PITUTUR

Napakake Anak Putu

NAPAKAKE (dari kata tapa, menyendiri menjauhi hiruk pikuknya kehidupan dunia dengan menahan hawa nafsu makan, minum, berhubungan suami istri dan sebagainya untuk.... ) Jadi maksudnya adalah melakukan tirakat atau riyalat (riyadloh) demi kebahagiaan anak cucu. Para sesepuh dulu memang membiasakan diri dengan ”laku” seperti itu.

Dengan bertapa akan diperoleh pikir yang wening (bening/ khusyuk) sehingga bisa fokus dan berkonsentrasi menghadap Tuhan untuk memanjatkan berbagai permohonan, khususnya untuk anakcucu agar kehidupan mereka dipenuhi ketenteraman dan kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan.

Meskipun ”laku”nya itu tidak diberitahukan kepada anak-cucu, tetapi mereka tahu bahwa kehidupan yang mereka rasakan dan mereka nikmati itu tidak lepas dari ''laku'' atau ”derita” dari para sesepuh. Sebagai balasan mereka benarbenar berbakti kepada para sesepuhnya itu.

Apapun yang diinginkan oleh para sesepuh mereka lakukan, bahkan ada ”pangerten” (pengertian/tahu diri) apa yang harus mereka lakukan, meskipun tanpa diminta oleh para sesepuh. Ketika ajakan untuk berpuasa sampai kepada mereka, maka banyak dari mereka yang mengganti tapanya dengan berpuasa.

Ada puasa Dawud, puasa 40 hari, puasa ngebleng, puasa mutih dan berbagai puasa lain. Niat mereka berpuasa itu selain untuk mereka sendiri juga untuk anak-cucu. Di antara wujud tirakat para sesepuh itu adalah tekad mereka untuk memerdekakan bangsa kita ini dengan perjuangan kemerdekaan sejak zaman penjajahan.

Kemudian ada Boedi Otomo, Sumpah Pemuda, kemudian puasa Ramadan yang pada hari ke sembilan tahun 1364 kemerdekaan Indonesia dikaruniakan kepada kita. Kemerdekaan itu adalah kenikmatan tertinggi yang Tuhan berikan kepada kita. Lihat bagaimana mereka memiliki ”pangerten” sehingga kemerdekaan itu tidak diklaim oleh bangsa ini sebagai hasil usaha dan keringat mereka semata.

Mereka sangat tahu diri sehingga mengakui bahwa kemerdekaan itu adalah ”atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorongkan oleh keinginan luhur''. Keinginan luhur itu adalah laku para sesepuh para pejuang kemerdekaan itu. Itulah salah satu bukti sayangnya para sesepuh kepada penerusnya.

Masihkah generasi penerus kita pangerten terhadap laku kita untuk mereka? Mungkin pertanyaan itu juga bisa ditujukan kepada kita, adakah kita pangerten terhadap laku/riyalat/riyadhoh orangtua kita ? Masih adakah laku kita demi masa depan generasi penerus ataukah kita akan bermasa bodoh saja ? Mari kita baca S. 66 At Tahrim ayat 6 yang artinya :” Wahai orang-orang yang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Abdullah bin Umar radhiallahu ’anhuma berkata : ”Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123). (Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah-23)


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar