ECONOMIC OUTLOOK 2020

Kita Harus Berlari Cepat

SEMARANG- Situasi perlambatan ekonomi global akibat perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok diperkirakan masih akan berdampak di Indonesia pada 2020. Perang ego dua negara raksasa tersebut telah membuat pertumbuhan melambat bahkan resesi di sejumlah negara besar di dunia.

Dari sisi moneter, sudah banyak upaya dilakukan pemerintah dan ini diyakini bakal mendorong perekonomian Indonesia lebih moderat. "Kebijakan moneter sudah, tapi saya belum melihat dari sisi fiskal dan ini sangat kita harapkan.

Nah, dari menteri keuangan di kabinet baru nantinya kita tunggu karena merekalah yang mendesain kebijakan fiskal,'' kata pengamat ekonomi nasional Raden Pardede dalam Seminar Economic Outlook yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jateng bersama Suara Merdeka di Patra Semarang Convention Hotel, Selasa (15/10).

Meski tumbuh moderat, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Kebijakan Moneter, Fiskal dan Publik tersebut meminta pasar keuangan tetap waspada. Saat ini rupiah relatif stabil karena berbagai upaya kebijakan moneter yang direspons oleh Bank Indonesia. "Transaksi berjalan sempat naik tapi mulai mengecil, neraca modal kita terutama portofolio bisa mengimbangi defisit di neraca berjalan.

Suku bunga sudah diturunkan dan ada upaya melonggarkan likuiditas, selain itu juga lebih akomodatif melalui penurunan giro wajib minimum serta menurunkan persyaratan uang muka," jelas Raden.

Eskalasi dari perang ekonomi dan teknologi ini diperkirakan masih akan berlangsung lama. World Bank dan IMF dalam tiga pertemuan terakhir selalu merevisi ke bawah outlook perekonomian dunia. Resesi di beberapa negara sudah terjadi termasuk juga Jerman yang dikenal cukup kuat.

Persoalan resesi menurut Raden sudah mendunia termasuk Singapura yang diperkirakan tahun ini mengalami resesi. "Meski negara tetangga seperti Singapura, Thailand dan Malaysia mengalami perlambatan, saya meyakini itu akan terjadi di Indonesia tapi negara ini tidak akan mengalami resesi. Kita harus berlari mengatasi perlambatan ekonomi,'' ujarnya.

Pengisian jabatan di kabinet nantinya, lanjut dia, menjadi satu hal yang sangat ditunggu saat ini termasuk juga bagaimana implementasi kebijakan dan inisiatif Presiden Joko Widodo. Sejauh ini inisiatif sudah cukup baik dari presiden tetapi dalam implementasinya menghadapi banyak tantangan terutama dari sisi politik dan lobi partai yang terjadi.

"Persoalan politik ini harus tetap dikelola dengan baik, belum pula dilantik semua sudah berebut untuk tahun 2024 kasihan dong presidennya. Birokrasi dan kelembagaan yang juga belum efisien dan efektif ini harus dibenahi,'' ujarnya. (J14-64)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar