PENTAS SENI

Ajarkan Karakter Unggul sejak Dini

SEMARANG - Sejak dini, anak perlu diajarkan berbagai karakter unggul sebagai bekal mereka menyongsong masa depan. Internalisasi karakter pun dapat dilakukan melalui bermacam kegiatan yang menarik minat anak.

Karakter unggul diperlukan agar kelak anak lebih siap dalam menghadapi masa depannya. Meski tantangan ke depan diprediksi semakin kompetitif, dengan bekal karakter berbasis budaya dan agama, anak akan memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang tetap relevan dalam menghadapi globalisasi.

Demikian sejumlah harapan Kepala SD Karakter Pelangi Nusantara Mawari Almas Saniy, di sela penyelenggaraan unjuk kreasi bersama Ikatan Guru Semai Benih Bangsa (IGSBB), di Java Mall, akhir pekan lalu. Kegiatan berupa pementasan kesenian oleh siswa sekolah yang berlokasi di Jalan Dewi Sartika, Sampangan, Semarang itu menjadi upaya untuk menanamkan karakter bagi mereka.

Menurut Mawari, untuk dapat menyuguhkan kesenian, anak mesti terlebih dahulu berlatih secara terusmenerus. Secara tidak langsung, hal itu akan mengajarkan kepada mereka kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, dan saling menghargai. ''Selain itu juga agar anak bisa meningkatkan kepercayaan diri dan kreativitas,'' ujar dia.

Tanpa PR

Menurut dia, sekolah ini menitikberatkan pembelajaran pada pembentukan karakter melalui kurikulum Pendidikan Holistik Berbasis Karakter yang diadopsi langsung dari Indonesian Heritage Foundation di Jakarta.

Lembaga pendidikan tersebut berfokus pada pengembangan model pembelajaran karakter sejak 2000. Siswa pada kesempatan itu menampilkan gerak lagu Maumere, Sajojo, seni taekwondo, dan juga membaca hadis terkait dengan kehidupan sehari-hari.

Di sekolah, juga diterapkan pembelajaran agama yang ramah anak. Ada kegiatan Shalat Duha dan Zuhur berjamaah setiap hari. Ada pula kegiatan mengaji. Untuk meningkatkan keterampilan anak, sekolah ini juga memfasilitasi beberapa kegiatan ekstrakurikuler, di antaranya tari, renang, lukis, dan taekwondo.

Keunggulan lain yang ditawarkan ialah siswa tidak diberikan pekerjaan rumah, guru menggunakan metode belajar yang menyenangkan dan mengintegrasikan higher order thinking skills atau kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan tidak ada ujian semesteran atau kenaikan kelas tetapi lebih mengarahkan ke latihan mandiri dan ujian nasional.

''Sistem penilaian berfokus pada proses pembelajaran. Siswa setiap hari membaca buku dan anak belajar menilai buku bacaannya. Metode pembelajaran yang kami pakai adalah brain based learning, contextual learning, cooperative learning, dan inquiry based learning," ujarnya.

Salah satu orang tua siswa, Ermi Dyah Kurnia menuturkan, di rumah, anak memiliki waktu untuk keluarga dan teman-teman lebih banyak ketika tidak memiliki PR. Pada dasarnya, bermain menjadi hak bagi anak. Dampak positifnya adalah waktu untuk interaksi sosial menjadi semakin bertambah. (G9-40)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar