Berdakwah dengan Mulia

ORIENTASI KADER ULAMA : Para peserta Orientasi Kader Ulama (OKU) dari MUI Kabupaten/Kota se-Jateng dan Ormas Islam foto bersama dengan Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi dan Sekretaris Umum Drs KH Muhyiddin MAg usai upacara pembukaan di Hotel Muria Jalan Dr Cipto Semarang. (suaramerdeka.com / Agus Fathuddin)
ORIENTASI KADER ULAMA : Para peserta Orientasi Kader Ulama (OKU) dari MUI Kabupaten/Kota se-Jateng dan Ormas Islam foto bersama dengan Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi dan Sekretaris Umum Drs KH Muhyiddin MAg usai upacara pembukaan di Hotel Muria Jalan Dr Cipto Semarang. (suaramerdeka.com / Agus Fathuddin)

Dalam Orientasi Kader Ulama (OKU) 2019 yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia Jawa Tengah di Hotel Muria, Semarang, pekan lalu, berbagai macam perilaku dai dan mubalig dewasa ini menjadi pembicaraan menarik.

Belakangan umat sering disuguhi pidato berlabel pengajian atau tablig akbar. Tetapi materi yang disampaikan mulai awal hingga akhir, tak lebih dari membicarakan kejelekan orang lain (gibah), fitnah bahkan provokasi (namimah/adu domba). Menurut Ketua Umum MUI Jateng KH Ahmad Darodji, zaman dahulu gibah dilakukan dari mulut ke mulut. Daya rusaknya lokal dan terbatas.

Akan tetapi sekarang, gibah, fitnah dan namimah memiliki daya rusak mahadahsyat karena menggunakan media sosial yang diakses banyak orang. ”Inilah yang harus disadari oleh para kiai, ulama, dai dan mubalig dalam menyampaikan pesan dakwah pada era milenial,” ungkap Darodji. Dikatakan, Alquran mengajarkan agar menyampaikan pesan-pesan yang sejuk, damai dan membawa kebaikan bagi umat atau yang dikenal dengan istilah qaulan karima.

”Aquran mengingatkan kita untuk menggunakan bahasa yang mulia, yakni perkataan yang memuliakan dan memberi penghormatan kepada orang yang diajak bicara,” tuturnya. Qaulan ma’ruf yang identik dengan kata urf atau budaya. Menurut Quraish Shihab, maíruf secara bahasa artinya baik dan diterima oleh nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Qaulan maírufa berarti perkataan yang sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat.

Selain itu, qaulan maírufa berarti perkataan yang pantas dengan latar belakang dan status seseorang. Qaulan sadida artinya jelas, jernih, atau terang. Dalam Alquran, konteks qaulan sadida diungkapkan pada pembahasan mengenai wasiat (An-Nisa: 9), dan tentang buhtan (tuduhan tanpa bukti) yang dilakukan kaum Nabi Musa kepada Nabi Musa (Al-Ahzab: 70). Qaulan baligha artinya komunikatif atau sampai. Dimaknai sebagai perkataan yang sampai dan meninggalkan bekas di dalam jiwa seseorang.

Mudah Dipahami

Ini merupakan indikasi bahwa dakwah itu mesti diupayakan. Salah satunya adalah dakwah dengan lisan. ”Kecakapan dakwah yang perlu diasah adalah dalam penyampaian verbal. Maka, kecakapan dalam qaulan balighamerupakan hal yang niscaya bagi seorang dai atau mubalig,” kata Darodji.

Qaulan maysura artinya perkataan yang mudah dipahami pendengarnya. Ada juga dalam Alquran qaulan layyina artinya berkata dengan lemah lembut. Qaulan layyina bisa bermakna sebagai strategi dakwah. Pasalnya, konteks qaulan layyina (QS Thaha: 44) berbicara tentang dialog Nabi Musa dengan Firaun.

”Kalau masih ada dai-dai atau ustadz yang galak-galak, kasar dan materinya tak jauh-jauh dari gibah, fitnah dan namimah wajib diingatkan agar mengubah perilakunya karena tidak sesuai ajaran Alquran,” kata Guru Besar UIN Walisongo Semarang KH Ahmad Rofiq. Rasulullah Saw mengingatkan agar menjaga lidah. Menjaga lisan agar tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak baik, kasar, menyinggung, jorok, tidak pantas, dan kata-kata negatif lainnya.

Saat membuka OKU 2019, Kiai Darodji mengatakan, ”Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan ulama, sehingga apabila tak ada lagi alim maka banyak yang akan memberikan fatwa tanpa didasari ilmu. Bila ini terjadi maka pemberi fatwa itu sesat dan dia menyesatkan orang banyak.” Ulama pada era digital ini dituntut untuk bukan saja menjadi ahli dalam ilmu agama tetapi konteks dengan perkembangan, termasuk perkembangan teknologi.

Apalagi yang dihadapi adalah generasi milenial yang sangat akrab dengan teknologi. Karena itu mau tidak mau ulama dewasa ini harus akrab dengan teknologi meskipun dalam bobot sederhana. Teknologi adalah wasilah atau perantara. Sesuai kaidah yang biasa dikemukakan para ulama, bahwa sarana yang diperlukan untuk mencapai kewajiban hukumnya adalah wajib.

Maka ulama harus kreatif dan inovatif, out of the box, tak sekedar berkutat pada rutinitas. Dengan demikian akan nyambung antara visi-misi dengan responsi. Selain itu ulama sebagai khodimul ummah, pelayan umat juga harus mampu menempatkan diri pada posisi yang tepat. Dekat dengan umat sehingga ajarannya akan didengar dan diikuti. (Agus Fathuddin Yusuf, Wartawan Suara Merdeka, Sekretaris MUI Jawa Tengah-54)


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar