Kontemplasi Joko Anwar

Perempuan Tanah Jahanam baru digarap tahun ini setelah 10 tahun mengendap dalam imajinasi Joko Anwar. Itu karena film ini membutuhkan teknis dan estetika yang halus. Joko harus menunggu 10 tahun lamanya agar dapat merealisasi pemikirannya soal film tersebut.

Cerita Perempuan Tanah Jahanam merupakan kontemplasi Joko tentang fungsi keluarga seperti ibu, bapak, dan anak. Ia mengakui naskah ditulis ketika dirinya sedang banyak pikiran tentang keluarga. Sutradara berusia 43 tahun ini juga sempat melakukan riset untuk menjaga otentisitas cerita.

Ia bersama tim perempuan menghabiskan waktu sampai tiga bulan untuk mencari desa yang sesuai dengan deskripsi di naskah, namun gagal menemukannya. ”Art director kenal pecinta alam yang ketemu hutan di sebuah tempat. Katanya ke hutan itu 30 menit, tapi dua jam enggak sampai.

Akhirnya buka jalan dan syuting ke situ,” kata Joko. Sejumlah aktor yang turut berperan dalam Perempuan Tanah Jahanamberasal dari kawasan di mana tempat itu menjadi lokasi syuting. Seperti daerah di Malang, Gempol, Palapakis, Lumbang, Bromo, Lumajang, Ijen, dan Banyuwangi.

Aktris Christine Hakim pun merasakan banyak kejutan saat syuting film Perempuan Tanah Jahanam. Kejutan itu datang dari Joko Anwar selaku sutradara dan penulis naskah.

”Banyak kejutan (arahan dari sutradara) di lokasi syuting, tapi saya enggak punya pilihan. Sutradara pasti punya maksud dan saya jalankan semaksimal mungkin,” kata Christine. ”Kalau pakai nalar dan logika, saya enggak ‘ketemu’sama karakter Nyi Misni. Akhirnya saya jalankan dengan sepenuh hati,” kata aktris peraih Piala Citra tersebut. (Eko Edi N-49)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar