Inklusi Keuangan 75 Persen Lebih

JAKARTA- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia saat ini sudah 75% lebih. Klaim itu disampaikan oleh Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara.

Menurut dia, data inklusi keuangan tersebut berasal dari survei terbaru yang dilakukan oleh otoritas “Bulan Oktober ditetapkan oleh OJK sebagai Bulan Inklusi Keuangan. Ada beberapa alasan kami ingin mendorong tingkat inklusi, akses keuangan masyarakat tetap meningkat, dan pekan menjadi puncak bulan inklusi keuangan. Kami juga bersinergi dengan lembaga jasa keuangan dan Bank Indonesia (BI) menggelar Finexpo,” ujar Tirta dalam Konferensi Pers Finexpo dan Sundown Run, kemarin.

OJK sejak 2013 rutin menggelar survei nasional literasi dan inklusi keuangan. Survei dilakukan setiap tiga tahun. Saat survei dilakukan kali pertama pada 2013, tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat berturut-turut sebesar 21,84% dan 59,74%. Kemudian, pada survei 2016 nilai literasi dan inklusi keuangan meningkat masing-masing 29,66% dan 67,82%.

Tahun ini, OJK menargetkan tingkat literasi keuangan masyarakat mencapai 35%, sedangkan inklusi menyentuh 75%. Menurut Tirta, dalam waktu dekat OJK akan merilis hasil survei terkini seputar inklusi dan literasi keuangan.

Dari hasil kajian data sementara, diketahui tingkat inklusi keuangan sudah naik melebihi target yang tercantum dalam Perpres Strategi Nasional Perlindungan Konsumen Nomor 50 Tahun 2017.

“Saya tidak tahu berapa lama (tingkat literasi mengejar inklusi keuangan). Tapi hasil survei terbaru tingkat literasi naiknya bisa jauh lebih dari target. Kalau inklusi kan karena sudah tinggi, mau naik tinggi sekali agak sulit. Literasi masih bisa didorong lagi, kami akan dorong terus,” tandas dia.(bn-18)