Awan Panas Diprediksi Masih Akan Terjadi

SM/@BPPTKG, istimewa : AWAN PANAS : Awan panas letusan Gunung Merapi dengan tinggi kolom 3 kilometer dari puncak terlihat dari Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang, Senin (14/11). Snapshot letusan Gunung Merapi. (55)
SM/@BPPTKG, istimewa : AWAN PANAS : Awan panas letusan Gunung Merapi dengan tinggi kolom 3 kilometer dari puncak terlihat dari Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang, Senin (14/11). Snapshot letusan Gunung Merapi. (55)

SLEMAN - Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas letusan pada Senin (14/10) pukul 16.31. Kejadian ini mengakibatkan hujan abu yang mengguyur sebagian wilayah Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Masyarakat diimbau untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik itu. ”Hujan abu terpantau di sektor barat Merapi, seputaran daerah Srumbung,” kata petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi, Heru Suprawoko saat dikonfirmasi Suara Merdeka, kemarin.

Hasil rekaman alat seismogram menyebutkan, awan panas tersebut berlangsung selama durasi 270 detik, dan amplitudo 75 mm. Kolom yang terbentuk terpantau setinggi 3.000 meter dari puncak. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan mengatakan, tidak ada laporan hujan abu terjadi di wilayah Sleman. ”Kepuharjo, Kaliurang, Glagaharjo, dan seputaran Turi serta Tempel aman, negatif hujan abu,” ujarnya. Berdasar laporan yang dia terima, hujan abu terjadi di sisi barat laut dan barat daya lereng Merapi yakni wilayah Kabupaten Magelang. Dari catatan, terhitung sejak tanggal 29 Januari 2019 hingga akhir September lalu, Merapi sudah 108 kali memuntahkan lontaran awan panas.

Pada 22 September 2019, Merapi untuk kali pertama mengeluarkan awan panas letusan sejak statusnya ditingkatkan menjadi Waspada per 21 Mei 2018. Peristiwa awan panas letusan pada Minggu (14/10) adalah kali kedua. Sebelumnya, Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Agus Budi Santoso menjelaskan, awan panas letusan disebabkan pendobrakan kubah dari dalam akibat tekanan gas. Hal ini berbeda dari awan panas guguran yang disebabkan runtuhnya material kubah lava akibat gravitasi. ”Diukur dari adanya suplai magma, awan panas guguran maupun letusan diprediksi masih akan terjadi,” ungkapnya.

Hingga kini, Merapi dinyatakan masih dalam status Waspada. Rekomendasi jarak bahaya tetap sama yakni 3 kilometer dari puncak. Di luar radius itu, masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa.

Sempat Panik

Sementara itu, sejumlah warga Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali Jawa Tengah, sempat panik keluar rumah setelah mendengar suara gemuruh dari Gunung Merapi, kemarin.

Sejumlah warga di Desa Jrakah bahkan sempat berlarian keluar rumah setelah mendengar suara dentuman sebanyak dua kali sekitar pukul 16.30. Kepala Desa Jrakah Tumar mengungkapkan, warga di desanya langsung keluar rumah setelah mendengar suara dentuman dan melihat ada kepulan asap putih ke atas. ”Asap dari puncak Merapi itu, meluncur ke atas sekitar 30 menit setelah dua kali mengeluarkan suara gemuruh,” kata Tumar.

Namun, kata dia, kondisi warga masih aman karena arah asap yang keluar dari puncak Merapi tak mengarah ke desanya.

Dia lantas mengimbau warganya untuk tetap waspada dan memperhatikan atau mengikuti petunjuk dari pemerintah desa setempat terkait perkembangan Merapi. Perni (33) warga Jrakah Selo Boyolali mengatakan dia mendengar suara dentuman sebanyak dua kali dan setelah berlari ke luar rumah terlihat di puncak Merapi keluar asap tebal ke atas hingga ribuan meter. Namun, warga agak lega setelah asap tak mengarah ke tinggalnya sehingga mereka kembali tenang. Meski begitu, mereka tetap waspada mengikuti perkembangan terkini terkait Merapi.(J1,ant-56)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar