Penting, Penguatan Pusat Karier Perguruan Tinggi

JAKARTA - Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Ismunandar mengungkapkan bahwa penguatan Pusat Karier di tingkat perguruan tinggi menjadi sangat penting mengingat makin dini para calon lulusan mengenal dunia kerja, maka makin siap mereka kelak ketika memasukinya.

”Saya berharap perguruan tinggi dapat menjalankan fungsi pusat karier yang tepat untuk mencapai tujuan mengetahui penyerapan, proses, dan posisi lulusan dalam dunia kerja,” ujar Dirjen Belmawa, Ismunandar.

Menurut Ismunandar, hal itu dapat membantu program pemerintah dalam memetakan dan menyelaraskan kebutuhan dunia kerja dengan kompetensi yang diperoleh dari hasil pembelajaran di perguruan tinggi. Sementara Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sutrisna Wibawa menyebutkan bahwa Revolusi Industri 4.0 menuntut pusat karier menjadi pemberi masukan akademik terhadap kurikulum pembelajaran.

”Revolusi Industri 4.0 membuat perguruan tinggi gamang dalam mendidik. Apa yang diajarkan ternyata dapat saja berubah tidak sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Dari tracer study diharapkan ada masukan akademik terkait perkembangan kurikulum,” jelas Sutrisna.

Kajian

Kepala Subdirektorat Penyelarasan Kerja, Tiomega Gultom menyampaikan bahwa pada tahun 2019, Kemenristekdikti tengah melakukan kajian terkait pusat karier di perguruan tinggi. Ke depan, hasil studi itu akan menjadi bahan panduan untuk pendirian dan operasional pusat karier di perguruan tinggi.

Bahkan, tak menutup kemungkinan untuk dapat dijadikan Peraturan Menteri. Selain itu, pada tahun 2020, menurut Mega, dana bantuan hibah sudah tidak ada lagi. Skema tersebut akan diubah menjadi insentif. Jadi format pusat karier bukan lagi pemacu, tetapi penghargaan bagi pusat karier terbaik.

Pada kegiatan Seminar Nasional Pengembangan Program Pusat Karier/ Tracer Study yang dilaksanakan Rabu (23/10) di Digital Library Universitas Negeri Yogyakarta, Direktur Pembinaan Kelembagaan Pendidikan Tinggi, Totok Prasetyo menjelaskan bahwa mulai tahun 2019, tracer study telah menjadi salah satu instrumen dalam pemeringkatan atau klasterisasi perguruan tinggi di Indonesia. (nya-34)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar