Jangan Biarkan Penderita Depresi Merasa Sendiri

Oleh : Sofie Dwi Rifayani

SM/Dok
SM/Dok

World Health Organization (WHO) menyebut Korea Selatan sebagai negara dengan angka bunuh diri tertinggi keempat di dunia. Teranyar, penyanyi dan aktris Choi Jinri atau populer sebagai Sulli f(x) ditemukan mengakhiri hidup di kawasan Seongnam, Seoul Selatan.

Kematian Sulli menambah daftar panjang artis Korea Selatan yang bunuh diri karena depresi. Konon, sebagai idola K-pop Sulli kerap mendapat komentar di media sosial.

Banyak yang memujinya, namun tak sedikit yang mencela. Ia diharuskan tampil sempurna dan pada akhirnya merasa depresi dengan tuntutan yang tak berkesudahan. Benarkah demikian? "Sulli tidak hanya depresi. Ia juga mengalami gangguan rasa panik (panic disorder) dan fobia sosial.

Fobia sosial yang dialami Sulli berujung pada kecemasan saat tampil di hadapan orang banyak. Cemasnya Sulli beda konteks dengan grogi atau deg-degan yang biasa. Konsep berpikirnya: semua orang melihatku, jadi jika aku melakukan kesalahan sedikit saja, orang akan mengingatku selamanya.

Kecemasan berlebihan ini yang kemudian mengarah pada depresi," ungkap psikolog Anita Susanti SPsi MPsi menganalisis. Anita lantas menjelaskan beda depresi dengan stres. Dua hal ini kerap disamakan, meski punya penjelasan berbeda. Stres bisa menghilang seiring selesainya masalah yang dihadapi, sedangkan depresi berarti merasakan kesedihan berlarut-larut.

"Orang yang depresi menganggap ia seorang diri di dunia ini, merasa tidak dibutuhkan, tidak dipedulikan, juga tidak ada yang bisa mengerti dirinya," tutur Anita. Ada beragam penyebab depresi. Namun, depresi lebih rentan menghampiri orang-orang dengan kepribadian tertentu.

Misalnya orang yang terlalu bergantung pada orang lain (dependent), obsesif atau orang yang butuh pengakuan (histrionik). Kepribadian jenis itu memiliki standar tersendiri, yang mana jika tidak terpenuhi akan memunculkan tekanan dan mengakibatkan depresi.

Gejala depresi yang umum misalnya perubahan pola makan. Ada yang jadi tidak doyan makan, namun ada pula yang makan berlebihan (emotional eating). Selain itu, orang yang depresi akan mengalami gangguan tidur, baik berupa susah tidur (insomnia) maupun kebanyakan tidur (hypersomnia).

Meski merasakan gejala depresi seperti yang disebut Anita, tidak berarti seseorang bisa serta merta mengklaim dirinya terkena depresi. Diagnosa depresi hanya bisa dilakukan oleh profesional, minimal setelah dua minggu observasi.

Lalu, kapan saat yang tepat untuk meminta bantuan psikolog? "Segera periksakan jika gejala depresinya mulai menganggu aktivitas sehari-hari. Atau, jika sebelumnya bisa menghilangkan kesedihan dengan menonton film atau mendengarkan musik, tetapi pada satu titik aktivitas tersebut terasa hampa, maka ada baiknya segera datangi psikolog," Anita menyarankan.

Selain itu, gejala depresi biasanya disadari oleh orang-orang terdekat. Jadi, ketika mereka menyarankan untuk konsultasi ke profesional, tak ada salahnya untuk menuruti.

Konseling

Jika terdiagnosa depresi, psikolog akan memberi penanganan sesuai dengan tingkatannya. Untuk depresi ringan bisa dilakukan sesi konseling. Caranya, penderita depresi akan menumpahkan segala hal yang ia rasakan, sementara psikolog akan membantu memecahkan persoalan. Pada depresi sedang dan berat, psikolog akan berkolaborasi dengan psikiater untuk penanganan lebih lanjut, misal dengan pemberian obat.

"Depresi bisa terjadi karena faktor biologis. Jika ada anggota keluarga yang memiliki riwayat depresi, maka faktor risiko depresi ke keturunannya lebih tinggi, sehingga perlu diberi obat-obat tertentu. Begitu pula pada depresi yang terjadi karena gangguan fungsi otak," papar Anita. Salah satu jenis depresi berat ialah depresi mayor. Pada tahap ini penderitanya sama sekali tidak punya daya untuk beraktivitas.

Jika dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin akan muncul gejala psikotik. Gejalanya antara lain halusinasi, baik suara maupun visual. Kondisi halusinasi berarti neurotransmiter pada tubuh dalam kondisi kacau. Yang demikian, Anita mengatakan, akan lebih dulu ditangani psikiater dengan diberikan obat-obatan khusus. Setelah pikiran tenang, barulah psikolog mengambil alih dengan menggali nilai-nilai positif si pasien.

Apa yang bisa dilakukan keluarga atau teman penderita depresi? Temani dan dengarkan cerita mereka. Dengan begitu pasien depresi merasa dipedulikan dan tidak merasa sendirian. Dukungan dari pihak terdekat (support system) termasuk cara mengatasi, bahkan mencegah munculnya depresi.

Kecuali itu, latihan mengucapkan afirmasi positif pada diri sendiri juga patut dicoba. "Bisa juga dengan meditasi ringan setelah bangun tidur. Caranya dengan mengatur pernafasan agar lebih tenang," ujar Anita. Meski butuh tekad kuat, Anita optimistis pasien depresi bisa pulih. Dengan deteksi dini dan penanganan tepat, komplikasi depresi seperti bunuh diri yang dilakukan Sulli niscaya bisa dicegah. (49)


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar