ESAI

Bulan Bahasa Sebatas Seremonial?

Oleh Bamswongsokarto

Bulan Oktober, menjelang perayaan Sumpah Pemuda, kalangan pelajar, mahasiswa, sekolah, dan perguruan tinggi atau universitas, memperingati Bulan Bahasa.

Peringatan biasanya diisi berbagai lomba, seperti cipta dan baca puisi, drama, pidato, lomba penyiar televisi, dan kegiatan lain yang lebih menonjolkan seni sastra. Memang itulah kegiatan yang secara langsung bersinggungan dengan bahasa Indonesia. Namun setelah Oktober berlalu, berlalu pula norma dan nilai-nilai kebahasaan yang seharusnya kita pertahankan.

Kegiatan kelas di sekolah dan perkuliahan kembali mengabaikan kewajiban penggunaan bahasa Indonesia yang semestinya. Mengapa visi dan makna Bulan Bahasa berlalu begitu saja dan seolaholah kebanggaan terhadap bahasa Indonesia sebagai jati diri keindonesiaan hanya muncul pada bulan Oktober?

Perkara yang perlu kita perhatikan dan perlu lebih kita “antusiaskan” bagi semua penutur bahasa Indonesia bahwa penggunaan bahasa Indonesia adalah bentuk nasionalisme bermartabat. Itu harus terus kita lakukan, bukan hanya pada bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa.

Artinya, bahasa Indonesia harus menjadi bahasa yang terhormat di negeri sendiri. Saya miris mendapati penutur asli bahasa Indonesia semau hati “salin dan tempel” kata-kata asing dalam berkomunikasi, hanya dengan alasan supaya kelihatan keren dan intelek. Contohnya, “By the way, kita harus memartabatkan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi.”

Kalimat itu sekadar contoh bagaimana membanggakan “salin dan tempel” bahasa asing ke dalam kalimat bahasa Indonesia. Langkah itu justru tidak memartabatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Padahal, seharusnya bahasa Indonesia menjadi kebanggaan dan wajib kita junjung tinggi sebagai jati diri bangsa.

Itu kesalahan berkomunikasi dengan bahasa hanya untuk menaikkan gengsi penutur agar diakui ìkekinianî dalam berbahasa. Gengsi kekinian berbahasa itulah yang membuat bahasa penutur tampak “norak”. Kekinian itu justru merusak tatanan bahasa, karena secara sengaja menggempur dan mencabik kebanggaan berbahasa Indonesia sebagai wujud nasionalisme.

Tidak mudah membiasakan berkomunikasi dengan menghargai bahasa yang kita pakai, karena dianggap seolah-olah kaku dan kuno. Kaku karena batasan dan norma dalam menata bahasa dianggap menghalangi dan membatasi komunikasi. Kuno karena takut akan muncul anggapan penutur tidak mengikuti perkembangan.

Namun semua kembali ke kesadaran pengguna bahasa: apakah menganggap bahasa Indonesia sekadar alat berkomunikasi atau memahami bahasa Indonesia sebagai simbol dan ikrar nasionalisme yang harus kita junjung tinggi. Jika sekadar alat berkomunikasi, yang terjadi adalah penggunaan menurut sekehendak penutur.

Jika bahasa Indonesia kita pahami sebagai simbol dan ikrar nasionalisme (Sumpah Pemuda) yang harus kita junjung tinggi, penutur akan memartabatkan lewat kepedulian dan keberhatihatian, antara lain dengan tidak asal “salin tempel” bahasa lain untuk menaikkan gengsi berbahasa dan dianggap kekinian.

Lebih Bergengsi

Kita cenderung beranggapan pemakaian bahasa asing bernilai gengsi lebih tinggi ketimbang menggunakan bahasa Indonesia. Rasa gengsi berbahasa sudah sangat mengakar dalam komunikasi lisan masyarakat Indonesia. Seseorang akan memiliki kepercayaan diri tinggi dan merasa lebih pintar saat menggunakan bahasa asing, terutama bahasa Inggris.

Ada anggapan bahasa asing lebih bergengsi daripada bahasa Indonesia. Mari kita lihat contoh bahasa seorang pejabat setingkat gubernur berikut ini. “Kita punya penduduk 10 juta, dan 30 persen earning less than 1 million per month. Dan Bapak-Ibu semua menyadari what does it mean having 1 million in the city like Jakarta.

What can you do dengan angka itu? This is a problem.” Banyak yang garuk-garuk kepala karena maksud dan makna kalimat itu tidak tersampaikan. Mengapa? Karena pendengar rata-rata tidak memahami bahasa Inggris. Mereka terbiasa berbahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari. Lebih parah lagi, sang pejabat mengucapkan kalimat itu di hadapan public.

Padahal, seharusnya dia bisa menjadi contoh bagi masyarakat dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia secara baik. Bahasa Indonesia dalam perkembangan pada era globalisasi budaya dianggap tidak bernilai jual. Tak ayal, pengguna bahasa pun menomorduakan bahasa Indonsia.

Memang tidak ada yang bisa melarang, tidak akan ada “polisi bahasa” yang menindak pelanggar kesalahan berbahasa dalam berkomunikasi. Namun, sekurangkurangnya, dengan menyadari sudah menggunakan bahasa Indonesia secara benar atau belum, itulah wujud kepedulian kita terhadap bahasa Indonesia. Salam satu Sumpah Pemuda Indonesia. (28)

- Bamswongsokarto, tinggal di Bandungkidul, Bayan, Purworejo


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar