jateng Sentot Bangun Widoyono mengungkapkan inflasi terjaga secara year on year atau tahunan. Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, hanya naik 0,01 persen.

Kota Surakarta menyumbang tertinggi inflasi Jateng, yakni 0,25 persen, disusul Kota Tegal 0,13 persen, dan Kudus 0,10 persen. Deflasi terjadi di Kota Purwokerto, yaitu 0,08 persen, disusul Cilacap 0,07 persen, dan Kota Semarang 0,06 persen. ”Kenaikan harga daging ayam ras, bawang merah, biaya akademik atau perguruan tinggi, dan harga rokok filter menjadi penyumbang inflasi.

Penahan laju inflasi ada pada komoditas cabai merah yang turun harga; juga telur ayam ras, cabai rawit, dan cabai hijau,” imbuh Sentot, akhir pekan lalu. Kenaikan indeks pada kelompok pengeluaran terjadi pada kelompok sandang sebesar 0,24 persen, diikuti makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,17 persen.

Lalu, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,14 persen, kesehatan 0,12 persen; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, serta kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan masing-masing 0,04 persen.

Deflasi yang terjadi di Jateng disebabkan oleh penurunan indeks pada kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 0,28 persen. Oktober 2019, tiga ibu kota provinsi di Pulau Jawa mengalami inflasi dan tiga ibu kota lain deflasi.

Inflasi tertinggi di DKI Jakarta sebesar 0,21 persen, diikuti Kota Yogyakarta sebesar 0,18 persen, dan inflasi terendah Kota Serang 0,05 persen. Deflasi terendah di Kota Semarang sebesar 0,06 persen, diikuti Kota Surabaya 0,08 persen, dan Kota Bandung 0,13 persen. (J14-18)