Mengenal Tembakau Srintil

Primadona dengan Harga Selangit

SM/Raditia Yoni Ariya - PETANI TEMBAKAU : Mbah Gajul (62), petani tembakau di Dusun Lamuk, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung menunjukkan tembakau rajangan kering di rumahnya, baru-baru ini. (55)
SM/Raditia Yoni Ariya - PETANI TEMBAKAU : Mbah Gajul (62), petani tembakau di Dusun Lamuk, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung menunjukkan tembakau rajangan kering di rumahnya, baru-baru ini. (55)

Menyusuri kawasan timur laut punggung Gunung Sumbing hingga ketinggian 1.300 mdpl, terbentang hamparan ladang tembakau. Pada Oktober ini, tanaman yang disebut emas hijau itu daun-daunnya tinggal beberapa helai. Sekilas tampak punggel, kurus, tak sedap dipandang mata.

KERINGNYA tanah gembur kerap memunculkan pusaran debu mengepul jika sekali-kali angin datang menghempasnya. Daun dan pohon pun kerap bergoyang dibuatnya. Tapi, dari sisa-sisa daun tersebut ada harapan besar dari kaum tani, yakni kemunculan tembakau srintil. Tembakau primadona dengan harga selangit dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah karena kualitasnya nomor wahid di dunia.

Ya, meski asa petani itu kerap terampas oleh kapitalisme pasar dagang dengan mata rantai yang terlalu panjang hingga mereka tak memiliki nilai tawar, namun rasa optimisme mereka selalu ada.

Dengan menunggu jatuhnya kewahyon munculnya srintil yang tak menentu, di mana, kapan, dan di ladangnya siapa. Tapi jika cuaca sedang tidak bersahabat srintil pun sama sekali tidak akan muncul. "Srintil itu memang seperti itu, kemunculannya selalu dinanti. Tahun sekarang dengan tahun lalu akan beda.

Bisa jadi tahun lalu muncul di ladang si A sekarang muncul di ladang si B. Srintil itu tumbuh alami tidak bisa dibuat-buat, ibaratnya siapa yang beruntung di ladangnya akan tumbuh tembakau srintil," kata Mbah Gajul (62), petani tembakau di Dusun Lamuk, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung, kemarin.

Tak dapat dimungkiri, nama besar srintil memang telah menjadi legenda dan diakui di mana-mana, tak hanya di Indonesia, tapi juga dunia internasional. Kemasyhuran kualitasnya bukan sekadar konon, tapi merupakan sebuah fakta.

Di kawasan Gunung Sumbing, srintil sendiri telah muncul pada grade F dan G, dengan harga di tingkat petani pada kisaran Rp 500 ribu per kilogramnya dan masih dinanti kemunculan kualitas di atasnya pada gradeH. Tembakau srintil adalah tembakau yang hanya muncul di daerah tegalan (ladang) jika iklim mendukung dengan dominasi kemarau panjang pada musim tembakau.

Jenis ini, biasanya didapat dari hasil petik terakhir setelah grade E atau F, seperti di Dusun Lamuk, Desa Legoksari. Lainnya kemungkinan muncul di ketinggian lereng Sindoro. Benarkah tembakau srintil hanya dapat dihasilkan di daerah tertentu? Ini yang menjadi pertanyaan banyak orang.

Namun, kenyatannya memang demikian, di dataran yang lebih rendah di area persawahan tidak ditemui jenis srintil. Secara geografis, Lamuk misalnya, berada di ketinggian lempeng Gunung Sumbing, dengan struktur tanah berpasir, padas, keras (tanah aerosol). Selain itu, Lamuk memiliki tingkat kelembapan udara cukup baik untuk pertumbuhan tembakau.

Di sini jika iklim mendukung acap kali muncul tembakau srintil. "Kalau di Lamuk ini selain tanahnya yang memang cocok untuk tanaman tembakau juga karena faktor letak geografis. Secara ketinggian jelas bagus. Lalu di Lamuk ini tanaman tembakau terkena sinar matahari sepanjang hari mulai pagi hingga sore hari sehingga pertumbuhan maksimal," jelasnya.

Kadar Nikotin

Tembakau srintil ini memang memiliki keistimewaan pada kualitas, cita rasa, dan aroma sebagai lauk rokok. Jika diisap rasanya enak, tetapi jika dipakai murni, tanpa campuran memabukkan (bikin pusing), karena kadar nikotinnnya tinggi bisa mencapai 8 mg. Cirinya, daun berada di pucuk pohon (masa petik terakhir). Berbentuk melengkung hampir keriting, berwarna coklat pekat, berbau harum, becek tapi tidak basah, berkadar nikotin tinggi, dan saat dilakukan proses pengeringan akan mengeluarkan cairan.

"Cairan itu bukan air, tetapi kadar nikotin. Tembakau srintil itu "pulung" (keberuntungan), bisa ada bisa tidak. Srintil, biasanya, dijumpai pada akhir musim masa panen. Kalau tahun ini tanda kemunculannya sudah bisa dirasakan pada akhir Agustus lalu," tuturnya.

Seperti jenis tembakau lainnya, srintil pun ada tingkatnya mulai srintil biasa, hingga srintil super. Lalu kenapa bisa dinamakan srintil, yang lebih lazim digunakan untuk nama perempuan ? Ternyata, sama sekali tak ada hubungannya dengan sosok wanita, sebab srintil didapat dari kata mrintil. "Daun yang akan jadi srintil biasanya kuning kemerahan, saat dirajang keluar air, jemek. Selanjutnya digagrag (dipilah), dijemur dalam bentuk lembaran.

Nah, pada proses penjemuran ini tembakau srintil kemudian mrintil membentuk bulatan, maka disebut srintil." Meski menjadi pujaan karena keistimewaannya, tetapi penanaman dan perawatan srintil tak ubahnya seperti tembakau lainnya, hanya saja perlu sedikit kejelian. Jika tembakau biasa baru kering setelah dijemur 4-5 hari, srintil cukup 2 hari.

Penjemuran tidak boleh di aspal secara langsung karena akan terlalu cepat kering sehingga tembakau akan kaku dan aromanya berkurang. Kemudian, harus diberi "anjanganjang" (penahan panas/terik matahari).

Perawatan dan cara penyimpanan yang baik akan membuat daya tahan srintil menjadi lama, bisa mencapai 20 tahun. Adapun untuk biaya tanam setiap hektarenya memerlukan biaya paling tidak Rp 80 juta, dan bisa lebih jika ada serangan hama penyakit atau harus menyulam tanaman jika cuaca ekstrim.

Dari setiap hektarenya bisa menghasilkan paling tidak 6-8 kuintal tembakau rajang kering. Melihat kelebihan srintil yang digunakan sebagai lauk, penentu cita rasa setiap satu batang rokok, maka harga pasarannya pun di atas rata-rata tembakau biasa.

Pada 2008 lalu, si molek srintil di hargai hingga Rp 500 ribu per kg, Rp 850 ribu/kg (2009) dan pada 2010 tidak muncul karena cuaca buruk. Lalu pada 2015 tembus Rp 1 juta per kilogramnya. Namun pada 2018 harga turun hanya di kisaran Rp 750 ribu per kilogram.

Nur Ahsan (35), petani tembakau Desa Losari, Kecamatan Tlogomulyo mengatakan, jika kualitas yang muncul sangat istimewa harga tembakau srintil bisa mencapai Rp 1 juta per kilogramnya. Tahun 2015 yang harganya dibeli pabrikan sampai Rp 1 juta dan di kalangan bakul ada yang tembus sampai Rp 1,5 juta perkilogramnya.

Menurutnya, ada beberapa sebab yang membuat srintil harganya bisa anjlok, yakni faktor alam di mana pada saat masa tanam khususnya di wilayah Sumbing kurang hujan, sehingga berdampak kurang bagus pada pertumbuhan dan kualitas ketika pada saat panen.

Kedua, belum diterapkannya putusan pemerintah baik UU Pertembakauan ataupun Peraturan Menteri Perdagangan berkaitan regulasi. Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indoneia (APTI) Agus Parmuji mengeluhkan, saat ini kaum tani sedang dibuat gusar oleh pemerintah, lantaran akan menaikan cukai sebesar 23 persen, dampaknya daya beli bisa turun sehingga petani menjadi terpuruk.

Jika sudah demikian, apakah srintil akan tetap sebagai primadona. Agus mengatakan, seperti akan menjadi sebuah keniscayaan petani bisa berdaulat menjadi tuan di negerinya sendiri jika terus dikebiri. (Raditia Yoni Ariya-64)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar