Kisah Heroik ASN dan Pendeta Papua

Selamatkan Ratusan Warga Pendatang

SM/Gading Persada - PELOPOR PERDAMAIAN: Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan penghargaan Pelopor Perdamaian 2019 bagi Yason Yikwa dan Titus Kogoya di Candi Prambanan. (24)
SM/Gading Persada - PELOPOR PERDAMAIAN: Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan penghargaan Pelopor Perdamaian 2019 bagi Yason Yikwa dan Titus Kogoya di Candi Prambanan. (24)

Keberanian pendeta Yason Yikwa dan ASN Titus Kogoya dalam melindungi warga pendatang dari para perusuh di Wamena, patut menjadi contoh. Aksi keduanya menunjukkan bahwa di Tanah Air masih ada orang-orang yang peduli kemanusian. Mereka tak melihat asalusul, ras, dan agama, demi membantu sesama manusia.

PERASAAN Titus Kogoya tak nyaman. Sedih dan duka mendalam. Maklum saja, pada 23 September lalu, salah satu anggota kerabatnya meninggal dunia. Kesedihan belum menghilang, aparatur sipil negara (ASN) di Pemkab Tolikara itu dikejutkan dengan berita yang diterima, pusat Kota Wamena dilanda kerusuhan. Banyak gedung yang dibakar.

‘’Makin terkejut karena ada salah satu warga di kampung memberitahu saya kalau ada massa dari arah kota bergerak menuju kampung ini,’’ kata Titus yang tinggal di Kampung Mawampi, Distrik Wesaput, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Tanpa berpikir panjang, pria berusia 45 tahun itu langsung bergerak cepat. Dia menuju pintu masuk perkampungan untuk memastikan situasi kampung. Ternyata benar, dari kejauhan dia melihat ratusan perusuh yang membawa senjata tajam, berjalan menuju arah kampungnya.

‘’Bersama sejumlah pemuda, kami menghadang para pelaku kerusuhan di jalan masuk kampung dengan menebang pohon dan merobohkannya di tengah jalan. Pohon-pohon itu menjadi palang darurat agar tidak ada orang luar yang bisa masuk,’’ cerita Titus.

Dibantu adiknya, Titus meminta warga pendatang secepatnya mencari tempat persembunyian. Pria berperawakan tinggi besar itu bertekad melindungi warga pendatang. Sebab warga lokal kerap berperilaku brutal kala berunjuk rasa. ‘’Para pendatang kebanyakan berasal dari Toraja, Madura, dan Jawa. Mereka menjadi tukang ojek, pedagang makanan, membuka kios kelontong, dan lainnya.

Bahkan mereka mengontrak rumah milik warga lokal,’’ kata Titus yang beristrikan orang Toraja tersebut. Akhirnya, Titus membawa 80 warga pendatang bersembunyi dan berjejalan di rumah keluarga Kogoya.

Dia meminta semua orang menutup muka, sementara para pemuda Mawampi berjaga dengan senjata tajam di setiap titik masuk kampung. ‘’Syukur keadaan mulai tenang. Warga pendatang sudah mulai kembali. Kami tegaskan, kami masih sangat memerlukan keluarga kami warga pendatang. Kami sudah hidup berbaur lama dengan mereka,’’ tuturnya.

Bunuh

Tak jauh berbeda, tindakan heroik dilakukan Yason Yikwa. Pendeta berusia 52 tahun, warga Jalan Phike Desa Dokoku, Distrik Kubiki, Kabupaten Jayawijaya, Papua ini bahkan berani berhadapan langsung dengan massa perusuh yang berniat menghabisi warga pendatang yang sudah diungsikannya ke dalam gereja.

‘’Apabila kamu ingin membunuh mereka (warga pendatang), lebih baik kamu bunuh saya,’’ tutur Yason kepada pelaku kerusuhan. Yason tak takut dan bertekad melindungi 300 warga pendatang dari berbagai agama dan suku yang berlindung di dalam Gereja Baptis Panorama Phike, tempatnya memberikan pelayanan kepada umat.

‘’Pukul 15.00 WIT, saya bernegosiasi dengan penduduk lokal yang difasilitasi aparat keamanan dari TNI-Polri. Hasil negosiasi, pelaku kerusuhan menginginkan agar 6 orang rekannya yang ditahan di Polres Jayawijaya dibebaskan.

Selanjutnya, mereka berjanji tidak akan menganiaya warga pendatang yang masih berada di gereja. Negosiasi diterima aparat keamanan. Pukul 18.30-20:00 WIT, warga pendatang bisa keluar dari gereja dengan selamat,’’ papar dia. Yason mengaku beruntung dengan statusnya sebagai seorang pendeta. Sebab, bagi masyarakat Papua, sosok pendeta sangatlah dihormati dan diagung- agungkan.

‘’Kupersembahkan penghargaan ini untuk semua masyarakat Papua. Tidak ada lagi orang asli Papua atau pendatang. Mereka yang hidup di Papua itu orang Papua karena kitorang lahir di Indonesia. Aku sangat bersyukur atas kesempatan ini untuk dapat menarik perhatian pemerintah terhadap penderitaan atas kejadian kerusuhan di Wamena,’’ tutur Yason.

Berkat aksi heroik itulah Yason dan Titus diganjar penghargaan dari Kementerian Sosial, yakni Pelopor Perdamaian 2019. Keduanya, Rabu (16/10), berada di Jogja untuk menerima penghargaan yang diberikan langsung oleh Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita.

Menurut Agus, Penghargaan Pelopor Perdamaian adalah anugerah yang diserahkan kepada orang-orang yang telah dianggap berjasa besar dalam menjaga perdamaian. ‘’Termasuk, Yason Yikwa dan Titus Kogoya ini, mereka berdua telah memberi andil atas penyelamatan sandera 500 orang warga pendatang yang terjebak oleh kelompok massa perusuh.

Keduanya adalah simbol dalam perjuangan menjaga perdamaian,’’ papar Agus. Menurut dia, penghargaan yang diberikan pihaknya karena peran dan andil kedua warga lokal Papua tersebut dalam menjaga perdamaian di Papua.

Terlebih situasi di provinsi paling timur Indonesia itu saat ini tengah berkecamuk karena konflik sosial di masyarakat. ‘’Kami ingin banyak lagi warga yang bisa menjadi pelopor dan menginisiasi perdamaian di seluruh Indonesia,’’ harap Agus. (Gading Persada-41)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar