Paksa Menulis agar ”Terpaksa” Membaca

Ketua Forum Lingkar Pena Afifah Afra pernah mengatakan, Indonesia kehilangan satu puzzle yang sangat penting dalam perkembangan peradaban bangsa. ”Puzzle tersebut adalah periode literasi,” tutur Ketua Forum Silaturrahim An-Nisa (FSA) Universitas Sultan Agung (Unissula) Evy Rukhayati.

Perkembangan audio visual serta teknologi pada era sekarang, lanjut Evy, membuat angka literasi makin memprihatinkan. Berangkat dari situ FSA tergerak menggelar Seminar ”Indonesia Darurat Literasi”, Sabtu (12/10). Bertempat di Gedung Kuliah Bersama lantai 10 Unissula, hampir 100-an peserta menghadiri acara tersebut.

Zaky Ahmad Rifai, penulis buku Jangan Berdakwah! Nanti Masuk Surga, menjadi salah satu narasumber seminar tersebut. Dengan gaya kekinian dan ceplas ceplos, hafiz Alquran kelahiran 1994 ini mengamini bahwa angka minat baca di Indonesia sangat rendah. ”Indonesia peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca.

Ini artinya negara kita urutan kedua terendah dalam hal literasi,” ujar Zaky. Yang disebut Zaky tak lain adalah data penelitian World’s Most Literate Nations Ranked†yang dilakukan Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016. Posisi Indonesia di bawah Thailand (59) dan di atas Botswana (61).

Hasil riset Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO pun setali dua uang. Disebutkan bahwa dari 1.000 orang Indonesia hanya 1 orang yang gemar membaca.

Ironisnya, di sisi lain Indonesia justru tersohor sebagai negara paling cerewet di media sosial. Apakah ini pertanda bahwa penduduk Indonesia lebih melek teknologi ketimbang literasi? ”Budaya baca orang Indonesia memang kurang. Saya jarang menjumpai orang membaca saat di ruang publik.

Kenapa nggak mau baca? Karena ada pemikiran bahwa yang baca hanya orangorang yang suka baca,” kata Zaky. Zaky kemudian mencontohkan penulis-penulis Islam di masa lampau. Ibnu Qayyim al Jauqiyah, Zaky bercerita, bisa menyelesaikan sebuah kitab saat melakukan satu perjalanan.

Lalu, ada pula Ibnul Jauzi yang berhasil menggarap empat buku dalam sehari. ”Buya Hamka pun demikian. Beliau tidak sekolah formal tapi mampu menulis berbagai bidang keilmuan. Bahkan menulis tafsir Al Azhar saat dipenjara,” seru Zaky.

Buya Hamka membuktikan bahwa semangat menghidupkan literasi tidak dibatasi oleh jeruji besi. Ini tidak sejalan dengan masyarakat sekarang, yang bebas dan merdeka namun tidak menjadikan literasi sebagai kebutuhan.

Paksa Menulis

Di awal sesinya, Zaky mengartikan frasa ”darurat” dalam tema seminar sebagai peringatan untuk sesegera mungkin melakukan penanggulangan. Menurut Zaky, caranya dengan ”memaksa” menulis.

”Jika terpaksa nulis maka mau tidak mau akan mencari inspirasi dengan memperbanyak bacaan. Jika terbiasa membaca, makin lama kualitas dan kuantitas bacaan pun akan meningkat,” ucapnya. Irfan Burhanuddin, mahasiswa Manajemen Unissula angkatan 2016, dalam seminar itu menjadi moderator bagi Zaky dan Raddy Ibnu Jihad.

Raddy merupakan ketua Forum Lingkar Pena Semarang sekaligus penulis buku Sekolah Kolong Langit. Sementara Zaky menyebut tokohtokoh termahsyur untuk memantik semangat literasi, Raddy membawa konsep tentang literasi keseharian.

Bahwa sejatinya literasi mencakup kegiatan sehari-hari seperti mendengar, membaca, menulis, menyampaikan, budaya, dan apresiasi. ”Kami berharap seminar ini bisa menghidupkan jiwa literasi yang telah lama surut sekaligus menjadikan literasi sebagai hal yang menyenangkan dan menguntungkan,” pungkas Nurul Laila Mayasari selaku ketua acara. (Sofie Dwi Rifayani-53)


Tirto.ID
Loading...
Komentar