PUISI : Joshua Igho

Risalah Rindu

untuk: dina nurmalisa


Hanyutkan saja risalah rindu itu
ke dasar samudera.
Biarkan ia menjadi santapan
para plankton
yang seharian kelaparan.
Rinduku kepadamu hanya abstraksi
yang tak pernah terbahas
dalam bab-bab selanjutnya,
pun tak tercantum
dalam daftar pustaka.
Aku cuma penerbit indie
yang berusaha memecundangi
kelopak matamu yang indah,
senyummu yang mengesankan,
dan hangat celotehanmu sepanjang malam.
Buatlah rambu lalu-lintas
di dadamu,
agar aku tak lagi tersesat
ke jalan yang memesona.
Dan, tutuplah buku harianmu
yang memuat namaku.

2019

 

 

 

Lagu yang Berkabut


Sejak ketukan keempat
lagu Ibu Pertiwi, air mataku meleleh.
Tanda biramanya luruh satu persatu
oleh angin musim
yang membawa kabar
tentang pohon yang meranggas,
hutan yang dijadikan permukiman,
ikan-ikan yang dijarah,
dan uang negara yang dicuri.

Anak-anak pulau tak kuasa menahan
cressendo yang menjelma
decressendo, dalam tempo
yang ngelangut
Aku coba panggil burung yang tersisa
yang hinggap di tubir jurang
agar kepak sayapnya mengembalikan
irama dan rimanya

O, lagu yang berkabut
jangan kau simpan badai di tubuhmu
aku ingin menuntun Ibu Pertiwiku
pulang dalam sunyinya
biarkan dia menikmati istirah
meski dalam gelisah
yang membuncah

2019

 

 

 

Ruang Kecemasan


Ruang kecemasan ini
banyak dihuni oleh lembaran ijazah
dari perguruan tinggi
dalam negeri dan luar negeri.
Tanda tangan rektornya
masih basah.
Nama-nama dan gelar akademik
meradang di antara silang sengkarut
selang infus.
Sedangkan dokter jaga
tak kunjung datang,
memulihkan intelektualitas
yang dirusak oleh kerasnya zaman.

2019

 

- Joshua Igho, lahir di Magelang, Jawa Tengah, bergiat melalui kajian sastra dan musikalisasi puisi. Karya terbarunya terhimpun dalam antologi When the Days Were Raining.(28)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar